
&&&&&&&&&& &&&&&&&& &&&&&&&
"Apa yang menjadi milikku, tidak akan aku lepaskan lagi, aku juga tidak tau, apa remasan aku ini menyakiti Paman, karena aku memang tidak punya pengalaman dalam hal ini," ucapku dan terus mengocok Pen–nya.
"Kenapa kamu terus saja melakukannya. Hentikan, Mira!" pinta Paman.
"Tenanglah, Paman! Aku hanya melakukannya denganmu saja!"
"Cukup, Mira! Apa karena kamu tidak memiliki ayah, makanya kamu tidak bisa membedakan mana kasih sayang seorang ayah dan seorang pria." ucapnya mencoba untuk mempengaruhi ku, sambil berusaha memegang pen–nya untuk menghindari kocokan tanganku
"Masuk akal juga. Tapi Paman, aku tidak pernah memikirkannya selama enam tahun terakhir ini," kilahku dan menepis tangan Paman, agar aku bisa kembali mengocok pen—nya yang besar. "Apa Paman berpikir, kalau aku menganggapmu sebagai ayah?."
"Jadi, apa yang kamu pikirkan tentangku?" tanya Paman lagi.
"Paman hanyalah pria biasa bagiku yang telah merebut hatiku dari seluruh pria di dunia ini. Paman juga hanya pria yang menolak untuk menyerah kepada gadis muda seperti aku." ujarku, tidak ada sedikitpun kebohongan dalam ucapanku barusan.
Semua itu adalah kejujuran, karena memang aku tidak pernah menganggapnya lagi sebagai orang tua. Melainkan sebagai seorang lelaki.
"Aghh…. Sakit!" rintih Paman.
__ADS_1
"Menyerahlah Paman! Sekali ini saja, sebelum ibuku pulang," pintaku memelas.
Mata kami saling tatap.
"Berbaringlah di sampingku," pinta Paman sambil menepuk kasur.
Aku tidak tau apakah Paman menyerah kepada ku, atau ada yang ia rencanakan sehingga harus mengulur waktu, agar bisa mengelak dari remasanku di pen—-nya.
"Tapi, bagaimana dengan ini, Paman. Apa harus dibiarkan begitu saja, padahal itu sudah sangat besar sekali?" Mataku masih terus melihat pen Paman, merasa sayang jika melepaskan benda tersebut begitu saja.
"Biarkan saja. Nanti juga bakalan tidur sendiri," ucap Paman.
Paman membelai rambutku dengan lembut. "Maaf, aku tau ini sangat sulit bagimu."
"Tidak perlu minta Maaf. Aku tau kalau Paman juga menyukainya. Lagian, Ibu juga tidak akan tau. Apalagi jika melihat itu." tunjukku dengan lirikan mata ke pen-nya.
Aku tetap saja terus merayu, jangan sampai lengah dengan kecerdikannya untuk mengelak dariku. "Sepertinya punya Paman sedang membutuhkan bantuan. Sekarang Paman tidak usah terlalu banyak berpikir, hanya ada aku dan Paman sekarang ini!"
Pens Paman kembali kugenggam, kali ini aku melakukanya dengan lembut, seperti memegang sebuah benda yang sangat berharga.
__ADS_1
"Tidak akan ada seorangpun yang tau, apa yang akan kita lakukan sekarang, mulai detik ini, Paman akan menjadi pacarku sampai Ibu pulang," ujarku terus merayu lagi. Apapun ceritanya, kali ini tidak akan aku lepaskan lagi.
"Hmmm…!"
Paman mengerang, dan aku tidak tau erangan itu karena kenikmatan atau kesakitan, karena aku mulai melakukan pergerakan tangan naik turun, dan Paman terlihat membiarkan saja tanganku terus bergerak.
Mudah-mudahan dengan apa yang aku lakukan, membuatnya kehilangan akal. Aku melirik Paman, sepertinya ia sangat menikmati sentuhanku tersebut.
"Tunggu! ini tidak bisa terjadi, itu pasti akan menyakitimu," ujar Paman, dia terlihat kaget ketika aku mulai naik ke pangkuannya.
"Tidak apa-apa. Masukin saja, aku sudah sangat basah sejak tadi." ucapku sambil memejamkan mata, menikmati setiap sensasi yang muncul.
"Jangan Mira, atau aku tidak akan menuruti keinginanmu untuk menjadi pacarmu sampai Tiara pulang."
Kutatap mata Paman, terlihat dari matanya kalau apa yang diucapkannya barusan sangatlah serius. Tentu aku tidak ingin hal itu terjadi, dan mulai meringsuk turun dari atas tubuhnya.
"Tapi, Paman! Apa Paman bisa memberikanku kepuasan lagi seperti tadi?"
Aku berusaha membuat wajahku sedemikian imutnya, supaya paman mau memenuhi keinginanku yang cukup gula itu. Kulihat paman hanya diam setelah mendengar permintaanku itu.
__ADS_1
xxxxxxxxxx xxxxxxxx xxxxxxxx