I Love You Paman

I Love You Paman
BAB 86


__ADS_3

Melihat wajah kecewa Jo yang tidak menemukan tisu, Anggi menjadi tidak enak hati. Walau menurutnya perhatian yang ditunjukkan kepadanya  terlalu kecil, tapi itu telah membuatnya bahagia. Anggi pun memegang kedua pipi Jo, membuat pemuda itu kaget.


"A–apa?" tanya Jo gugup, karena wajahnya begitu dekat sampai napas Anggi terasa menyentuh bibirnya.


Diselimuti gelapnya malam, Anggi kemudian melingkarkan lengannya di leher Jo, lalu mencium bibir pemuda tersebut dengan cepat.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Jo sambil menyapu pandangannya ke sekeliling, takut kalau sampai ada orang yang melihat mereka berciuman.


Anggi hanya tertawa melihat Jo yang ketakutan. "Kenapa?"


"Nggak apa-apa sih. Cuman aku malu aja melakukannya di depan umum seperti ini, nanti ada orang yang lihat " ujar Jo.


"Kenapa mesti malu. Biarkan saja orang melihatnya. Anggap aja mereka tidak ada."


"Sudahlah, lebih baik kita pergi sekarang," ujar Jo dan naik ke atas motornya.


Setelah mesin motor dihidupkan, Anggi pun naik di boncengan dan memeluk pinggang Jo dengan erat. Mereka kemudian meninggalkan halte, membelah jalanan malam yang masih ramai dengan lalu-lalang kendaraan. Mereka mencari dan menciptakan sebuah kenangan untuk masa depan.


,💦💦💦💦💦💦💦💦💦

__ADS_1


"Apa kamu benar-benar ingin pergi?" tanya Tiara.


"Iya Ibu. Aku akan kuliah di luar kota. Aku juga sudah mendapatkan pekerjaan di sana," 


"Pekerjaan?" tanya Tiara mengerutkan kening.


"Iya. Beberapa minggu yang lalu aku menelpon Tantu Butet, sepupunya Paman Barno."


"Oh, iya iya! Ibu ingat dengan si Butet ibu. Bukannya dia sekarang tinggal ibu kota ikut suaminya?" Tiara langsung memotong ucapan Mira ketika menyebutkan nama sepupu Barno tersebut.


Mira dan Tiara sangat kenal dengan Butet, beberapa kali Ibu dan anak itu ikut saat Barno pulang kampung. Beberapa kali juga mereka bertemu dengan Butet.


"Kapan kamu akan berangkat?" tanya Tiara.


"Ibu menyetujui kepergianku?"


Tiara mengangguk sambil tersenyum, walau dalam hati ia sangat sedih. Namun, Tiara berpikir, kalau mungkin ini saatnya bagi Mira untuk memulai hidup mandiri.


"Tapi Ibu. Jangan kasih tau paman, kemana aku pergi. Aku hanya memberi taunya kalau aku mau kos sudah kota ini."

__ADS_1


"Hmmm!" Tiara hanya menggumam.


Teringat dengan pengakuan Barno beberapa saat yang lalu, Yang mengatakan kalau dirinya mencintai Mira, dan juga sebaliknya Mira juga mencintai dirinya. Tetapi sekarang, kenapa Mira harus menyembunyikan tempat tujuannya. Beberapa pertanyaan pun muncul dan mengganggu pikiran Tiara.


"Apa Ibu boleh tau alasannya?" tanya Tiara tidak ingin menebak keputusan anaknya itu.


"Maaf Ibu." Mira menggeleng sambil tersenyum.


Tiara hanya menghela nafas pelan, dan membalas senyuman Mira. Ia tidak ingin memaksa anaknya untuk menjawab pertanyaannya.


"Baiklah kalau kamu tidak ingin menjawabnya. Ibu hanya berharap kalau kamu sering-sering pulang untuk melihat ibumu ini. Ibu pasti akan sangat merindukanmu." Mata Tiara mulai berkaca-kaca.


Esok harinya setelah Mira selesai mempersiapkan segala keperluan untuk keberangkatannya. Gadis itu pun pergi menemui Barno untuk pamitan.


"Hai, Paman!" sapa Mira.


"Hai gadis cantik, selamat pagi," bala Barno yang sedang duduk di depan televisi ditemani secangkir kopi.


Barno tidak mengetahui kalau kedatangan Mira untuk pamitan pergi, ia hanya tau kalau Mira pindah ke kosan beberapa hari lagi.

__ADS_1


__ADS_2