
POV MIRA
Ketika waktu itu tiba. Aku benar-benar terpuruk dengan kematian Ibu, tapi aku beruntung masih memiliki Anggi dan Paman. Mereka terus menghiburku sampai aku menemukan diriku yang hilang.
Aku pun kembali ke kota tempat aku bekerja, setelah yakin kalau aku sudah baik-baik saja. Setahun lebih sudah berlalu semenjak kematian ibu, aku sudah lulus kuliah dengan nilai terbaik. Kehidupanku juga mapan. Dengan segala keberhasilan yang sudah kuraih, hingga saat ini aku masih sendirian, tidak ada pria yang bisa merubah perasaanku. Cintaku kepada Paman masih besar, sama seperti dulu
Treeett … threett…
Sebuah pesan masuk dari Anggi, menanyakan apakah aku sudah berangkat menuju rumahnya untuk melihat Arya, anaknya yang baru berumur tujuh bulan.
Hari ini aku kembali pulang, kebetulan aku mendapat cuti tahunan dari kantor. Aku sangat merindukan mereka, apalagi kepada Paman. Kali ini aku pulang dengan sebuah harapan yang dulu pernah ku pendam. Sesuatu yang pernah aku lepaskan karena keberadaan ibu.
Tapi setelah membuka kotak yang di berikan Ibu. Aku tau hubungan mereka telah berakhir, dari surat yang di tinggalkan Ibu, aku juga tau kalau paman sangat mencintaiku. Aku bahagua mendengarnya saat itu, tapi aku tidak ingin merajut hubungan itu sebelum keinginan Ibu tercapai, yaitu aku harus menjadi wanita yang mandiri dan mapan.
Ketika aku sampai di depan rumah Anggii, aku disambut oleh Bang Jo. mereka tinggal masih di rumahku, peninggalan Ibu.
"Hei Anggi, lihat siapa yang datang," ucap Bang Jo ketika aku masuk kedalam rumah.
Anggi yang sedang duduk menggendong bayinya, begitu senang melihat kedatanganku. Aku juga begitu bahagia melihat reaksinya itu. Ia langsung menghampiriku, dan kemudian kami saling peluk dan cium.
"Gendong dulu anak kita, sayang. Aku mau melepas rindu dengan Mira," ucap Anggi meminta Bang Jo untuk menggendong bayinya.
Setelah memberikan bayinya kepada Bang Jo, Anggi menarik tanganku untuk duduk. "Aku sangat merindukanmu," ucap Anggi dengan wajah cemberut dan mencubit lenganku. "Kenapa baru sekarang kamu datang?"
Aku tersenyum dan menggandeng lengannya, kepala kusandarkan di bahunya. "Aku juga kangen."
"Setelah kematian Ibu, kamu baru pulang sekarang. Jadi gimana, apa kamu sudah memutuskan untuk tinggalkan disini?" tanya Anggi.
"Sudah lama rupanya, ya!" Aku menggumam.
__ADS_1
"Gimana. Apa kamu kamu sudah membuat keputusan?" tanya Anggi lagi. Membuatku bingung dengan pertanyaan itu.
"Keputusan, maksudmu?" tanyaku balik.
"Lihat itu!" tunjuk Anggi ke arah koperku. "Apa kamu berencana untuk tidak meletakkan itu semua di kamar ayahku?"
Kami sejenak saling tatap, sesat kemudian Anggi tersenyum lebar padaku sambil berkata. "Aku sudah tau semua tentang perasaanmu. Jangan kamu anggap diamku sebagai kebodohanku!"
Dari senyuman dan kalimatnya itu, aku bisa mengartikan kalau Anggi sudah lama mengetahui semua tentang perasaanku kepada Paman, dan sepertinya dia tidak memiliki masalah tentang itu. Aku pun menarik napas lega.
"Begitulah, aku akan mengikatnya kali ini," ucapku menyandarkan kepala di sandaran sofa.
"Tapi ingat. Jangan pernah berharap kalau aku akan memanggilmu ibu," ujar Anggi memelukku dari samping.
"Hufff." Aku menutup wajah dengan tangan. Entah kenapa aku tiba-tiba jadi malu di hadapan Anggi. "Sejak kapan kamu mengetahuinya?" tanyaku kemudian.
Anggi tertawa. "Ayolah! Apa menurutmu aku nggak punya otak. Orang bodoh pun tau ketika melihat kedekatan kamu itu. Kamu sudah jatuh cinta dengan ayahku. Lagi pula selama ini kamu belum pernah pulang kemari dengan membawa koper sebanyak itu. Sudah jelas terlihat sekali gelagatmu." Anggi kembali tertawa, lalu berkata lagi, "kamu sangat aneh. Kenapa harus ayahku, apa kamu kekurangan pria."
"Pesonanya! Tapi apa kamu yakin dengan semua ini?" tanya Anggi.
"Meski aku sudah ditolak beberapa kali, tapi sekarang aku tidak akan mundur lagi. Aku akan menjadi ibu yang baik untukmu," ejekku.
PLAK….
"Aghhh…. sakit," jeritku ketika Anggi memukul bahuku.
"Aku bahagia kalau kamu bahagia. Tapi aku tidak akan pernah mau menjadi anakmu!" Wajah Anggi cemberut, sesaat kemudian ia tersenyum dan kami kembali saling berpelukan.
"Kalau begitu, aku pergi dulu. Aku mau mengikat hati ayahmu, kali ini aku tidak akan gagal lagi."
__ADS_1
"Kamu tidak akan gagal, karena dia juga sudah menunggumu cukup lama!"
Degh!
Jantungku berdetak kencang mendengar penuturan Anggi. Memahami semua yang ada di depan mata, semangatku pun tumbuh ribuan kali lipat untuk segera bertemu Paman.
"Apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu akan membawanya pergi dinner?" tanya Anggi ketika aku beranjak dari tempat duduk.
Aku hanya menjawab dengan senyuman lebar, dan kemudian pergi untuk menemui Paman dan berteriak pada Rani. "Pokoknya hari ini, kalian jangan ada yang ganggu kami. Awas saja, kalian bakalan jadi anak durhaka, bagaimanapun, aku nanti jadi ibumu Anggi. Aku akan mengutukmu jadi batu kalau kau menjadi anak durhaka."
Langkahku begitu panjang menuju tempat Paman. Sesampainya aku di depan pintu, sejenak berdiri mengatur napas. Suasana begitu gelap ketika aku membuka pintu. Aku berteriak memanggilnya.
"Pamaaaaaan!"
Seketika aku tersadar, seharusnya aku tidak memanggilnya lagi seperti itu
"Sayaaaang, kamu dimana. Miramu sudah pulang!"
Seketika lampu di semua ruangan menyala, ia muncul di hadapanku dengan seulas senyuman, dan melebarkan tangannya. Aku tau, ia menungguku dalam pelukan. Aku pun berlari menghampiri dan langsung memeluknya dengan linangan air mata kebahagiaan.
®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®
TAMAT.
Maaf kalau endingnya terburu-buru dan kurang memuaskan.
Saya ucapkan terima kasih yang telah mendukung novel ini. baik secara langsung maupun diam-diam.
Silahkan mampir di novel saya yang lain.
__ADS_1
terimakasih saya ucapkan sekali lagi.
Ambil yang baiknya dari novel ini, dan buang jauh jauh yang tidak baiknya.