
jangan lupa tinggalkan komentar dan like ya. kalau ada poin kasih juga bunganya atau kopi. sekalian vote. terima kasih.
•••••••••√•••••••••••√
Sedangkan di sebuah puncak.
Di dalam kamar mandi, Anggi berdiri di depan kaca dan menunggu Jo untuk menyabuninya. Namun, Pemuda itu masih saja diam berdiri di belakang, dan memandangi punggung putih Anggii, sesekali matanya tertuju ke pinggul, dimana liang kenikmatan tersembunyi di balik belahan pan–tat tersebut, liang bir—-ahi yang telah mengantarnya menuju puncak kenikmatan yang begitu indah.
"Kenapa lama sekali, cuman menggosok punggungku aja. Cepatlah!" ujar Anggi yang melihat pemuda itu masih belum melakukan apa-apa.
Jo pun tersadar. "Maaf. Aku akan mulai," ucapnya dan mulai menyabuni punggung Anggii. "Aku akan menggosok dengan lembut. Apa ini enak?"
"Iya, enak!" ujar Anggii dengan suara parau.
Ketika tangan Jo mulai bergerak ke pinggang, Anggi merasa kegelian sehingga tubuhnya menggeliat sejenak, dan kembali merasakan debaran yang kuat, apalagi ketika tangan pemuda itu mendarat di belahan panta—tnya. Namun, Anggii sedikit bingung, karena gerakan tangan pemuda itu terasa sedikit ragu, padahal lebih dari itu mereka telah melakukannya.
"Kenapa kamu jadi ragu. Lanjutkan saja," pinta Anggii.
__ADS_1
"I, iya!"
Jo kembali melanjutkan untuk membersihkan pinggul Anggi, sesekali ibu jarinya nyelip menyentuh lubang *****, bahkan menyentuh bibir vaga Anggi, membuat gadis itu menggelinjang beberapa kali, dan tersenyum senang tanpa sepengetahuan Jo.
Karena sudah tidak sanggup lagi menahan godaan dari sentuhan Jo, Anggi pun membuat keisengan, ia segera berbalik menghadap Jo yang tengah jongkok untuk menyabuni pan—tatnya. Dengan begitu vagi–nya dengan leluasa menjadi santapan mata pemuda itu.
"Bersihkan juga yang ini." Anggi menunjuk ke bagian vagi nya.
Akan tetapi, Jo hanya terpaku diam, dan hal itu membuat Anggi tertawa karena merasa lucu melihat raut wajah pemuda itu.
"Kenapa kamu tertawa?" tanya Jo.
"Tidak apa-apa. Aku hanya merasa lucu saja melihat wajah Bang Jo. Padahal Bang Jo sudah menikmatinya, tapi ketika melihatnya lagi, wajah Bang Jo malah terlihat aneh," ucap Anggi lagi sambil tertawa.
Jo bangun dan mendorong tubuh Anggi hingga sampai di bawah guyuran air shower. Ia tatap tubuh molek gadis yang ada di hadapannya itu. Sangat putih, mulus, membuat gairahnya bangkit kembali. Jo langsung menerkam payu -dara Anggi dengan mulutnya, ia ku-lum, hisap dan juga menji–lati. Membuat gadis itu meringis nikmat.
"Kamu sangat cantik!" puji Jo. Pensnya sekarang sudah kembali berdiri, siap untuk melanjutkan pertempuran berikutnya.
__ADS_1
"Apa kamu mau melakukannya lagi?" tanya Anggi ketika merasakan pens Jo yang menegang menyentuh perutnya, dan di jawab pemuda itu dengan anggukan disertai senyuman.
"Bang Jo," suara Anggi pelan. "Apa Bang Jo sudah mencintaiku?"
Pertanyaan Anggi barusan membuat Jo menghentikan aksinya. Sedangkan Anggi menggigit bibir bawahnya, berdebar menunggu jawaban.
Sudah terlalu jauh langkah yang dilakukannya, sampai sekarang ia masih bingung dengan perasaannya. Apakah dia hanya sekedar mengagumi Anggi atau sudah ada cinta di hatinya? Akan tetapi, sebagai laki-laki Jo tidak ingin menghindar dari tanggung jawab. Dalam hidup ini dia sangat paham betul, ada sebab dan akibat dari setiap perbuatan yang ia lakukan.
"Ya, aku mencintaimu. Tapi aku ingin kamu jujur tentang sesuatu tanpa aku harus bertanya!"
Setelah melakukan semuanya bersama Anggi, ada sesuatu yang mengganjal dalam benak pria itu, tapi demi menjaga perasaan Anggi, ia memendam semuanya. Apalagi ia belum tau kemana sebenarnya arah hubungan mereka. Walau sebenarnya ia bisa menebak dari perbuatan dan sikap, tapi Jo butuh secara lisan untuk mengukuhkan hubungan mereka.
"Aku tidak tau apa yang Bang Jo maksud, bisakah Bang Jo terus terang," tanya Anggi.
"Aku tidak pantas untuk bertanya hal itu. Aku hanya ingin kamu jujur tentang kekurangan kamu untuk aku," ucap Jo lagi, senyumnya selalu mengisi wajahnya.
@@@@@@@@@@@@##
__ADS_1