
jangan lupa dukungannya.
®®®®®®®®®®®
Puas dengan kesendiriannya di belakang rumah, Barno kembali masuk untuk mengganti pakaiannya dengan atasan kaos dan celana boxer. Ia kemudian mengambil minuman soda dari dalam kulkas, dan duduk bergabung dengan Mira untuk menonton tv.
Ketika Barno meneguk minumannya, Mira memperhatikan jakun pria itu yang naik turun, lalu beralih ke otot tangan dan dada. Terpana dan terpesona dengan pemandangan eksotis itu, membuat bayangan keindahan menari dalam bena Mira, keindahan tentang penyatuan batin antara wanita dan pria.
Berbeda dengan Barno yang seketika tercengang, melihat laptopnya yang di gunakan Anggi untuk menyelesaikan tugas kuliahnya, membuatnya langsung keringat dingin dan mulai panik.
"Eh, itu ternyata laptopku," batin Barno merasa was-was. "Kenapa laptop ku di sini. Aku mencarinya tadi pagi dan nggak ketemu, aku kira aku lupa dimana meletakkannya, ternyata ada sama kamu," ujar Barno kemudian.
"Aku pinjam sebentar, nggak akan lama. Tinggal sedikit lagi aku sudah selesai," ucap Anggi sambil melihat kearah Barno dengan tersenyum, dan memainkan kelopak matanya supaya Ayahnya itu memberi ijin.
"Ah, sial! Folder 80k3p-ku. Jika sampai ketahuan bisa mampus aku, wajahku pasti tidak bisa disembunyikan lagi."
Melihat reaksi Barno yang ketakutan, Mira hanya tersenyum. Ia tau hal apa yang bisa membuat pamannya itu menjadi sangat khawatir. Ia pun menarik lengan baju Barno dengan sangat kasar sampai menempel ke tubuhnya.
"Tenang. Aku sudah menghapus semuanya. Anggi nggak bakalan tau vidio-vidio me sum paman itu," bisik Mira.
Sejenak perasaan Barno tenang mendengar perkataan Mira, tapi itu hanya sesaat. Setelah menyadari koleksi terbaiknya suda hilang semua, Barno menatap Mira tidak percaya.
"Semuanya?" tanya Barno memastikan kekhawatirannya.
"Yap." Cepat dan tegas, Mira menjawab diiringi senyuman kecil.
__ADS_1
"Satu pun nggak ada yang kau tinggalkan?" Wajah kuyu Barno terlihat semakin jelas.
Tatapan dengan raut wajah menahan tawa dari Mira, membuat mata Barno jatuh dengan kesedihan. Kerja kerasnya selama ini menyeleksi film-film terbaik dari negeri Sakura dan juga Eropa, dan telah ia simpan dengan rapi di foldernya, raib begitu saja. Apalagi saat ini, ia sangat membutuhkan film tersebut untuk dijadikan sebagai bahan referensi, untuk membuat novel terbaru yang sedang ia kerjakan bersama Tiara..
"Jangan sedih gitu, Paman. Seharusnya Paman bersukur karena aku sudah mau membantu paman biar insyaf." suara Mira begitu pelan di telinga Barno.
"Insaf kepala kau itu."
Menyandarkan punggung dengan lemas Kejadian ini menguat Barno pusing. Sejenak mengambil minuman soda yang ia letakkan di atas meja, lalu menuangkan air soda ke dalam mulutnya tanpa menyentuh mulut botol.
Melihat cara minum Barno, keisengan muncul seketika itu juga di dalam kepala Mira. Ia menjulurkan lidahnya tepat ketika air soda jatuh ke dalam tenggorokan Barno. Tentu saja hal tersebut membuat pria itu kaget.
"Ah, apa yang kau lakukan? Lihat, semuanya jadi berantakan!" Barno melap wajahnya yang terkena tumpahan air soda.
Bukan Itu saja, baju Barno juga menjadi basah akibat ulah Mira barusan.
"Haus, ya haus aja. Nggak seperti itu juga caranya!" bentak Barno.
"Kalian bisa diam nggak. Apa kalian tidak melihat aku sedang apa. Heran! Kalian selalu bertingkah seperti anak-anak. Yang satu udah ada uban, yang satu udah punya gunung, tapi tingkah seperti orang yang tidak punya uban dan gunung," celoteh Anggi terganggu dengan keributan kecil itu merasa kesal karena onsentrasinya untuk mengerjakan tugas jadi goyah.
"Siapa yang kau bilang anak kecil, aku ini ayahmu?" balas Barno dengan perasaan jengkel. "Jangan kau bilang anak kecil lagi. Ingat! Aku ayahmu, dan aku belum ubanan."
"Hahahaha…. Paman juga bisa bercanda dengan intonasi seperti itu," ledek Mira.
Tidak sanggup bersabar lebih lama lagi dengan tingkah Mira, Barno beranjak dari duduknya untuk meninggalkan kedua gadis itu. Namun, Mira segera menarik baju Barno untuk duduk kembali, lalu ia naik ke pangkuan Pamannya itu dan meletakkan jari di bibir seraya tersenyum.
__ADS_1
"Apa yang mau kau lakukan?" tanya Barno dengan suara pelan dan mendorong Mira, ia begitu tidak nyaman ketika gadis itu duduk dengan aongkuannya.
Mira akhirnya kembali duduk seperti semula, lalu mengambil minuman soda milik Barno. Ketika Mira meneguk minumannya, Bano mengambil cemilan yang terletak di meja, dan tanpa sengaja menyenggol siku Mira, membuat minuman tumpah dan membasahi wajah dan juga baju bagian atas gadis tersebut.
"Maaf!"
Barno segera mengambil tisu dan membersihkan wajah Mira, lalu beralih ke leher. Tertegun ketika Barno hendak melanjutkan membersihkan bagian dada, pemandangan eksotis terpampang di hadapannya dengan jelas.
Mira tau kemana mata pamannya tertuju, dia hanya tersenyum kecil, dan pura-pura tidak tau.
"Ayo Paman, lanjutkan."
Tersadar. Barno langsung berubah sikap, dan duduk seperti semula. Ia tidak ingin masuk dalam perangkap Mira.
"Bajumu basah. Sana, kau ganti dulu bajumu itu," perintah Barno tanpa menoleh ke arah Mira.
Bersandar di tangan sofa dengan posisi menghadap ke Barno, Mira menjatuhkan sebelah kakinya ke lantai, dengan begitu kedua kaki terbuka lebar dan alu berkata, "tidak apa-apa. Jangan khawatir, nanti juga kering sendiri."
"Tentu saja aku khawatir, bukan masalah nanti kau masuk angin atau tidak. Kalau cuman itu, tinggal bawa ke dokter saja, masalah uang tinggal di cari,"
"Terus, malah apa dong?" Mira langsung menyambar omongan Barno.
"Itu, dadamu tembus pandang," bisik Barno.
"Aku kan di rumah, lagian Paman juga sudah pernah melihatnya." Mira mendekat ke telinga Barno. "Film 80k3p paman kan sudah kuhapus. Kalau mau nonton, lihat ini aja," ucap Mira lagi dengan membuat suara d354h4n.
__ADS_1
"Ah, Mira. Sudah berapa kali aku bilang sama kamu. Jangan bercanda terlalu vul94r," bentak Barno dengan nada pelan, takut jika Anggi yang sedang mengerjakan tugas menjadii tergaggu.