
BHUKKK….
"AGHHHHH"
Jatuh dari tempat tidur membuat Mira menjerit kesakitan, ia mengelus punggungnya dan kepala bagian belakang karena terantuk ke lantai. Sesat kemudian ia pun berdiri dan termenung sejenak, ia ingat betul kalau tangan dan kakinya sudah diikat oleh Barno. Dengan kejadian ini, Mira pun sadar kalau Pamannya itu sudah melepaskan ikatan ketika dia sudah tertidur.
Bukan hanya itu saja, Mira juga menyadari kalau dirinya sekarang sudah berada di dalam kamar Anggi.
"Paman sialan, dia sudah curang menggendongku di saat aku sedang tertidur,"
Segera Mira mengganti pakaian dengan kaos oblong, lalu keluar menuju kamar Barno. Namun, kamar itu terkunci dari dalam, Mira pun menuju ruang tengah dan duduk di sofa untuk menyalakan tv. Ia mencari saluran yang menyiarkan acara lagu. Setelah mendapatkan siaran yang ia cari, Mira kembali masuk kedalam kamarnya untuk mengambil ponsel.
Jam sudah menunjukkan pukul 6:13 WIB. Ia mencoba menelpon Anggii sambil berjalan keluar dari kamar menuju ruang tengah, tapi sampai dua kali panggilan, gadis itu tak kunjung juga menjawab.
"Apa kamu sedang menghubungi Anggi? Gimana kabarnya? Apa dia baik-baik saja?" tanya Barno yang tiba-tiba saja sudah berdiri di depan kamar Mira dengan mengenakan celana Boxer serta atasan kaos tenktop pria.
"Iya, begitulah!" ucap Mira dengan senyum terpaksa. Ia berbohong agar pamannya itu tidak khawatir kepada Anggi
Sebuah lagu terdengar dari tv yang dinyalakan Mira tadi. Lagu dari sebuah Band ternama.
Jangan sembunyi
Ku mohon padamu jangan sembunyi
Sembunyi dari apa yang terjadi
Tak seharusnya hatimu kau kunci
Bertanya cobalah bertanya pada semua
Di sini ku coba untuk bertahan
Ungkapkan semua yang ku rasakan
Kau acuhkan aku
__ADS_1
Kau diamkan aku
Kau tinggalkan aku
Hapuskan tentang dia
Ku ingin ku lupakannya
Jangan sembunyi
Ku mohon padamu jangan sembunyi
Sembunyi dari apa yang terjadi
Tak seharusnya hatimu kau kunci
Hapuskan tentang dia
Hapuskan memoriku tentangnya
Hilangkanlah ingatanku jika itu tentang dia
Ku ingin ku lupakannya
Hapuskan tentang dia
Hapuskan memoriku tentangnya
Hilangkanlah ingatanku jika itu tentang dia
Ku ingin ku lupakannya
Hapuskan tentang dia
Ku ingin ku lupakannya
__ADS_1
Kau acuhkan aku
Kau diamkan aku
Kau tinggalkan aku
"Itu lagu kesukaan ku" ucap Barno tersenyum dan memejamkan mata untuk menikmati alunan lagu tersebut.
Alunan lagu begitu ia resapi setiap syair yang terlantun, ada sebuah kenangan bersama sang almarhum istri terlintas dalam ingatannya. Memory yang penuh kebahagiaan.
"Paman suka juga dengan lagu ini?" tanya Mira dan dibalas Barnoo dengan anggukan.
"Kalau begitu, ayo kita nonton sebentar," ajak Mira menarik tangan Barno.
Tanpa disadari, Mira melupakan perlakuan Barno tadi malam yang telah mengikatnya, dan meninggalkan dirinya begitu saja. Padahal pagi ini Mira berniat untuk menjahili pamannya itu habis-habisan. Akan tetapi, melihat raut wajah pamannya yang terlihat bahagia, Mira tidak ingin mengganggu momentum tersebut.
"Ide bagus. Yuk, sebelum mandi kita nonton dulu," sahut Barno berjalan di samping Mira menuju ruang tengah.
Sejenak mata Mira tertuju ke arah selang–kangan Barno, ia kembali berpikiran aneh ketika melihat tonjolan besar di celana pamannya itu. Rasa penasaran pun timbul bergejolak dalam benaknya.
"Suaranya sangat bagus ya, Paman?" tanya Mira basa-basi.
Akan tetapi, Barno tidak menjawab pertanyaan Mira, karena ia langsung merasa risih ketika Mira langsung duduk di pangkuannya menghadap ke televisi, dan merasakan vag hangat yang menempel di pahanya, apalagi memang Mira hanya mengenakan celana pendek tipis
"Jangan bersandar, aku sangat berkeringat." cegah Barno ketika Mira hendak bersandar ke tubuhnya
Namun, Mira tidak peduli dan tetap bersandar ke tubuh Barno dengan nyaman, Beberapa saat kemudian, Mira meraih tangan pria tersebut dan menuntun agar tangan itu meremas pay—uda—-ranya.
"Jangan lagi, Mira. Ini sudah pagi. Lebih baik aku bikin sarapan dulu. Tentunya kamu sangat lapar, kan?" ucap Barno mencoba untuk menghindar.
"Please Paman! Bekerja samalah. Rilekskan tanganmu. Aku hanya ingin Paman menyentuhku dengan suasana seperti ini, biarkan kita lebih romantis lagi hari ini!" rayu Mira.
"Jangan Mira. Kalau kamu tetap membandel, aku akan ingkar janji untuk menjadi pacarmu sebelum Tiara pulang," ancam Barno
"Tapi Paman. Ini juga termasuk salah satu acara orang pacaran, peluk, cium, raba." Mira menoleh kebelakang dan berusaha men-jilat bibir Barno, tapi dengan sigap pria itu mengelak.
__ADS_1
"Peluk cium bisa aku maklumi, tapi kalau raba … jangan lagi. Kau harus paham, aku masih normal, dan aku tidak ingin merusak kesucian Kamu. Jadi, turunlah dari pangkuanku."
Walau mendengus kesal, Mira menuruti untuk turun dari pangkuan Barno. Ia tidak mau kalau pamannya itu sampai kesal dan mengingkari janji yang telah di ucapkan pamannya itu, yaitu menjadi pacar selama ibunya belum pulang.