
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Suara dering ponsel Anggi berbunyi, raut kebahagiaan terpancar di wajahnya setelah melihat kalau Jo yang menelpon, Ia langsung begitu bersemangat.
"Tapi kamu harus belajar juga mengendalikan perasaanmu," ucap Mira.
"Halo, Bang Jo!" jawab Anggi, lalu melambaikan tangannya kepada Mira, sebagai tanda agar sepupunya itu segera meninggalkan kamar, agar ia bisa berbicara kepada Jo dengan leluasa tanpa malu kepada Mira.
Mira mendengus kesal karena diusir, tapi ia tetap keluar dan menutup pintu kamar. "Hmmm … dasar bucin!" umpat Mira kesal.
"Apa yang terjadi?"
"Eh, Paman!"
Betapa kagetnya Mira melihat kemunculan Barno dengan wajah lesu. Tidak seharusnya wajah Barno seperti itu, mengingat sang Paman baru saja bertemu dengan dengan pujaan hati setelah seminggu lebih.
"Paman, kenapa wajahmu jadi kuyu kayak gitu? Apa yang terjadi? Apa Paman baru saja bertengkar dengan ibu?" tanya Mira.
__ADS_1
"Nggak, akhir-akhir ini aku hanya merasa lelah saja," jawab Barno, lalu berjalan menuju kamarnya.
"Kenapa bisa begitu? Katakan padaku yang sebenarnya?" tanya Mira lagi dengan ekspresi aneh.
"Ikut aku, ada yang mau aku bicarakan sama kamu," ajak Barno.
"Apa!" seru Mira dan mengikutinya dari belakang menuju kamar Barno.
Ketika mereka sudah berada di di dalam kamar, segara Barno mengunci pintu dan menyergap tubuh Mira kedalam pelukannya. Pan—- tatnya yang semok menjadi sasaran empuk tangan Baro, dan juga bibirnya langsung dilumat dengan kasar. Semuanya Mira terima dengan senang hati karena sesungguhnya, apa yang dilakukan Barno termasuk harapannya juga.
Akan tetapi, sesaat kemudian Mira menjadi termenung. Tidak pernah pamannya itu lebih dahulu berinisiatif melakukan cumb—uan pada dirinya, tetapi kali ini terasa berbeda.
"Paman, apa yang terjadi?" tanya Mira kemudian.
Barno melepaskan pelukannya di tubuh Mira. Matanya menatap dalam ke bola mata gadis itu, ingin mengungkapkan perasaannya yang sesungguhnya, tapi Barno ragu karena waktunya belum tepat.
Walau Barno sudah menceritakan kepada Tiara tentang semua perasaannya kepada Mira, dan Tiara sudah memberi restu, hal itu bukan menjadi sebuah alasan untuknya bisa menc—umbu gadis pujaannya itu. Barno menginjaknya di malam pengantin mereka.
__ADS_1
Di sebelah rumah Barno. Tiara yang sedang menyeduh kopi, duduk dengan tatapan kosong. Pengakuan Barno membuatnya sangat kaget, tidak menyangka pria itu telah mencintai anak gadi satu-satunya itu.
Walau dada terasa sesak, tapi Tiara berpikir ulang. Mungkin ini yang terbaik untuk anaknya setelah kematiannya. Seorang suami mungkin lebih baik daripada ayah tiri. Apalagi dia percaya kalau Barno akan mampu membahagiakan Mira. Pria itu sudah lama ia kenal, dan dia tau betul kepribadian dan watak Barno. Terlepas dari apa yang pernah mereka lakukan dimasa lalu, semua itu terjadi bukan karena cinta, jadi Tiara berpikir tidak ada salahnya untuk membiarkan Barno dan Mira menjadi pasangan.
"Hmmmmm!"
Tiara menghela napas panjang dan kemudian tersenyum lebar. Ia mengambil ponsel, dan memeriksa beberapa pesan masuk yang belum sempat ia baca. Ketika melihat sebuah pesan yang berada di deretan bawah karena tertimpa dengan chat baru. Tiara mengerutkan kening, pesan itu dari Mira.
Â
Di sisi lain, Anggi yang sedang menelepon dengan Jo. Walau obrolan mereka biasa-biasa saja. Namun bir—-ahi Anggi muncul karena masih terbayang dengan perse–tubu—han yang ia lakukan dengan pemuda itu. Sambil mengobrol dengan Jo, Anggi sudah melepaskan celananya, suara Jo dari seberang sana, menjadi bahan fantasi tersendiri baginya.
"Apa kamu kuliah besok?" tanya Anggi menahan des—ahan karena tangannya di bawah sana, sudah mulai bergerak memainkan klito—ris-nya.
Sekuat tenaga ia terus berusaha untuk tidak mend–esah ketika berbicara dengan Jo. Ia tidak ingin membuat pemuda itu sampai curiga kalau dirinya sendang ma—ns—- turbasi.Â
Anggii kemudian merubah posisinya awalnya yang berbaring telentang menjadi posisi men–ung ging, dengan begitu ia merasa lebih leluasa mempermainkan klitor—-is nya sambil tetap menelpon dengan Jo.
__ADS_1
"Ah, kampret! Kenapa aku selalu memikirkan batangnya yang besar, kalau seperti ini bagaimana aku bisa tahan lagi."