I Love You Paman

I Love You Paman
BAB 47


__ADS_3

Mohon dukungannya ya, Like, komentar, fav, bunga, atau kopi dan juga 🌟🌟🌟🌟🌟


Terima kasih saya ucapkan pada teman teman yang masih support cerita ini baik dalam pujian dan juga kritikan pedas.


😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁


"Kalian bermasalah lagi." Anggi diam sejenak dan menyapu pandangannya. "Aku pikir kalian sudah baikan?" tanya Anggi pada Ayahnya dengan suara pelan.


Barno angkat bahu. "Ayah juga nggak tau."


"Aku sudah selesai makan!" Mira beranjak dari tempat duduknya dan pergi kekamar untuk mengganti pakaian, dia tidak terlihat tertarik untuk mengklarifikasi dugaan Anggi tersebut.


Melihat sikap cuek Mira, Anggi langsung memukul lengan ayahnya itu, karena masih berpikir kalau sikap Mira barusan karena ulah Ayahnya.  "Lihat! apa yang sudah Ayah lakukan," ungkap Anggi kesal.


Tetap sama seperti sebelumnya, Barno lagi-lagi hanya angkat bahu. Bagaimanapun, tidak mungkin ia memberitahu tentang kejadian semalam kepada anaknya itu, tentang Mira yang mendatangi kamarnya semalam. Barno kemudian duduk malas untuk sarapan bersama dengan Anggi.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, Mira muncul, dan melirik Anggi dari sudut matanya dengan ekspresi datar, lalu berjalan menuju pintu keluar. Anggi yang memang sudah berpakaian rapi ketika makan tadi, beranjak dari tempatnya dan menghampiri Mira.


"Kami akan pergi keluar," ucap Anggi seraya membuka pintu.


"Berkemah, ya! Apa kalian akan langsung pergi?" tanya Barno, ia tau kalau kedua gadis itu tidak ada kuliah hari ini.


"Ya. Tapi setelah selesai mengumpulkan tugas lebih dulu," ucap Anggi dan langsung menyusul Mira yang sudah keluar tanpa basa-basi.


"Hati-hati di jalan," teriak Baro.


Raut wajah Mira masih tetap sama seperti tadi, membuat Anggii merasa tidak nyaman. Ia terus berpikir,masalah apa sebenarnya yang dialami Mira, hingga membuatnya selalu murung. Anggi sudah mencoba untuk bertanya. Namun, gadis itu hanya tersenyum dan mengatakan kalau dirinya baik-baik saja. Mendapat jawaban seperti itu, Anggi hanya bisa diam dan tidak bertanya lagi, walaupun ia tahu kalau senyuman Mira terlihat sangat terpaksa.


….


….

__ADS_1


….


Sudah hampir satu jam Barno duduk di taman kecil yang berada di belakang rumahnya, entah sudah berapa batang rokok yang ia habiskan untuk menemaninya menatap langit mendung. Sikap Mira pagi ini, telah membuat suasana hatinya ikutan mendung. Ia benar-benar harus menghindar dari perilaku Mira yang begitu vu-lgar, untuk menepati janji yang telah diucapkannya kepada Tiara melalui sambungan telepon kemarin.


Kepulan asap rokok dari hembusan Barno, lenyap ditelan angin. Ia kembali menarik napas dengan dalam, menghembus kuat untuk melangkah rongga dadanya yang sesak akibat pikiran yang kalut.


"Huff…. Sepertinya akan turun hujan. Lebih baik aku kembali kerja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Semua akan baik-baik saja," batin Barno menyemangati dirinya, lalu ia masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ruangan kerja.


Untuk bisa menggambar lebih baik adegan dewasa dalam novelnya, ia menyalakan laptopnya dan mencolokkan alat eksternal card reader USB. Namun, setelah alat pembaca USB tidak terlihat apa-apa di layar laptopnya, alias kosong. Barno pun kembali mencabut alat pembaca USB tersebut, dan memeriksanya. Pria paruh baya itu sangat terkejut, setelah mengetahui kalau memory di dalam card reader USB tersebut kosong.


"Eh, kemana perginya, perasaan kemarin masih ada, kenapa malah sekarang nggak ada," batin Barno sambil membuka laci meja kerjanya.


Setelah beberapa saat mengobok-obok laci meja, Barno tetap tidak menemukan benda yang ia cari. Bangun dari tempat duduknya, mendengus kesal. Barno mengacak-acak tempat tidurnya, memeriksa bawa bantal, bawah kasur, bahkan pria itu mengangkat kaki tempat tidur, kaki meja, kaki kursi, berharap benar kecil yang ia cari ada seorang sana. Namun, harapannya tetap tinggal harapan.


Lelah mencari setelah hampir satu jam. Barno duduk dengan lemas di balik meja kerjanya. Pandangannya kosong ke arah laptop yang masih menyala.

__ADS_1


@@@@@@@@@@@#####


__ADS_2