
POV 3
Di bawah guyuran air shower, Mira memikirkan mimpinya tadi malam. Sensasi kenikmatan yang didapatkan masih melekat di ingatannya.
Sebuah ide jahil kembali muncul dibenaknya untuk menggoda Barno, ia pun tersenyum dengan misterius, dan segera menyelesaikan mandinya. Setelah itu ia keluar dengan lilitan handuk di tubuhnya. handuk yang begitu kecil, membuat paha atas dan belahan balon udaranya terlihat sangat jelas.
"Kemana perginya Paman, aneh sekali?" gumamnya ketika tidak menemukan Barno di dapur.
Mira terus berteriak memanggil pamannya tersebut. di saat itu ia melihat sebuah kertas di atas meja makan yang dihimpit dengan gelas. Mira mengambil kertas itu, dan melihat sebuah pesan.
"Aku ke sebelah sebentar"
"Sial! Teknik handukku gagal. Padahal aku sangat yakin, jika paman ada di sini, teknik yang begitu melegenda ini pasti akan berhasil." Mira begitu geram karena rencananya gagal total, dengan kuat ia meremas kertas yang ada di tangannya, lalu membuangnya ke dalam keranjang sampah.
"Kau di sini rupanya."
Mira kaget ketika Anggi menepuk bahunya dari belakang.
"Ya elah. Bikin kaget aja kamu!"
"Kamu ngompol ya? Tuh, kasur basah semua," Anggi langsung menuduh tanpa basa-basi.
"Ssssttt! Jangan keras-keras ngomongnya. Ntar paman dengar," ujar Mira berbisik.
Terpaksa Mira berkata jujur, karena menurutnya lebih baik mengakui kalau dirinya ngompol, daripada harus mengatakan yang sebenarnya.
"Kamu beresin itu. Aku gak mau ngurus ompolmu." sungut Anggi dan kemudian menuju kamar mandi.
"Iya bawel. Tenang aja," jawab Mira dan langsung masuk kamar.
….
….
__ADS_1
….
….
*******************
Barno sedang berdiri di depan pintu rumah Mira, dan membawa sebuah nampan kotak berisi dua cangkir kopi dengan tangan kiri, dan juga beberapa makanan dalam rantang, yang ia pegang dengan tangan kanan.
" Tia, Tia! Apa kamu masih tidur?" panggilnya sambil mengetuk pintu dengan kakinya.
Tidak berapa lama, pintu pun terbuka sedikit, wajah seorang wanita muncul dengan raut kemarahan.
"Siapa?" bentak wanita itu, membuat Barno kaget.
Akan tetapi, setelah mengetahui kalau Barno yang datang, wajah wanita itu seketika menjadi ramah, dan tersenyum manis.
"Eh…. Maaf! Rupanya Ayah Anggi. Aku kira siapa yang datang pagi-pagi gini." Wanita itu cengengesan, menyembunyikan rasa malu.
"Apa!"
Wanita itu adalah Tiara, ibunya Mira. Wajahnya begitu kaget mendengar kalau sekarang sudah jam sembilan pagi, ia pun langsung berbalik masuk dan menutup pintu dengan keras, membuat Barno hanya bisa melotot
"Eh eh … tunggu!. Bukakan pintu dulu," jerit Barno sambil menggedor.
Sadar dengan apa yang dilakukannya, Tiara langsung menepuk jidatnya, dan kembali membuka pintu.
"Maaf! Yuk, masuk."
Tiara langsung membawa Barno menuju ruang makan, ia kemudian duduk disebuah kursi.
"Apa kamu pulang subuh lagi, wajahmu kelihatan baru bangun?" tanya Barno setelah Tiara duduk.
"Iya. Semalam aku lembur, ada begitu banyak naskah yang harus aku perbaiki. Kau tau sendirilah. Sekarang banyak penulis-penulis baru yang bermunculan, dan mengirimkan naskahnya ke perusahaan penerbit kami. Aku sebagai kepala editor harus bekerja keras, karena kami diminta untuk segera menyelesaikannya."
__ADS_1
"Tapi kamu juga harus perhatikan Mira paling tidaknya. Aku perhatikan, akibat kesibukan kamu, hubungan kalian semakin renggang." tutur Barno setelah menata makanan yang dibawanya ke dalam piring, dan meletakkannya di atas meja.
"Iya, aku tau. Aku juga makin banyak berhutang budi sama kamu. Kamu layaknya menjadi ayahnya," ucap Tiara dengan santai.
Sejenak Barno tertegun dengan ucapan Tiara, tapi ia membuang jauh-jauh tentang apa yang dipikirkannya barusan.
"Lebih baik kamu makan dulu!" Barno duduk di seberang meja, dan saling berhadapan dengan Tiara.
"Terima kasih. Tapi aku belum lapar," ucap Tiara.
Karena masih belum lapar, Tiara mengambil secangkir kopi yang dibawakan Barno. Namun, Tiara tidak begitu sempurna memegang gagang cangkir tersebut, sehingga kopi itu tumpah dan membuat bajunya jadi basah.
"Pelan-pelan!," seru Barno, tapi matanya tertuju ke sesuatu yang menggoda.
Akibat tumpahan kopi, membuat bulatan kecil yang ada di dada Tiara terlihat jelas oleh Barno. Akan tetapi, walau menyadari kalau Barno sempat tertegun melihat kedua pantulan guli di bukitnya, Tiara tetap saja cuek.
"Hmmmm…. Ibu dan anak sama aja." Barno menggelengkan kepalanya, seraya menarik napas dalam.
"Kenapa geleng-geleng?" tanya Tiara sambil menyebutkan senyumnya.
"Eh…. Anu … itu basah, dan…."
"Oh… ini. Biarin aja. Nanti juga kering, kok." potong Tiara.
"Bukan itu maksudku. Tapi itu, guli-mu jadi kelihatan,"
"Udah lah. Kayak nggak pernah lihat yang gitu aja kamu? Lagian cuma kamu aja kok yang di sini." ujar Tiara santai tanpa beban, membuat Barno hanya bisa menggelengkan Kepala dan menarik nafas panjang lagi.
"Yok kita makan. Aku sudah lapar nih, hidangan yang kamu bawa sangat harum sekali," ucap Tiara mengalihkan suasana, setelah melihat kalau Barno menjadi merasa canggung.
®®®®®®®®®®®
Mohon dukungannya, ya.. semoga hari kalian semua bahagia.
__ADS_1