I Love You Paman

I Love You Paman
BAB 27


__ADS_3

jangan lupa dukungannya, like, komentar, fav, bunga atau kopi, dan juga 🌟🌟🌟🌟🌟.


semoga kita sehat selalu dan di permudahkan segala urusan.


®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®


Tamparan yang begitu keras melayang ke pipi Mira, tapi beruntung Mira menggerakkan kepalanya searah dengan tangan Barno yang melayang ke arahnya, sehingga tamparan itu tidak terlalu sakit. Namun, ia tidak menyangka kalau pamannya tega mengangkat tangan kepada dirinya. 


Tidak bicara sepatah katapun, Mira langsung balik badan dan pergi meninggalkannya. Pintu begitu keras ia tutup, menunjukkan betapa Mira sangat kesal dengan pamannya itu.


"Ayah, apa yang kau lakukan? Kenapa Ayah harus menamparnya?" bentak Anggi marah.


Mendengus, lalu mengejar Mira. Namun, Anggi melihat Mira sudah masuk kedalam rumahnya. Sejenak berpikir, dan kemudian mengurungkan niat untuk menyusul gadis itu, memutuskan untuk membiarkan gadis itu untuk menenangkan diri sejenak. Anggi pun kembali masuk kedalam rumahnya.


Barno duduk menundukkan kepala, apa yang telah dilakukannya kepada Mira sangat ia sesali.


"Ayah kenapa, sih? Nggak pernah-pernahnya Ayah seperti itu kepada Mira, tapi sekarang kenapa Ayah begitu kasar. Apa Ayah tidak paham dengan sikapnya? Dia berbuat seperti itu cuman nyari perhatian. Ayah tau sendiri bagaimana kehidupannya sewaktu kecil sampai sekarang." Anggi berkacak pinggang memarahi Ayahnya.


Barno tidak menanggapinya, ia lebih memilih diam untuk menghindar dari kekecauan yang ada. Tiba-tiba Tiara masuk, berjalan menghampiri mereka, tidak terlihat di wajah wanita itu raut kemarahan.


"Ada apa dengan Mira? Kenapa dia terlihat marah-marah?" tanya Tiara lembut seraya duduk di samping Barno.


"Aku memarahinya, dia sudah memasukkan lidahnya kedalam mulutku," jawab Barno lesu.


Tiara hanya bisa menghela napas mendengar jawaban Barno, ia tidak bisa berkomentar apa-apa lagi, karena semua penyebabnya berasal dari Mira.


"Sebenarnya aku juga salah, Karena sudah terlalu kasar. Aku mau menemuinya dulu." Barno bangkit dari tempat duduknya.


Baru dua langkah, Anggi memberhentikan Barno.


"Ayah mau ngapain? Di sini aja, biar aku yang menemui Mira. Nanti kalian malah ribut lagi," cegah Anggi dan kemudian ia pergi ke sebelah rumah untuk menemui Mira.


Sepeninggal Anggi, suasana antara Tiara dan Barno terlihat canggung. Pria itu merasa tidak enak hati karena telah bersikap kasar kepada Mira. Namun, Tiara menyadari kecangungan tersebut. Ia tersenyum lembut dan memegang paha Barno.


"Aku tau, kau jadi merasa canggung kepadaku gara-gara kejadian ini. Terus terang, aku tidak merasa tersinggung. Hal wajar jika kau memarahinya jika dia berbuat salah, bagaimana pun dia sudah menjadi anakmu. Dia lebih banyak hidup di sampingmu dari pada denganku beberapa tahun ini," tutur Tiara panjang lebar.


"Makasih Tia, tapi bagaimanapun juga aku seharusnya tidak bersikap kasar kepadanya." ujar Barno penuh penyesalan.

__ADS_1


"Sudah, sudah! Nggak usah dipikirin. Nanti dia bakalan baikan juga, lagian Anggi udah ke sebelah untuk menenangkannya. Kalau gitu aku pulang dulu, kau istirahat aja dengan tenang, dan jangan lupa besok datang ke rumah untuk membahas novel yang sudah kau buat."


Didalam rumah Tiara, Anggi membuka pintu kamar Mira. Ia melihat gadis tersebut tengah berbaring telungkup, menebak kalau ia sedang menangis.


"Mira, apa kau sudah tidur?" Anggi masuk dan menutup pintu kamar dengan pelan.


