I Love You Paman

I Love You Paman
BAB 77


__ADS_3

"Maaf, aku memang bukan gadis suci lagi, aku sudah kehilangan ke hormatanku, itu semua terenggut waktu SMA oleh pacar pertamaku. Tapi maaf, aku tidak bisa mengatakan kepada Bang Jo, alasan dari hilangnya ke hormatanku." Lirih suara Anggi terdengar.


Setelah mendengar penjelasan Anggi, tarikan napas yang begitu berat juga terdengar dari mulut Jo, membuat Anggi menjadi khawatir kalau pria yang ia cintai itu akan meninggalkannya, tapi dibalik itu ia sudah pasrah dengan sikap yang akan diambil Jo.


"Baiklah, lupakan masalalu. Aku tidak butuh perawanmu, aku hanya butuh kesetiaan dan kasih sayang. Walau aku bukan yang pertama, tapi aku sudah menggauli kamu, Sperti yang aku bilang tadi, aku akan selalu ada untukmu."


Tidak terasa air mata keluar dari kelopak mata gadis itu, ia tidak menduga kalau Jo akan menerima kekurangannya itu. Anggi langsung memeluk Jo dengan erat, dengan penuh rasa haru dan kebahagiaan.


"Terima kasih. I Love you Bang Jo."


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


Cahaya pagi masuk kedalam kamar melalui jendela kaca yang tidak tertutup gorden, sehingga menerangi ruang kamar. Mira sedang mengganti pakaiannya di depan cermin. Tubuhnya ia putar sambil tersenyum, puas melihat  keindahan tubuhnya yang menurutnya sangat sempurna.


Ini sudah pagi ketiga ia terbangun dengan perasaan bahagia. Semua itu karena hari-hari yang dilaluinya penuh dengan keindahan. Setiap hari Pamannya selalu memanjakannya layaknya seorang pacar. Setiap apa yang diinginkan Mira, Barno selalu menuruti dan mengabulkannya.


"Aku nggak menyangka kalau paman mampu bertahan diri, walau dia terus memberikanku kenikmatan dengan sentuhannya. Aku juga tidak tau, sudah berapa kali mencapai kenikmatan selama tiga hari ini. Hmmm…. Terima kasih Paman. Oh, tidak. Terima kasih sayangku," batin Mira sambil memainkan hidung Barno dengan jemari lentiknya.


Tiada hari yang terlewatkan oleh Mira tanpa peluk, cium dan raba. Semuanya terjadi tanpa Mira kehilangan perawannya, walau sebenarnya ia sudah merelakan kalau Pamannya itu akan merenggutnya. Bahkan Mira sendiri beberapa kali dengan terang-terangan menyerahkannya begitu, tapi Barno selalu menolak dan hanya memberikan kenikmatan melalui sentuhan tangannya saja.

__ADS_1


Barno mengerang dalam tidurnya. Dengan cepat Mira pun menarik tangannya ketika melihat Barno terbangun sambil mengucek mata. Seulas senyum terbaiknya diberikan sebagai ucapan selamat pagi, dan Barno membalasnya dengan senyuman serta pelukan hangat.


"Apa kamu tidur dengan nyenyak?" tanya Barno dan mengecup kening Mira


Mira mengangguk. "Kita sudah seperti sepasang kekasih," ucapnya sambil memeluk erat tubuh Pamannya itu.


Senyum kebahagiaan terpancar di wajah mereka, Barno pun melepas pelukannya dari Mira, dan kemudian turun dari ranjang. "Aku mau mandi dulu."


Perasaan Mira begitu bahagia ketika melihat punggung Tono yang keluar dari kamar. Waktu yang begitu singkat sebelum kepulangan Anggi dan Ibunya, ia manfaatkan dengan sebaik baiknya. Tidak terhitung sudah berapa kali ia meneguk kenikmatan yang telah diberikan Barno selama tiga hari belakangan ini. Itu adalah pengalaman berharga baginya, yang akan selalu dikenangnya.


"Terimakasih Paman!" gumam Mira, dan beranjak ke dapur untuk menyiapkan sarapan alakadarnya, yaitu telor ceplok. Ia pun duduk dibalik meja makan menunggu Barno.


Setelah Barno selesai mandi dan mengganti pakaian, Pria itu pun beranjak ke meja makan, sejenak ia tersenyum kepada Mira.


"Telor ceplok,"

__ADS_1


"Iya, biara jari-jari Paman punya tenaga untuk memanjakanku." Mata Mira bermain nakal menggoda Pamannya itu.


"Hais.... Pas sarapan gini pun, kamu masih sempat-sempatnya menggodaku," keluh Barno


__ADS_2