
🅾️🅾️🅾️🅾️🅾️🅾️🅾️🅾️🅾️🅾️🅾️
"Diamlah! Biarkan aku memijat kakimu. Besok aku akan memanggil tukang urut ke sini," ucap Barno dan mulai memijat pergelangan kaki Mira dengan hati-hati.
"Argghhhh! Panstatsku yang paling sakit sebenarnya, Paman!" keluh Mira lagi, dan tersenyum di balik bantal.
"Aku heran melihat kamu, Entah apa maksudmu menendang pintu. Lihat sekarang, kamu jadinya terluka." ujar Barno sambil menarik napas.
"Diamlah, Paman! Pijat saja pansthatsku. Ini semua tidak akan terjadi jika Paman tidak mengunci pintu," keluh Mira kesal melemparkan kesalahannya kepada Barno.
"Hmm … Kenapa jadi aku yang kamu salahkan." bentak Barno, dan mulai memijat panstats Mira. "Lagian, kalau aku nggak mengunci pintu, maka yang mengerikan akan pasti terjadi," ujarnya lagi.
"Itu lebih baik, daripada aku menjadi seperti sekarang, membuat badanku jadi ngilu semua," keluh Mira sinis.
Perlahan tapi pasti, pikiran Barno mulai kacau ketika memijit panstats gadis tersebut, karena gaunnya tersingkap dan memperlihatkan kulit pinggul yang begitu lembut, daging yang sangat empuk dan kenyal. Sehingga Barno tidak bisa berkonsentrasi untuk memijat.
"Paman!" Panggil Mira sambil menoleh ke Barno dengan wajah berkerut
"Hmm!" Barno terkesiap.
__ADS_1
"Kapan terakhir kau mengganti sarung bantalmu. Ini sangat bau," protes Mira mengandung ejekan
"Eh, maaf! Nanti aku akan menggantinya,".
"Lupakan. Toh, aku sudah terlanjur menciumnya."
Mira menatap tajam ke Baro ketika pria matang tersebut tidak lagi memijat panstatsnya. Ia terus berpikir, kenapa Pamannya itu selalu saja menghindar, walau ia telah melakukan segala cara untuk menggodanya.
"Apa benar aku sudah kalah dari ibuku."
Wajah Mira tiba-tiba murung ketika teringat kembali dengan apa yang telah dilakukan pamannya bersama sang ibu. Irisan yang begitu menyakitkan terasa di hatinya, tapi rasa sakit itu tidak seberapa dibandingkan di saat ia berpikir untuk melepaskan sang paman dari hidupnya, itu lebih dari sekan meledakkan hidupnya.
Belasan tahun rasa kagum singgah dalam hati, dan kini berubah menjadi cinta, dan terus berjuang menaklukkan hati sang pujaan. Kini penghalang muncul yang tidak lain adalah sang Ibu.
Mira menggeleng. "Aku mau tau, kenapa Paman harus mengunci kamar? Kenapa juga Paman tidak menyelesaikan yang tadi?"
Barno diam, tidak ingin menjawab pertanyaan Mira.
"Atau…. Apa karena Paman sudah melakukannya dengan ibuku, dan ingin menghabiskan aku?"
__ADS_1
….
….
….
Kondisi rumah masih gelap karena lampu masih belum juga nyala. Jo yang memegang senter berjalan memasuki kamar diikuti oleh Anggi. Ketika sudah berada di sisi ranjang, tanpa sengaja cahaya senter terarah ke celana da-lam Anggi yang tergeletak di atas ranjang.
Menyadari situasi yang terjadi, sontak Anggi melompat dan menduduki celana dala-mnya, agar tidak menjadi perhatian Jo yang sudah melotot ke arah si ******.
"Hehehehe…. Maaf! Aku sangat polos. Seharusnya aku menyimpannya, dan tidak sembarangan meletakkannya seperti ini." Anggi tersenyum kecil untuk menutupi rasa malunya.
"Oh. Nggak apa-apa, santai" ujar Jo
"Baiklah, ayo kita duduk dan ngobrol sebentar. Naiklah!" ajak Anggi, dan diam-diam membuang ****** ******** ke lantai, yang jauh dari jangkauan cahaya senter.
Pemuda itu naik ke atas ranjang, dan di duduk samping Anggi dengan bersandar di kepala ranjang.
"Oke! Pertama aku minta maaf atas kejadian tadi. Aku mendorong kamu karena tiba-tiba teringat sebuah kenangan," ujar Jo membuka pembicaraan atas kejadian di pemandian, setelah sekian menit mereka saling membisu.
__ADS_1
"Kenangan, ya!" gumam Anggi seraya memalingkan wajah dengan perasaan kecewa.
🅾️🅾️🅾️🅾️🅾️🅾️🅾️💫💫💫💫💫