
"Aku pindah dari kota ini."
Dari kecil Anggi selalu dekat dengan Mira, tidak ada yang dapat memahami dirinya selain Mira, bahkan ayahnya sendiri pun tidak. Sekarang ia harus jauh dari Mira, kenyataan itu sangat membuat hati Anggi sedih.
"Kenapa kamu tidak memberitahuku sebelumnya? Kenapa jadi mendadak seperti ini? Apa kami punya salah kepadamu? Apa kamu tidak menyayangiku lagi." Tidak terasa dengan semua pertanyaan tersebut, air mata Anggi keluar.
"Hei, hei! Kenapa kata-katamu jadi ngelantur seperti itu?" Mira berusaha untuk tersenyum, walau sebenarnya ia juga merasakan kesedihan seperti apa yang tengah dirasakan Anggi.
"Jangan seperti itu. Aku akan sering pulang, kamu nggak usah sedih seperti ini. Nanti aku bisa nangis juga," ucap Mira dan menghapus air matanya yang entah sejak kapan mengalir.
"Kamu harus segera kembali, jika tidak aku bisa mati kesepian," rungut Anggi manja.
Mira tersenyum dan kembali memeluk Anggi. "Jangan berbohong. Aku tau kamu tidak akan mati kesepian, karena Bang Jo akan selalu ada di samping kamu. Sekarang, dia adalah yang terpenting dalam hidupmu, bukan aku."
"Kau yang paling terpenting dalam hidupku." Anggi menyeka air mata setelah lepas dari pelukan Mira.
"Sudah, sudah. Aku berangkat dulu."
__ADS_1
"Hati-hati, Kakak," ucap Anggi melepas kepergian Mira.
Kata terakhir yang diucapkan Anggi sangat menyentuh perasaan Mira, sudah lama ia tidak mendengar kata tersebut keluar dari mulut Anggi. Sekarang, saat dia ingin pergi jauh, kata tersebut kembali terdengar dengan indah di telinganya. Tanpa menoleh, Mira tersenyum dengan kesedihan di dalam hati.
*****
*****
*****
"Kau beneran nggak pulang, Mira?" tanya Butet ketika Mira sedang duduk di teras rumah memandang malam yang penuh bintang.
Malam ini Mira sedang menginap di rumah Butet, sepupunya Barno. Besok pagi Butet dan sekeluarga akan berangkat ke tempat Barno, dan Butet meminta Mira untuk tinggal di rumahnya selama mereka pergi.
"Nggak, Tante! Aku baru diangkat jadi karyawan tetap, nggak enak kalau ngambil cuti secepat ini. Apa kata teman-teman karyawan yang lain, walaupun suami Tante sendiri yang jadi CEO-nya."
"Ya sudah kalau begitu." Butet tersenyum dan menepuk lembut paha Mira, lalu pergi ke kamarnya meninggalkan gadis itu sendirian.
__ADS_1
Mira menyadarkan tubuhnya, matanya menyapa jauh ke langit malam. Sebenarnya dia ingin menghadiri acara pernikahan Anggi. Tapi ia dalam tahap percobaan untuk merelakan cahaya hatinya redup.
Bukan hal yang mudah untuk melupakan orang yang begitu dicintai, bahkan hubungan yang telah di rajut belasan tahun lamanya. Setahun bukan waktu yang panjang untuk melupakan kisah tersebut, itu waktu yang begitu singkat bagi Mira, apalagi ini cinta pertama, dimana banyak para bangkotan cinta berpujangga, jika cinta pertama itu bagai saraf otak, mustahil akal hilang dari dalam pikiran.
Terbukti dengan semua kenangan masih terasa hangat dirasakan oleh Mira, hingga kerinduan berkali-kali menghantam perasaanya. Sakit? tapi Mira tetap bertahan demi kebahagiaan kedua orang yang penting dalam hidupnya.
Di sisi lain. mengetahui kalau Mira tidak akan datang, ada satu hati yang begitu sangat kecewa, dia adalah Barno. Harapannya untuk melihat wajah Mira hilang sudah, setelah mendengar pernyataan dari Anggi.
"kamu yakin dia tidak akan datang?"
"Ayah, kenapa wajah kau sangat kusut seperti itu? Seharusnya aku yang sangat kecewa dengan ketidak hadiran Mira. Aku yang lebih sangat mencintainya daripada Ayah," tutur Anggi dengan wajah lesu.
"Sepertinya obrolan kalian sangat seru?"
Tiara tiba-tiba muncul, Anggi pun pamit untuk memberikan kedua manusia tua itu untuk bisa berbicara dengan leluasa.
"Ibu, aku pamit kebelakang dulu."
__ADS_1