
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
"Shhhh…. Rasa yang dulu pernah hilang, kini dia telah kembali pulang. Akankah aku bisa terbang, damai bersama kli-maks!" batin Tiara menjerit dengan bernada.
Gerakan ping–gul Tiara sekarang maju mundur, untuk bisa mendapatkan gesekan yang begitu sempurna dengan batang Barno yang sudah keras total di bawah sana. Bahkan ce-la-na da-lam-nya sudah basah oleh cairan kental yang keluar dari dalam Goa Lembab Merah Berdaging Kenyal.
Ponsel yang dari tadi dipegang Tiara, diletakkannya di atas meja dengan cara menyadarkannya di asbak rokok, sehingga kamera ponselnya itu, bisa tetap merekam kegiatan mereka.
Barno yang sedang memangku tubuh Tiara, mulai mengeluarkan butiran keringat dan membasahi keningnya. 81r4h1 Barno mulai menjalar di setiap sel-sel sarafnya dan mengikis logikanya secara perlahan.
"Ehhhhh…. Apa kau baik-baik saja?" Tiara menghapus keringat di kening Barno.
"I–iya!" Napas Barno memburu dan matanya turun melihat ke arah belahan gunung putih milik Tiara yang membusung.
"Aku sungguh tidak menyangka, kalau punya kau ini sangat besar. Benar-benar di luar ekspektasiku selama ini." Tangan Tiara turun kebawah meraih dan mengusap batang Barno yang masih tersimpan di brangkasnya.
Sentuhan dari tangan lembut Tiara, membuat mata Barno melotot, tidak menyangka jika wanita yang ada di pangkuannya itu, begitu agresif dan pemberani. Tidak ingin membuat sebuah tindakan yang salah, Barno hanya diam dan menunggu tindakan selanjutnya dari Tiara.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan. Aghh…. Sial! Aku sudah sangat ingin menerkam tubuhnya ini, tapi aku takut nanti dia menyangka aku laki-laki brengsek, walau sebenarnya dia yang lebih dahulu memancing, tapi aku tidak mau terlihat brengsek di matanya." batin Barno menahan sekuat tenaga dari respon tangannya, yang sudah sejak tadi ingin mer-re-mas dua gundukan balon milik Tiara.
Tiara tersenyum melihat ekspresi Barno. "Huff, paling tidaknya aku lega mengetahui kalau kau masih normal."
"Tentu saja aku masih normal, bahkan sangat tangguh. Tapi untuk sekarang, bisakah kita menghentikan ini sejenak. Kita tidak harus melewati batas!"
"Oke, satu pose lagi. Ayo kita lakukan adegan 0r4l." Tiara turun dari pangkuan Barno dan duduk dengan membungkuk di samping pria itu, posisi kepala Tiara sekarang tepat di atas sel–ang–kangan Barno
"Tia, jangan! Aku takut tidak bisa mengontrol perasaan ini. Lebih baik kita sudahi saja sampai di sini. Bagaimanapun, aku sudah lama puasa, kemungkinan aku tidak akan sanggup puasa lagi jika seperti ini." Barno segera menutup pemukul bisbolnya dengan kedua tangan, di saat Tiara hendak meraih tonjolan tersebut.
"Jangan banyak ngomong, lepaskan tanganmu ini. Pose ini juga sangat penting dalam ceritamu. Kalau kau memang tidak sanggup menahannya lagi, apa boleh buat. Lakukan saja! Toh apa yang kita lakukan nanti, semua hanya sebatas saling tolong menolong," ucap Tiara dan meraih tangan Barno yang masih menyilang menutupi tonjolan tongkatnya.
"Jangan terlalu banyak, tapi. Kalau nanti setelah kita selesai melakukanya, dan kau merasa bersalah, itu gampang. Tinggal kau nikahi saja aku, aku tidak akan menolak. Kalau pun kau merasa tidak terjadi apa-apa dan merasa biasa saja, itu juga gampang. Kita kembali ke konsep semula, yaitu azas tolong menolong. Simpel, kan!"
Setelah berhasil menyingkirkan tangan yang menutup celah antara ke dua paha, Tiara memeletakkan tangan Barno di atas kepalanya sendiri, dan kembali berkata. "Sekarang tekan kepalaku ke bawah."
"Maksudmu?"
__ADS_1
Barno paham dengan apa yang diperintahkan oleh Tiara. Dengan menekan kepala Tiara, berarti akan mengarahkan kepala Tiara ke antara dua pahanya, yang artinya adegan oral pasti akan terjadi.
"Cepat tekan kepalaku, ini satu dari tujuh adegan yang harus terjadi ketika melakukan foreplay," ujar Tiara sambil tangannya mengeluarkan bambu tumpul milik Barno, yang tersimpan dengan baik di dalam celana pria itu.
"Tu–tunggu, adegan ini aku bisa membuat diksinya dengan baik. Kita lewatkan saja yang satu ini." Rasa gugup Barno semakin menjadi, ketika tangan Tiara telah menggenggam erat ujung bambu miliknya.
"Kenapa kau semkin pengecut. Menciptakan sebuah karya, butuh kerja keras dan perjuangan. Sudah, nikmati saja yang ada di hadapanmu sekarang."
Sedangkan di sebuah halte yang tidak jauh dari sebuah kampus, Mira berdiri menunggu bus trans. Dia terlihat begitu gelisah menunggu di sana, sudah sangat tidak sabar lagi untuk bisa segera bertemu dengan Barno, agar bisa berdamai lagi dan menjalani kebersamaan seperti yang lalu.
"Tumben bus-nya belum datang!" keluh Mira dalam hati, kedua tangannya saling meremas untuk menetralisir kegundahannya.
Tak kunjung juga muncul, Mira mengambil ponsel dari dalam tasnya, kemudian membuka sebuah aplikasi angkutan umum. Namun sayang, aplikasi yang ia buka tidak bisa teebuka karena kuota paketnya habis.
"Sialnya aku hari ini!"
Mira yang merasa sial karena begitu lama menunggu Bus. Tiara malah mendapatkan keberuntungan, dikarenakan ia telah berhasil mengeluarkan batang Barno dari brankas. Mata Tiara melotot lebar menyaksikan pusaka tersebut.
__ADS_1
"Sungguh ajaib, benda yang begitu sempurna. Struktur kepala kecilnya sangat antik dengan hiasan urat-urat yang menonjol di batangnya. Hmmm … Barno, kau menyembunyikan benda pusaka yang meng–gai–r4h–k4n," puji Tiara dalam hati seraya tangannya merayap menyentuh bibir miliknya di bawah sana.
🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