Perlahan melangkah mendekati tempat tidur, lalu naik ke atas ranjang dan berbaring. Anggi memeluk Mira dan mengelus kepalanya.


"Sudahlah, jangan pura-pura tidur lagi, aku tau kalau kamu itu belum tidur," ucap Anggi lembut.


Berbalik menghadap Anggi dan kemudian memeluknya, kaki kanannya juga merangkul tubuh Anggi bagian bawah. Sejenak mereka saling tatap.


"Kenapa kau lakukan itu?" tanya Anggi.


"Apa."


"Jangan kau kira aku tidak melihatnya." Anggi mengelus pipi Mira.


"Itu kan hal wajar, namanya juga keluarga," kilah Mira dan meletakkan tangannya di salah-satu gundukan dada Anggi.


"Cara kerja! Hmmm, udah kayak nyari duit aja.," ujar Mira memencet gundukan Anggi, membuat gadis itu menjerit.


"Auw! Sakit." jerit Anggi.


"Apa menurutmu seorang keluarga tidak boleh melakukan ci-u-man seperti itu?" tanya Mira lagi, seraya mengganti posisi tidurnya dengan telentang.


"Apa menurutmu setiap keluarga bisa melakukanya? Apa kamu tidak merasa aneh dengan itu?" Anggi balik bertanya.


"Jika Aku melakukannya denganmu, aku juga nggak merasa itu hal aneh," ujar Mira dan kembali berbaring menyamping menghadap Anggi.


"Oh ya. Coba aku lihat, apa kamu sanggup," tantang Anggi.


"Kau kira aku tidak sanggup melakukannya denganmu? Sini!" Mira meraih pipi Anggi dengan sebelah tangan.


Senyum tipis menghias bibirnya, lalu Mira menjulurkan lidah dan perlahan mendekati bibir Anggi yang melotot tidak percaya. Perlahan dan semakin lama, lidah Mira sudah hampir dekat menyentuh bibir Anggi, dan ketika hampir setengah senti lagi, ia langsung membuang wajahnya.


"kau benar-benar sudah gila." Anggi bergidik, lalu tetawa melihat ke sedengan Mira.

__ADS_1


"Lihat. Aku hampir melakukannya, kan?" Tawa Mira lepas.


"Tapi aku nggak berani, aku itu bukan wanita lesbonge!" Bibir Anggi manyun dengan wajah ketus.


"Yang bilang kau seperti itu siapa? Aku juga bukan wanita seperti itu, aku juga masih normal luar dan dalam. Itu hanya sebuah pertunjukkan kalau kita sebagai keluarga, tidak ada salahnya melakukan hal itu." Mira mengutarakan argumennya mengenai ci u man antar keluarga.


"Terserah kamu, dah. Tapi otakku masih menolak hal itu." ucap Anggi, dan dalam hati berkata. "Melihat sikapmu setahun terakhir ini, Apa kau benar-benar mengincar ayahku. Hmmm…."  


"Sudahlah! Jangan bahas itu lagi, sekarang kita baha tentang kami saja." Mira melingkar tangannya di leher Anggi.


"Hah, aku! Bahas apaan?" tanya Anggi dengan kening berkerut.


"Aku sudah mengatur penginapan untuk kamu dan Bang Jo. Pokoknya, kesempatan ini jangan kau sia-siakan, kau langsung saja menerkamnya. Kita sebagai wanita harus membuat sedikit terobosan baru agar bisa menggenggam pria yang kita cintai," tutur Mira.


"Terobosan baru apanya?" tanya Anggi bingung.


"Pekok, pura-pura nggak tau kamu. Padahal diantara kita berdua, kau cukup pengalaman."


Panjang lebar Mira mulai menjelaskan lebih rinci lagi kepada Anggi tentang rencananya. Anggi hanya diam dan fokus mendengarkan. Tersirat sebuah senyum kemenangan di wajah Anggi, ketika Mira selesai mejelaskan semuanya.


"Kamu mengerti, kan apa yang harus kau lakukan?"


"Siap, komandan!" Anggi memeluk Mira dengan bahagia.


"Ya udah, kalau gitu kita tidur," ajak Mira.


Mereka berdua mulai memejamkan mata sambil berhadapan dalam pelukan. Sejenak kejadian hari ini terlupakan begitu saja.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2