I Love You Paman

I Love You Paman
BAB 49


__ADS_3

🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


"Sudah selesai?" tanya Anggi ketika Asraf sudah mendekat.


"Ya, tapi kenapa kamu tidak pergi duluan." Jo balik bertanya


"Aku berpikir  akan sangat  membosankan kalau menyusul sendirian kesana, karena yang lain sudah berangkat duluan. Ya sudah, Ayo pergi kalau begitu." Anggi langsung berjalan di depan di depan Jo dan menyembunyikan senyum liciknya.


Mereka berdua menyusuri koridor kampus menuju parkiran. Dengan menaiki motor milik Asraf, mereka menyusul mahasiswa lain yang sudah lebih dahulu berangkat. Sedangkan Mira mengintip dari tempat tersembunyi. 


"Semoga berhasil, GI!"


Ketika mereka hampir sampai ke tempat yang mereka tuju. Yaitu sebuah rumah sewa yang sudah di atur oleh Mira, hujan tiba-tiba turun sangat lebat. Jo segera menancap gas menembus hujan, karena merasa tempatnya sudah dekat. Jadi mereka memutuskan untuk lanjut.


"Ahhh…. Sial! Bajuku sudah basah," ujar Anggi dan menyilangkan kedua tangan di dada setelah mereka sampai di sebuah rumah.


Treet … Treet….


Ponsel Anggi tiba-tiba berdering, ia pun segera mengangkat. Setelah selesai berbicara melalui sambungan telepon dengan seseorang. Wajahnya berubah murung.

__ADS_1


"Napa, Gi?" tanya Jo setelah menyadari wajah gadis itu murung, menandakan kalau ada yang tidak beres.


"Kemah besok batal, yang lain sudah pada pulang, dan juga sebagian ada yang tidak datang karena cuaca kurang bagus," jawab Anggi dengan sedih. "Pantas kok rumah ini aneh, sepi nggak ada orang. Ternyata memang nggak ada orang yang datang," keluh Anggi dengan dengan raut berduka, tapi dalam hati berteriak senang.


Ponsel Jo pun berdering juga setelah beberapa detik Anggi menutup sambungan teleponnya. Jo segera mengangkat telepon. Seseorang dari seberang sana memberitahukan padanya, kalau dirinya telah termakan umpan Anggi. 


Karena perkiraan cuaca buruk, acara kemah telah diundur seminggu kemudian. Bahkan lokasinya juga bukan tempat yang mereka tuju sekarang, walau sama-sama di puncak dan kota yang sama.


"Oke ... terima kasih, aku akan mananganinya, semua akan baik-baik saja." Jo menutup telepon, tatapannya beralih kepada Anggi yang telah berdiri di depan pintu rumah.


"Bagaimana ini? semua orang batal datang, hanya tinggal kita berdua saja di sini. Semuanya juga sudah dibayar, tidak mungkin kita menyia-nyiakan fasilitas ini, kan!" ujar Anggi, lalu kembali menelpon seseorang.


"Aku tau ini akal-akalan kamu saja. Aku bukan orang idiot, kita lihat saja nanti, apa yang ingin kamu lakukan?" batin Jo dan melempar senyum ketika pandangannya beradu dengan Anggi.


"Dengan Bu Anggi." Pemuda itu menyapa dan dibalas dengan anggukan.


"Ini kunci rumahnya."


Anggi menerima kunci dari pemuda tersebut. Mereka pun masuk setelah pemuda itu pergi dan menghilang di bawah guyuran hujan.

__ADS_1


Di dalam rumah tersebut, hanya ada tiga kamar, tapi dua diantaranya tidak bisa dibuka karena memang kuncinya tidak diberikan oleh si penjaga rumah.


"Apa cuman ada satu kamar di rumah ini?" Jo kesal, ketika Anggi mengajaknya masuk kedalam kamar sama.


"Kamu kan sudah lihat sendiri tadi, dua kamar itu terkunci. Berhubung karena berdua saja, jadi kita kebagian satu kamar. Kalau  saja Mira ikut, pasti dia yang menjadi teman sekamarku, dan kamu pasti kebagian satu kamar, tapi sayang sekali, Mira tiba-tiba nggak jadi ikut. Entah apa alasannya, aku juga nggak tau," ucap Anggi menjelaskan dengan sebuah kebohongan.


Walaupun Jo tau kalau ini adalah muslihat Anggi, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain masuk kedalam kamar. Ia pun hanya berdiri di dekat ranjang dengan pakaian yang basah. Sedangkan Anggi sudah masuk kedalam kamar mandi untuk membuka pakaiannya yang basah, dan kemudian keluar hanya mengenakan handuk yang melilit di badan. Pesona tubuh Anggi yang begitu mulus, dengan penampakan belahan dadanya yang putih, sungguh terlihat sangat menggoda 


"Untung saja barang-barang keperluan kemah sudah mereka kirimkan kesini." 


Anggi berjalan mendekati tempat tidur, dimana di atasnya terletak sebuah kardus berukuran sedang. Anggi langsung membuka kardus tersbut.


"Waw, banyak makanan juga. Eh…. Tapi mana pakaian renangku. Ah… padahal aku ingin mencobanya." Anggi membongkar semua isi kardus tersebut, hingga akhirnya ia menemukan pakaian yang ia cari.


®®®®®®®®®®®®®®®®®®


yuk mampir.


__ADS_1



Mohon dukungannya, ya. terima kasih sebelumnya.


__ADS_2