I Love You Paman

I Love You Paman
BAB 61


__ADS_3

Jangan lupa dukungannya, ya


@@@@@@@@@@@@@


Merasa lelah untuk mengingat sesuatu yang menurutnya terlupakan, Mira bangkit menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Di bawah guyuran air shower, Ia mengoceh sendiri tentang apa yang telah dilakukan oleh Barno kepadanya, layaknya seperti seorang korban.


"Lihat saja, semua orang akan tau kalau dia pria mesum, lihat saja kedepannya apa yang akan terjadi, semuanya pasti akan mengerikan."


Lalu Mira menghadap ke samping, dan kembali berkata layaknya Barno ada di hadapannya. "Apa kau suka melakukannya denganku, Hah." Tangannya bergerak menunjuk ke tempat kosong beberapa kali.


Kembali ia menunduk lesu, seperti ada kesedihan yang ia rasakan. Namun, ia berusaha untuk menghibur dirinya dengan bermonolog, agar tetap semangat untuk meraih cinta kembali.


"Pria dan wanita tercipta untuk saling menyukai. Lagian aku tidak melanggar hukum apapun, aku juga tidak memiliki keraguan sedikitpun dengan perasaan ini. Aku mencintai Paman."


Senyum lebar kembali menghias di bibirnya. Ia segera menyelesaikan mandi, lalu kembali ke kamar. Dengan mengenakan gaun tipis transparan, ia segera menuju kamar Barno. 


Malam ini ia ingin membuat sebuah kenangan indah bersama pamannya itu. Apapun caranya, ia berniat untuk mematahkan keteguhan hati sang paman.

__ADS_1


Akan tetapi, Mira begitu kesal ketika berada di depan pintu kamar Barno. Berulang kali ia memutar handle pintu, tetap saja tidak bisa terbuka. Ia kemudian menempelkan kupingnya ke pintu untuk mendengarkan suara dari dalam kamar Barno.


Baro yang baru saja terlelap, terbangun ketika mendengar suara handle pintu kamarnya bergerak beberapa kali. Sejenak ia melihat ke arah pintu kamar, dan langsung menyadari siapa orang yang telah mencoba memaksa untuk membuka pintu.


"Ini pasti Mira!" gumamnya tidak peduli


Tidak ingin masuk dalam jebakan Mira, ia berusaha untuk menutup mata kembali, juga menutup kupingnya dengan bantal. Namun, suara berisik dari luar kamar, semakin membuatnya terganggu.


BRAK!


BUGH!


"Suara apa itu. Hmm … gadis ini!" gumamnya kaget.


Barno langsung bangun dari tempat tidur dan menuju pintu kamar setelah mendengar suara pintu kamarnya di tendang, bersamaan suara tubuh Mira yang jatuh. Setelah membuka pintu, Baro melihat gadis itu duduk di lantai sambil meringis memegangi pinggulnya yang sakit. Barno hanya bisa menghela napas. Lalu ia membantu Mira untuk berdiri.


"Ada-ada aja tingkah kamu, Mira," keluh Barno.

__ADS_1


"Auuu…. Kakiku sakit, Paman." Mira meringis kesakitan ketika ia hendak berdiri di bantu oleh Barno


Rasa sakit di pergelangan kakinya tidak sanggup untuk ia tahan, Mira pun kembali duduk di lantai sambil memegangi pergelangan kaki yang sakit.


"Makanya, jadi gadis itu yang baik, anggun,  jangan pecicilan kayak gini." Barn memeriksa pergelangan kaki Mira.


"Aku tadi tergelincir. Arghh … sakit Paman! Panstatsku juga. Bawa aku ke kamar, Paman!" pinta Mira meringis.


Ketika Barno hendak membantu Mira berjalan ke kamarnya dengan memapah, gadis itu kembali mengeluh.


"Aku nggak sanggup, Paman. Gendong!" pinta Mira memelas, wajahnya terlihat seperti orang yang perlu di kasihani.


Mau bagaimana lagi, Barno tidak tega melihat wajah Mira yang kesakitan. Ia pun menggendong tubuh gadis itu ke dalam kamarnya, dan langsung membaringkannya ke  atas tempat tidur.


"Arghh … panstatsku. Apa mungkin tulang ekor patah?" keluh Mira dan memutar tubuhnya untuk telungkup.


Semenjak kejadian sore tadi, Barno sadar betapa lemahnya dia sebagai seorang Paman, seharusnya dia bisa menjaga Mira, bukan malah menghancurkan masa depan gadis itu. Oleh karena itu, ia berniat untuk menjaga jarak dengan Mira, tapi bagaimanapun kuatnya keinginan untuk menjaga jarak untuk sementara waktu ini,  Barno tetap tidak bisa melakukannya, apalagi ketika melihat Mira sedang merintih kesakitan.

__ADS_1


🛀🛀🛀🛀🛀🛀🛀🛀🛀


__ADS_2