I Love You Paman

I Love You Paman
BAB 63


__ADS_3

@@@@@@@@@@@@@


Dalam benak Anggi, kenangan yang dimaksudkan oleh Jo, pastilah tentang mantan terindahnya, sehingga membuat pria itu tidak tergoda sedikitpun dengan kemolekan tubuh yang ia punya.


"Orang tuaku meninggal secara tiba-tiba, dan aku harus bertanggung jawab untuk kedua adikku. Itu sebabnya aku harus mengendalikan diri, karena ku harus lebih konsentrasi lagi kepada keluarga dibandingkan hal lainnya. Jujur, aku sebenarnya tidak membencimu." tutur Jo menjelaskan kata-kata yang diucapkannya di awal tadi .


Anggi menanggapi ucapan Jo dengan senyuman, dan merasa malu sendiri dengan apa yang dipikirkannya tentang pemuda tersebut.


"Oh, ya! Kenapa kamu menyukaiku?" tanya Jo tiba-tiba, langsung pada intinya.


"A-apa yang Bang Jo bilang. Si-siapa yang suka sama Bang Jo!" 


Anggi langsung gelagapan karena perasaannya telah ditebak langsung, dan itu sangat mengena. Ia pun teringat awal-awal pertama ia mengenal Jo setelah kejadian kentut halte.


Waktu itu, masih tahun pertama mereka masuk kuliah. Di depan sebuah halte ketika hendak pulang ke rumah bersama Mira. Anggi Kembali melihat pemuda itu sedang melerai dua orang anak sekolah yang sedang berkelahi. Ia begitu terpesona melihat kebijaksanaan pemuda itu dalam melerai pertengkaran anak-anak tersebut. Anggi kemudian diam-diam semakin memperhatikan Jo dan semakin mengagumi pria tersebut.

__ADS_1


"Mau kemana?" tanya Anggi ketika Jo turun dari ranjang.


"Mau buka tirai. Kamar ini sangat gelap. Menurutku, ini sedikit menakutkan kalau tirai tertutup begini."


Keinginannya untuk membuka tirai jendela kaca, supaya cahaya rembulan bisa menerangi kamar tersebut, dan berharap Anggi tidak bisa tenang, dan tidak takut lagi dengan kegelapan.


"Jangan di buka!" pinta Anggi.


Jo tetap berjalan mendekati jendela, dan membuka tirai tersebut dengan menggeser. "Sedikit aja." Ia tersenyum, lalu melangkah ke meja rias untuk mengambil ponselnya, setelah itu naik lagi ke atas ranjang. "Ternyata sudah subuh."


"Kamu sedang ngapain?" tanya Anggi ketika melihat pemuda itu sibuk dengan ponselnya.


"Nulis," gumam Anggi, lalu kemudian bertanya, "nulis apa?"


"Novel," Jo menjawab singkat tanpa menoleh dari ponselnya.

__ADS_1


Anggi langsung menyandarkan kepalanya di bahu Jo untuk melihat apa yang ditulis pemuda itu.


"Jangan ganggu aku dulu," ujar Jo dan menjauhkan ponselnya dari pandangan Anggi


"Huff…! Pelit." Anggi cemberut.


"Bukan gitu, konsentrasiku gampang buyar. Apalagi ada beberapa persyaratan yang harus aku penuhi agar novelku bisa menghasilkan uang. Kan, lumayan kalau dapat, bisa buat tambahan untuk membayar uang sekolah adik-adikku," tutur Jo


"Bagaimana kalau kamu gabung dengan klub kami, di sana kamu juga bisa buat nyari penghasilan tambahan," ujar Anggi melirik Jo yang masih terus menulis.


Anggi kembali menjelaskan. "Hal yang terbaik yang bisa kamu lakukan adalah lulus dengan nilai terbaik. Coba perhatikan, situasi ekonomi saat ini sangatlah kompleks, tapi jangan khawatir. Selain dari penghasilan menulis, kamu juga bisa mendapatkan pekerjaan sampingan dan menghasilkan uang tanpa mengganggu studimu. Di klub kami dapat memberikan keuntungan yang lumayan, walaupun kamu bergabung dengan beberapa akomodasi tentunya. Apa kamu mau bergabung."


"Oke. Aku akan memikirkannya, tapi biarkan aku dulu menulis," ujar Jo yang tidak tertarik dengan apa yang dijelaskan oleh Anggi kepadanya..


"Baiklah!"

__ADS_1


Anggi cemberut, dan meringsuk masuk kedalam selimut. ia membalik tubuhnya untuk membelakangi Jo, dengan napas menedengus keras, supaya pria itu mendengar kalau dirinya sedang kesal, karena perkataannya tidak di respon dengan baik.


@@@@@@@@@@@@@@@


__ADS_2