
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Akan tetapi, Anggi langsung memanggilnya karena permainan yang baru saja ia nikmati, seketika terhenti begitu saja.
Saat Jo turun ranjang Anggi berpikir kalau pemuda akan keluar, dan ia tidak rela kalau pemuda tersebut pergi meninggalkan dirinya begitu saja dalam keadaan sanghhhhe.
"Mau kemana?" tanya Anggi.
"Aku mau matikan lampu," jawab Jo
"Kenapa?" Angg menarik tangan Jo sehingga pemuda itu kembali berbaring.
"Untuk menjaga apa yang tidak harus dilihat!" ujar Jo pelan, wajah mereka kini begitu dekat.
"Itu bukan sesuatu yang penting, kan?" Suara Anggi semakin mend—esah, gejolak bira—hinya sudah meninggi sejak tadi sebelum lampu menyala.
Mata mereka kini saling tatap, seakan bercerita kalau mereka harus melakukan sesuatu secepatnya. Sesuatu yang bisa menyatukan mereka dalam kehangatan, sesuatu yang akan menguatkan ikatan hati mereka.
"Bagaimana kalau kita tidur lagi?" ajak Anggi, suaranya sudah mulai serak akibat menahan nap—su.
"Baiklah!"
"Ayo tidur lagi," des—ahnya, sedangkan hidungnya sudah menempel dengan hidung Jo, hanya dengan satu gerakan saja maka bibir mereka akan segera bersentuhan.
__ADS_1
Anggi pun langsung berbaring dan menunggu Jo bergerak untuk melakukan sesuatu yang bisa memberinya kenikmatan dunia. Namun, pria itu hanya diam dan menatapnya saja, membuat Anggi sedikit kecewa.
"Selamat tidur!" ucap Jo.
Apa yang diharapkan kadang tidak sesuai dengan rencana. Namun, Anggi tetap mencoba untuk yang terakhir kalinya untuk menggoda Jo, berharap pemuda itu akan memakai instingnya. Oleh karena itu, Anggi membuat gerakan seolah-olah akan membuka tali B-ranya sebagai kode. Usaha terakhirnya ternyata membuahkan hasil, Asraf bergerak membantu untuk melepaskan ikatan B-ra-nya itu.
"Apakah kita akan tidur bersama?" tanya Anggi dengan mata sayu ketika tali B-ra-nya lepas dan memperlihatkan pu–ting payu—daranya yang berwarna pink.
Jo tidak menjawab, melainkan ia meremas pay—udara Anggi dengan lembut, membuat gadis itu mengerang, tapi hanya sebentar karena bibirnya sudah di–ke-cup oleh Jo. Tentu saja Anggi tidak tinggal diam, dan langsung membalas kecupan pemuda itu dengan ganas.
Adegan saling kecup mulai, lidah mereka terus bermain saling lilit, membuat Anggi begitu senang. Ia menikmati pa–gutan Jo dan juga remasan di bagian pay—udaranya. Getaran kenikmatan mulai ia resapi satu persatu. Apalagi ketika tangan pemuda itu mulai turun kebawah meraih vag—nya. Dengan senang hati Anggi melebarkan pahanya, agar tangan pemuda yang dicintainya, bisa lebih leluasa bermain di bawah sana.
"Aghhh … hmmmm…. Aghhh … ssshhh!"
Des—-ahan Anggi sudah tidak terkontrol lagi, ketika jemari Jo mulai mengusap klito—risnya. Cairan bening pun mulai membasahi dan merembes dari dalam vag-nya.
"Tunggu!" cegah Anggui sebelum Jo benar-benar melepaskan ****** *****.
"Kenapa?" tanya Jo tidak sabar.
Namun, pemuda itu langsung teringat dengan bungkusan yang ada di dalam kardus. Sebuah kon—dom, dan ia yakin benda itu yang yang dibutuhkan Anggi, sehingga gadis itu menahan gerakannya. Ia pun segera beranjak untuk mengambilnya.
Akan tetapi, ketika ia hendak turun dari ranjang. Anggii langsung menubruknya dengan pelukan.
__ADS_1
"Anggi, tunggu. Kamu mau apa lagi?" Jo gelagapan.
"Jangan pergi," pinta Anggi.
"Aku mau ngambil kon—dom dulu bentar, ini tidak akan lama. Aku janji pasti akan balik lagi," ujar Jo.
Dengan malu-malu Anggi puni menunjuk ke arah laci meja yang ada di sisi ranjang "Aku menyimpannya di situ."
"Serius!" Jo pun mengambil dengan cara menjangkau laci meja, posisi separuh badannya sekarang berada di bagian bawah menimpa tubuh Anggi
Apa yang dilakukan Jo, membuat pen–nya menekan perut Anggi, hingga gadis itu pun beranjak dari tindihan Jo, dan langsung membuka celana dal—am pemuda itu.
"Eh … tunggu!" ujar Jo kaget ketika menyadari pen—nya keluar dari sarang, padahal ia masih dalam posisi mencari kon—dom di dalam laci
Tidak peduli dengan ke kagetan Jo, Anggii sudah jongkok dan mendorong bagian pinggan pinggang pemuda itu, sehingga pen– pemuda itu bisa diraihnya, serta mengocoknya dengan pelan, lalu tanpa berlama-lama lagi, Anggi langsung mengulum pen Jo
Dengan keadaan pen di kulum oleh Anggi, pemuda itu terus mencari kon—dom di dalam laci, hingga akhirnya ia mendapatkan benda tersebut.
"Anggi, tunggu. Aduh, sakit! Tahan sebentar, aku sudah mendapatkan kond—omnya." ucap Jo dan memperlihatkan kon—om yang ada di tangannya.
Anggi pun melepaskan kulu-mannya, tapi hanya untuk tersenyum, setelah itu ia tetap tidak peduli lagi dengan rengekan Jo yang memintanya untuk berhenti, dan ia terus saja mengulum pen pemuda itu dengan lahap.
ORGHH … SRUUUPP … SRUUPP….
__ADS_1
"Bisa nggak kamu berhenti sebentar saja, biarkan aku memakainya dulu. Setelah itu aku akan memberikan segalanya untukmu," rayu Jo.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️