I Love You Paman

I Love You Paman
BAB 85


__ADS_3

💦💦💦💦💦💦💦💦💦💦


"Halo … halo … Anggi … Gii!" 


Jo terus memanggil Anggi dari seberang sana. Akan tetapi, walau ponsel berada di telinganya tetap tidak mendengarkannya, semua itu karena konsentrasinya lebih kuat untuk segera menuntaskan bira—- hinya yang semakin tinggi. Akibatnya tanpa ia sadari telah mengeluarkan kata-kata yang membuat Jo bingung di seberang sana.


"Ohhhh … Jo … aku ingin mencium kamu, aghhhh…. Aku datang sayaaaang." Tubuh Anggi bergetar hebat, Puncak klim— aks sudah digapainya.


"Anggi … kamu kenapa?"


Seketika Anggi pun tersadar kalau ia masih dalam sambungan telepon dengan Jo.


"Temui aku di tempat biasa!" pinta Anggi tanpa mempedulikan pertanyaan Jo.


Segera Anggi bangun dari tempat tidur dan mengganti pakaiannya. Setelah itu ia keluar dari kamar dengan mengendap menuju pintu depan.


Di dalam kamar. Barno yang berusaha untuk mengungkapkan perasaanya kepada Mira. seketika keduanya kaget mendengar suara grasak-grusuk dari luar. Buru-buru Mira bangun dari duduknya dan mengintip dari balik pintu. Matanya melotot melihat apa yang terjadi.


"Apa yang terjadi?" tanya Barno.


"Paman di sini saja, biar aku yang ngecek," ucap Mira.


Mira segera keluar kamar dan menutup pintu.

__ADS_1


"Mau kemana kamu?" tanya Mira saat melihat Anggi berpakaian rapi dan mengendap-endap hendak keluar dari rumah.


"Eh…." Anggi sangat kaget melihat Mira, ia pun langsung meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya. "Sssttt…. Jangan berisik, nanti kedengaran sama ayahku."


"Apa kamu tidak tau jam berapa sekarang? Apa kamu mau keluar jam segini?" tanya Mira kesal.


Walau Anggi bukan sepupu kandungnya, tapi kasih sayang Mira sangatlah besar, ia tidak mau jika Anggi mengalami hal buruk diluar sana, apalagi sekarang sudah tengah malam dan ia tidak tau kemana tujuan gadis itu keluar rumah malam-malam.


"Udah, tenang aja. Nanti aku hubungi kamu," ucap Anggi sambil membuka pintu.


"Apa kamu mau menemui Bang Jo?" selidik Mira, dan dijawab oleh Anggi dengan anggukan serta senyuman. Lalu segera keluar dari rumah.


Barno yang sudah keluar dari kamar karena penasaran, sempat melihat bayangan Anggi yang keluar dari rumah. Dia segera berlari mengejar Anggi. Namun, ia langsung ditahan oleh Mira.


"Hmmm." Barno mendengus kesal. "Dia tidak pernah peduli denganku, mau aku ada atau tidak, seenaknya aja pergi tanpa pamit." cerocos Barno kemudian membuka bajunya dan meletakkannya di bahu.


Dengan kekesalan, Barno kembali masuk ke kamar untuk mengganti pakaiannya. Mira ikut menyusulnya.


"Dia itu sudah dewasa, biarkan saja. Dia juga sudah tau dan mengerti mana yang baik dan tidak." bujuk Mira. Namun, matanya melotot ketika melihat otot tubuh Barno yang masih kekar, walau umur sudah tidak muda lagi.


"Gila! Kenapa aku selalu terpesona dengan tubuhnya "


"Kamu seharusnya bisa menahannya agar tidak pergi. Tidak baik seorang gadis keluyuran tengah malam." Barno berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian ganti 

__ADS_1


Mira berdiri di depan pintu sambil meminta maaf. Agar Pamannya itu berhenti ngedumel panjang lebar.


"Aku mau tidur, capek," ucap Barno.


Mira ingin mengganggu pamannya itu, tapi melihat raut wajah Barno yang masih kesal, Mira pun mengurungkan niatnya. Lagi pula, ia teringat satu hal untuk membahas sesuatu dengan ibunya. Mira pun pamit pulang.


Di luar rumah, Anggi berlari menuju tempat pertemuanyang tidak jauh dari rumahnya, Dimana Jo telah menunggunya sesuai dengan janji mereka ketika berbicara melalui telepon. 


Di kejauhan Anggi melihat Jo berdiri di depan halte di samping motornya. Anggi pun semakin kencang berlari, membuat nafasnya ngos-ngosan ketika sampai di tempat sang pacar.


"Kamu berlari dari rumah ke sini?" tanya Jo tersenyum.


"Iya," jawab Anggi sambil mengatur napas.


"Sepertinya kamu butuh ini," ucap Jo dan mengeluarkan sebuah kipas kecil elektrik, dan mengarahkannya ke wajah Anggi. "Segarkan?"


"Ahhhhh! Segarnya!" ujar Anggi menahan tawa. 


Merasa lucu melihat seorang pria selalu membawa kipas angin elektrik yang berukuran kecil di dalam tas mininya. Apalagi ketika pria tersebut mengatakan kalau Jo sudah menyiapkan tisu, dan mulai mengambil dari tas pinggang yang ia bawa, tapi ternyata tisunya tidak ada. 


Akan tetapi di luar dari itu semua, Anggi merasa sangat senang dengan perhatian Jo pada dirinya, ealau terlihat sedikit unik.


"Sepertinya tisunya ketinggalan," keluh Jo kecewa setelah tidak menemukan tisu yang ia cari di dalam tasnya.

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2