
✔️✔️✔️✔️✔️✔️✔️✔️✔️✔️✔️✔️✔️✔️
"Itu Bukan ciuman, itu…. Ah … kau tau, kan. Itu ciuman antara keluarga…." Mira terlihat semakin panik melihat tatapan Anggi yang semakin aneh.
"Hmmm…. Tapi aku melihat caramu menatap ayah sangat berbeda, bahkan aku bisa melihat di antara kakimu sampai basah gitu," goda Anggi.
"Hei, apa yang kamu katakan. Jangan sembarangan menuduh, fitnah … fitnah. Kau terlalu jahat memfitnahku" bentak Mira dan membuang wajahnya yang bersemu merah dari tatapan Anggi
Insting Anggi memang tidak salah, dia juga sering memperhatikan Mira dan ayahnya, dan sangat jelas terlihat jika belakangan ini hubungan mereka tidak seperti seorang ayah dan anak, melainkan sepasang kekasih. Akan tetapi, Anggi tidak terlalu mengkhawatirkan hal tersebut, karena ia sangat sayang kepada Ayahnya dan juga Mira. Jika pun yang dipikirkannya benar, toh Mira bukan keponakan kandung ayahnya, lebih baik Mira daripada wanita yang tidak jelas perasaannya kepada ayahnya dan juga dirinya.
"Apa yang mau pikirkan, jangan macam-macam. Aku hanya dekat dengan Paman karena aku tidak memiliki ayah," ucap Mira cepat, takut kalau Anggi akan semakin curiga kepadanya.
__ADS_1
"Sungguh," ejek Anggui. "Tapi terserah apa katamu, aku bisa melihat kalau ayah memperlakukanmu tidak seperti seorang anak … entahlah!" Anggi mengangkat kedua bahunya dengan bibir mengerucut ke bawah.
Masih berada di atas tubuh Mira, Anggi menopang dagu dengan tangan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya kembali mengusap pasyud4r4 Mira dengan pelan
"Bisakah kamu tidak meremas t3tekkU!" pinta Mira mulai resah dengan dengan apa yang dilakukan Anggi.
Gadis itu pun meringsuk dari atas tubuh Mira, dan berbaring di sebelahnya dengan posisi masih terus memeluk. Lalu tiba-tiba ia teringat akan sesuatu ketika tadi memasuki kamar ayahnya. Ia tanpa sengaja melihat sebuah pesan masuk dari Tiara di ponsel ayahnya, dan penggalan pesan tersebut terbaca oleh Anggi.
"Oh … satu lagi…." Anggi tidak melanjutkan kalimatnya, ia menjadi ragu untuk menyampaikan apa yang telah ia ketahui tentang ayahnya dan juga Ibunya Mira. "Sudahlah, lupakan!"
"Sebenarnya aku sempat berpikir, apakah kau tidak menyukaiku lagi,?" tanya Mira dengan hati-hati.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Anggi balik bertanya dengan perasaan bingung.
"Soalnya aku dekat dengan ayahmu. Aku takut, kamu akan berpikir kalau aku telah mencurinya darimu." Mata Mira sudah berkaca-kaca karena sedih, jika seandainya memang Anggi sampai berpikiran seperti itu. Namun, semuanya itu salah ketika melihat Anggi malah menertawakannya.
"Hahahaha…. Apa yang kamu pikirkan. Aku bukan bocah lagi." Rani menepuk *4**4* Mira beberapa kali sambil tertawa. "Kurasa kau nggak akan bakalan tau karena kau besar tanpa seorang ayah, karena itu aku beritahu. Akan terlihat aneh jika kami selalu dekat seperti kedekatanmu sama ayahku."
"Benarkah!" Mira berseru heran, karena menurutnya cinta pertama seorang perempuan pastilah ayahnya, tapi bagi Anggi, tidak! Dia malah menganggap itu sesuatu hal yang aneh dan tidak masuk akal.
"Kamu benar-benar lucu sekali. Ampun, deh! Aku jadi gemes liat kamu, jadi pengen mengambil perawanmu, hahahaha!" canda Anggi saat melihat wajah Mira yang melongo.
"Emang bisa?" tanya Mira polos.
__ADS_1
"Aku akan cari tau bagaimana caranya." Anggi kembali tertawa, tangannya juga kembali meremas p4yudh4ra Mira. "Ah, sudahlah! Lebih baik kita tidur. Mataku sudah lelah," lanjut Anggi dan berbaring telentang serta langsung memejamkan matanya.
🔗🔗🔗🔗🔗🔗🔗🔗🔗🔗🔗🔗🔗🔗🔗