
FLASHBACK
Dua orang gadis kecil, sedang belajar di dalam kamar, mereka berdua terlihat serius mengerjakan tugas dari sekolah. Sudah dua malam Mira kecil menginap di rumah Barno.
Barno datang membawakan untuk mereka dua cangkir coklat panas. Ia begitu bahagia melihat kekompakan dua gadis tersebut, anaknya dan Mira.
"Akhirnya selesai juga Mira," ucap Anggi senang dan dibalas dengan senyuman oleh Mira.
"Hebat, kalian begitu semangat mengerjakan tugas. Ini, coklat panas. Minumlah! Ini akan membuat kalian semakin pintar," kata Barno dan memberikan mereka masing-masing satu cangkir coklat panas.
"Ayah, minum ini bisa membuat kami gemuk," keluh Anggi.
"Terima kasih Ayah, aku akan meminumnya," ucap Mira tanpa sadar dengan ekspresi datar.
Barno dan Anggi terkejut, mereka tidak menyangka kalau Mira akan memanggil Barno dengan sebutan Ayah.
Menyadari dengan apa yang telah diucapkannya, Mira langsung meminta maaf, dan menutup mulutnya dengan tangan. Dari raut wajah Barno dan Anggi, gadis kecil itu menyimpulkan kalau mereka tidak menyukai jika dirinya memanggil ayah kepada Barno.
Tapi tidak sebenarnya bagi Barno. Pria itu merasa bahagia, dengan pengakuan tersebut, ia senang memiliki dua putri cantik, lucu dan menggemaskan, ini adalah sebuah anugrah baginya. Barno pun mengelus kepala Mira.
"Tidak perlu minta maaf, Aku sudah menganggap kamu seperti putriku sendiri. Jika kamu ingin memanggilku ayah, tidak apa-apa, panggil saja." Barno tersenyum.
Begitu juga dengan Anggi, ia langsung memeluk Mira. "Aku sangat bahagia, aku sangat senang. Sekarang aku punya kakak!"
Ini sebuah kejutan besar buat Mira, ia tidak menyangka akan mendapat perlakuan yang baik seperti itu.
FLASHBACK END
....
....
....
....
....
__ADS_1
"Bukankah itu sangat indah … cantik?" tanya Barno melihat taman kecil buatan tangan Anggi.
"Eh … Iya. Se-k-si!" sahut Mira yang terus memperhatikan tubuh Barno.
"Apa!" seru Baro bingung karena baru kali ini ada orang yang mengatakan, kalau taman bunga terlihat se-k-si.
Setelah melihat tatapan Mira tertuju ke tubuhnya, Barno pun menyadari perkataan Mira barusan, lalu menjentikkan jarinya di depan wajah gadis tersebut
"Eh… itu. Tidak apa-apa."
"Aku berbicara tentang taman dan bunga." Barno kembali menoleh ke langit, menatap bulan dan bintang.
"Iya, aku tau, Jika melihat taman dan bunga, aku teringat dengan komik Naruto. Itu komik yang sangat bagus."
Barno kembali menghisap rokoknya. "Aku juga berpikir seperti itu. Kamu sangat suka baca komik, ya?" tanya Barno tidak menyadari kalau perkataan Mira sudah ngelantur.
Taman dan bunga. Entah apa hubungannya dengan komik Naruto.
Akan tetapi, dari ngelanturnya jawaban Mira, obrolan mereka pun berlanjut membahas komik Naruto. Seorang ninja yatim piatu yang terus mencari pengakuan dari lingkungan atas jati dirinya. Perjalanan yang begitu pahit hingga akhirnya memiliki kekuatan besar guna melawan musuh musuhnya.
"Ahhhh…." Mira merenggangkan tangannya, ia memandang Barno sambil berkata, "baiklah! Aku sudah melihat bulannya dan juga mengerti dengan kekuatan Orochimaru, sang pemilik kuchiyose (jurus pemanggil) ular. Oke ular, cepatlah membesar. Hahahahahaha…..!" Mira menepuk bahu pamannya itu.
"Hahahahaha…. Serius paman nggak punya ular? Terus yang di depan itu apa!" Mira terbahak-bahak.
"Hais…. Anak ini." Barno geram dengan kepala tertunduk.
"Sudahlah Paman, nggak usah malu. Kemarin itu aku sudah melihat ular paman. Sangat besar!" celoteh Mira tanpa malu.
"Ya Tuhan. Kemana Miraku yang polos dan naif itu pergi," batin Barno dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
"Kamu kenapa Paman?" tanya Mira pura-pura tidak tau, kalau sebenarnya Barno sedang menahan rasa malu.
Barno kembali menghadap ke arah taman, lalu menundukkan kepalanya di atas meja. "Aku benar-benar minta maaf atas kejadian kemarin. Tapi tolong, hentikan candaan vul-garmu itu."
"Hm…. Baiklah!" Mira menopang dagu dengan menyilangkan tangan di atas meja.
"Terima kasih! Saat kamu kecil, kamu terlihat lucu dan baik, bahkan memanggilku Ayah. Tapi…."
__ADS_1
PALK
"Itu semua gara-gara kamu, Paman. Lagian aku juga waktu itu masih bocil!" potong Mira seraya memukul bahu Barno.
"Hei, apa kamu bilang? Kenapa jadi aku salah?" sentak Barno.
"Iya lah. Pokoknya semua salah Paman!" Mira semakin nyolot.
"Hmm.. anak ini!"
Di pintu belakang rumah, Anggi melihat pertengkaran mereka, dan hanya bisa menarik napas. Pemandangan itu, sudah menjadi hal lumrah baginya. Pertengkaran kecil antara ayahnya dam Mira, sudah menjadi tontonannya sehari-hari.
"Kenapa lagi orang ini, apa mereka nggak mikirin tetangga? Hmmmm!" batin Anggi, dan berjalan menghampiri mereka dengan secangkir kopi untuk Ayahnya.
"Hei, kenapa kalian begitu berisik, bagaimana kalau ada tetangga yang terganggu, mereka bakalan marah sama kita," omel Anggi kepada Ayahnya dan juga Mira.
"Iya!" sahut Barno
"Terganggu! Kan, tetangganya aku!" seru Mira tanpa beban.
"Masuk semua! ini sudah malam, waktunya tidur. Ayah juga, ngopinya di dalam aja." Anggi berkacak pinggang, layaknya seorang Ibu yang sedang memarahi anak-anaknya.
"Kamu duluan saja, ayah mau merokok lagi," jawab Barno
"Iya, kamu duluan aja tidur, aku juga lagi mau di sini," sambung Mira.
Anggi menatap mereka dengan intens. "Siapa yang akan percaya, jika mereka berdua ini tidak sedarah?" batinnya, ia pun masuk kedalam rumah meninggalkan mereka.
Malam semakin larut, Barno dan Mira terus bercanda mulai dari hal biasa, sampai ke hal vul--gar. Tentu saja candaan vul--gar datangnya dari Mira. Hingga akhirnya rasa kantuk menghampiri mereka, dan memutuskan untuk istirahat.
®®®®®
Terus dukung ya cerita ini.
.
.
__ADS_1
.