I Love You Paman

I Love You Paman
BAB 60


__ADS_3

Jangan lupa dukungannya, ya😁😁😁


🅾️🅾️🅾️🅾️🅾️🅾️


Melihat Anggi termenung, Jo melambaikan tangannya beberapa kali di depan wajah gadis itu. "Hei, kenapa kamu malah bengong."


"Eh, nggak apa-apa." Anggi tersenyum licik. Tangannya langsung menyambar handuk Jo yang melilit di pinggang, dan menariknya dengan kuat.


"Apa yang kamu lakukan." Kening Jo berkerut dan merapatkan kedua pahanya dengan posisi menyamping, serta kedua telapak tangan menutupi tonjolannya.


Lain halnya dengan Anggi yang begitu kecewa, apa yang ada dalam bayangannya tidak sesuai dengan harapan, karena Jo masih memakai ****** ***** di balik handuk. Pupus sudah keinginannya untuk melihat pensil Jo yang besar.


"Sial! Ternyata dia pakai seymvak. Huff … gagal deh liat batang besarnya!" batin Anggi.


Jo menyambar handuknya dari tangan Anggi, dan kembali melilitkan ke pinggangnya.


"Kenapa kamu buru-buru memakai handuk. Toh kamu masih pakai sem–pak!" ucap Anggi dengan lirikan nakal. "Oh, ya! Kalau bisa kamu tidur denganku. Aku takut dengan kegelapan, Apalagi ini lagi hujan, takutnya nanti muncul petir, bisa-bisa aku nanti pingsan" sambung Anggi mengajak Jo tidur satu kamar dengannya.

__ADS_1


"Eh … A-anu. Tapi…." Jo terlihat gugup. Seumur hidupnya ia belum pernah tidur satu ranjang dengan lawan jenisnya.


"Kenapa? Bang Jo nggak mau nemenin aku?" potong Anggi.


"Bukan gitu!"


"Aku nggak mau tau. Pokoknya Bang Jo harus ikut!" Anggi langsung menarik tangan Jo, membuat pria itu tidak bisa berbuat apa-apa.


….


….


….


….


Jam sudah menunjuk pukul 00:13 WIB.  Hujan yang begitu lebat sudah berhenti, langit malam yang dipenuhi awan gelap mulai terlihat cerah, bersamaan cahaya rembulan yang mulai mengintip, dan cahayanya membias menyinari kamar Mira yang gelap tanpa pencahayaan lampu, melalui jendela kaca yang tidak tertutup tirai.

__ADS_1


Mira yang sudah bangun dan duduk sembari melihat kondisi tubuhnya yang telan-jang di bagian bawah termenung seketika. Ia bingung kenapa bisa berada di dalam kamar dengan kondisi seperti itu.


"Kenapa aku bisa di sini. Ahh…. Tidak!"


Sejenak ia diam dan kembali termenung, lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Ah, tidak! A-aku dan Pa-paman. Iya, benar. Itu bukan mimpi!" gumam Mira ketika sekelebat ingatan beberapa jam yang lalu melintas di pikirannya.


Pipinya pun langsung merah ketika teringat saat Barno yang menjilati vag-nya. Ia langsung kembali tengkurap menyembunyikan wajahnya di balik bantal, ia begitu malu sendiri mengingat kejadian itu.


"Hmmm … tidak! Kenapa aku harus malu, selama ini aku sangat menginginkan itu terjadi. Tapi, apakah kami sampai seperti itu tadi? Kalau benar, kenapa aku tidak bisa mengingatnya," batinnya, lalu duduk kembali memegangi kepala.


Rasa penasarannya begitu sangat tinggi, membuatnya harus memeriksa vag-nya untuk mencari sebuah bukti, tentang kebenaran kalau sang Paman telah melakukan hubungan dengannya. Jika memang itu telah terjadi, ia merasa pasti ada beberapa tanda yang tertinggal. Paling tidaknya, ada setetes atau dua tetes spyermha yang tertinggal di dalam vag-nya.


Mira juga mencoba untuk merasakan sesuatu, seperti rasa sakit, atau paling tidak rasa nyeri, mengingat kalau milik sang paman sungguh sangatlah besar.


"Tidak ada satupun tanda kalau aku dan Paman sudah melakukannya. Ahh … kenapa pula aku tidak bisa mengingatnya. Apa yang sebenarnya terjadi, tapi jika memang kami melakukannya , pasti Paman sudah tidur di sebelahku. Sial! Kenapa aku harus tertidur, sih" 

__ADS_1


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


__ADS_2