I Love You Paman

I Love You Paman
BAB 38


__ADS_3

πŸ–οΈπŸ–οΈπŸ–οΈπŸ–οΈπŸ–οΈπŸ–οΈπŸ–οΈπŸ–οΈπŸ–οΈπŸ–οΈπŸ–οΈ


Merasa triknya telah gagal. Mira menghentikan aktingnya tersebut.Β 


"Baiklah," Mira menghempaskan punggungnya di sandaran sofa sambil menghembuskan napas panjang.


"Apa itu masih sakit. Hmm…. Aku sangat salah, dan janji tidak akan mengulanginya lagi."


"Oh.... Tidak apa-apa, Paman," ucap Mira sangat senang, ia merangkul lengan Barno, dan menyandarkan kepalanya di bahu Pamannya itu.


Sejenak Barno melihat tangannya yang dirangkul oleh Mira, membuat pikirannya jadi kacau lagi, yakin kalau itu di sengaja oleh Mira. Oleh sebab itulah Barno merasa, mereka harus bisa menjaga jarak, agar perasaanya tidak terombang ambing. Dia pun menepis tangan Mira yang melingkar di lengannya.


"Dan tolong! Jangan buat candaan seperti itu lagi. Kita harus menjaga jarak, jangan sampai berdekatan seperti ini. Itu tidak baik untuk kita berdua."


"Apa? Siapa juga yang bercanda. Aku tau Paman mengerti dengan apa yang kulakukan selama ini," ucap Mira, suaranya mulai serak menahan tangis.


Mira begitu sedih dengan permintaan Barno yang ingin menjaga jarak dengan dirinya, tentu tidak semudah itu untuk melakukannya. Bagaimana mungkin ada orang bisa bertahan jauh dari orang yang dicintainya. Begitu juga dengan Mira, dia tidak bisa melakukannya. Namun, dilain sisi ia tidak ingin bertengkar saat ini dengan Barno, karena pasti semakin menambah masalah dan membuat jarak mereka semakin menjauh.

__ADS_1


"Lupakan saja," ucap Mira, air matanya sudah tidak terbendung lagi. "Idiot ini. Aku juga tidak bisa bertanya, kenapa dia harus menghindariku?" batin Mira.


Melihat Mira menangis, membuat Barno serba salah, tidak ada niat sedikitpun untuk melukai perasaan Mira. Apalagi selama ini dia belum pernah sekalipun melihat gadis itu menangis. Sesedih apapun Mira, ia hanya murung saja, tidak sampai menangis seperti sekarang. Karena itulah Barno takut kalau dirinya telah membuat kesalahan besar. Hati kecil Barno tidak bisa memungkiri kalau ia begitu menyayangi keponakannya itu. Ia pun menyodorkan lengan bajunya kepada Mira untuk menghapus air matanya.


"Maaf! Apa kamu baik-baik saja?" tanya Barno.


"Kenapa memberikan bajumu Paman. Aku bisa menghapus air mataku sendiri. Dasar Bodoh," umpat Mira, lalu menghapus air matanya dengan lengan bajunya sendiri.


"Maaf, aku memang bodoh," ujar Barno dan mengambil tisu dari atas meja, lalu menghapus sisa air mata Mira.Β 


"Tuhan, apa yang terjadi padaku. Kenapa di saat aku ingin menepis semua ini, aku malah semakin lemah."


"Huff." keluh Barno menyandarkan bahunya setelah menghapus air mata MiraΒ 


"Kenapa kamu mengeluh, Paman?"


"Tidak Apa-apa," ucap Barno nyengir kuda.

__ADS_1


Mira memalingkan wajahnya, lalu bertanya, "Apa Paman masih marah karena ciuβ€”-man itu?"


"Tidak. Aku yang salah, tidak seharusnya aku kasar padamu. Sekali lagi, aku minta maaf." Barno beranjak dari tempat duduk, tapi Mira langsung menarik ujung bajunya.


"Mau pergi kemana, Paman? Sini dulu! Aku mau satu ciu*-*man sebelum paman pergi," pinta Mira dengan lantang.


Tentu hal itu membuat Barno kaget. Apalagi ketika melihat Mira menjulurkan liudahnya beberapa kali. Barno jadi jengkel, tapi ia tidak ingin memarahi Mira dan membuat mereka bertengkar lagi, ia pun duduk dengan malas.


"Kenapa kamu mengeluarkan lidahmu lagi?" Mata Barno memancarkan emosi yang tertahan.


"Kenapa? Apa Paman tidak tau, kalau ciu-*-man itu lebih enak memakai lidah," ucap Mira tidak perduli.


"Tentu saja aku tau?" jawa Barno dengan malas.


"Lalu, kenapa Paman hanya diam? Ayolah!" Mira mendekatkan wajahnya dengan liudah menjulur, siap untuk memainkan bibir Barno.


β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈπŸ’“πŸ’“πŸ’“πŸ’“πŸ’“πŸ’“πŸ’“πŸ’“πŸ’“πŸ’“

__ADS_1


__ADS_2