
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Setelah Tiara pergi, Anggi pun kembali duduk di sofa sambil membaca sebuah tabloid. Sedangkan Mira yang sedari tadi diam di tempatnya berjalan menghampiri Barno, dan berusaha untuk tersenyum.
"Kenapa?" tanya Barno.
"Buatlah diri paman setampan mungkin," ucap Mira.
Mira kemudian merapikan rambut Barno yang berantakan. Walau ia bahagia dengan kepulangan ibunya, tapi ada kesedihan yang terpatri dalam hati, karena menyadari kalau dirinya akan kehilangan pria yang dicintainya.
"Berakhir sudah waktu yang telah ditentukan. Hmmm … Paman! Sepertinya aku harus belajar ikhlas mulai sekarang. Perjuanganku beberapa hari ini, ternyata tidak bisa merubah apa yang terjadi di antara kita. Tapi tidak apa-apa, kenangan indah bersamamu telah aku miliki." batinnya.
Barno terus menatap Mira, ia tau yang sedang dirasakan gadis itu sekarang, tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Karena memang sedari awal dia sudah menyampaikan kepada Mira, tentang perasaannya kepada Tiara, walau itu hanya kebohongan agar Mira menyerah untuk mendapatkan dirinya.
Sekelebat bayangan disaat saat terakhir adiknya sebelum meninggal, di dalam mobil ambulance menuju rumah sakit, ia berjanji untuk menjaga Mira, menyayangi dan membesarkannya layaknya anak nya sendiri, seperti halnya kepada Anggi.
"Ayo, tampan. Jangan lewatkan kesempatan kali ini. Ibu sudah menunggumu," ujar Mira tersenyum, walau sebenarnya hatinya terasa perih.
"Baru kali ini kamu bilang aku tampan."
__ADS_1
"Sudah, pergilah sana bantu ibuku! Jangan biarkan dia menunggu Paman terlalu lama," ujar Mira, lalu ia melirik Anggi.
Melihat Anggi yang sibuk membaca dengan posisi membelakangi mereka, Mira pun mengambil kesempatan dan dengan cepat mencium bibir Barno.
"Pergilah!" ujar Mira setelah selesai mencium bibir pamannya itu.
"Baik!"
Cukup lama Mira berdiri termenung di depan pintu setelah Barno keluar. Bayangan kemesraan antara ibunya dan Barno menari-nari dalam benaknya. Walau ia berusaha untuk tidak meyakini, tapi sangat sulit baginya untuk menepisnya, karena ia menyadari kenyataan yang ada, jika ibu dan sangat paman memang saling mencintai. Berbeda dengan dirinya yang bertepuk sebelah tangan. Hubungan yang berjalan cukup jauh, ternyata tidak jadi jaminan kalau cintanya terbalaskan.
"Hei, kamu ngapain termenung!" sapa Anggi menepuk bahu Mira.
"Eh, nggak ada," ujar Mira kaget.
"Ganti bajumu itu dulu, lalu tidur sana!" ujar Anggi lagi, heran melihat sikap Mira.
"Aghh … panasnya!" Tiara menghempaskan pinggulnya di sofa dan membuka dua kancing kemejanya bagian atas, sehingga memperlihatkan dua buntalan pasyu–dharanya yang seksi.
"Ini mau di letakkan di mana?" tanya Barno yang membawa dua kardus berukuran sedang.
__ADS_1
"Letakkan di situ saja, aku mau istirahat sebentar," ucap Tiara dan berbaring di sofa.
"Kamu sudah bekerja terlalu keras," Barno meletakkan kardus yang ia bawa, lalu menghampiri Tiara dan memijat kaki wanita tersebut. "Bagaimana, sudah merasa enakan?"
"Terimakasih!" Tiara tersenyum, kemudian ia memejamkan mata dan menikmati setiap pijatan tangan Barno.
Dengan telaten Baro memijat kaki Tiara dengan lembut, mulai dari betis hingga paha Semakin lama memijat apa yang dilakukan oleh Barno bukan lagi pijatan melainkan usapan lembut, apalagi ketika tangannya hampir menyentuh bagian vagi—-- Tiara, tangannya semakin lembut mengusap, bahkan sesekali ujung jarinya menyentuh bagian sensitif tersebut.
"Aghhhh…." des–ahan Tiara mulai terdengar.
"Apa yang kamu lakukan? Apa kamu begitu merindukanku, hingga kamu sudah tidak tahan lagi untuk tidak menyentuhnya?" ucap Tiara sembari melebarkan pahanya.
"Aku sudah cukup lama menahan rindu ini," ucap Barno sembari mengangkat rok Tiara hingga ke pinggang, lalu menarik celana dal—am wanita tersebut, sehingga vagi— Tiara yang berbulu halus terlihat begitu jelas.
Melihat pemandangan indah itu, Barno segera berdiri untuk melorotkan celananya, lalu kembali naik ke atas tubuh Tiara dan memeluk serta mencium bibirnya, dengan posisi seperti itu, peni—-ya secara otomatis menempel di bibir vag— Tiara, ia pun menggesekkan beberapa kali. Bukan itu saja, kedua pashyu—-dara wanita itu juga menjadi sasaran empuk.
"Aghhh…. Enaaaakk … oghh….!" des—ah Tiara yang memang sudah menantikan sentuhan Barno di setiap lekuk tubuhnya.
Beruntung daya tahan fisiknya masih normal setelah melakukan perawatan. Tiara pun ingin menikmati sentuhan penuh kasih sayang dari Barno. Waktu tidak banyak tersisa, apapun akan ia nikmati bersama Barno.
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️✌️✌️✌️✌️✌️✌️