
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Seorang Dokter masuk ke dalam sebuah ruangan, dan menghampiri seorang wanita paruh baya yang duduk di sisi ranjang pasien.
"Sebaiknya Ibu jangan pula dulu, lebih baik di rawat di sini saja untuk beberapa hari lagi," ucap Dokter tersebut.
"Kalau saya dirawat beberapa hari lagi di sini. Apa saya bisa sembuh? Apa umur saya bisa bertambah?" tanya Tiara, wajahnya memancarkan keputus asaan, ia hanya ingin pulang dan menghabiskan sisa hidupnya di sekitar keluarganya, di sekitar orang-orang yang dicintainya.
Dokter tersebut hanya diam dan menghela napas, karena dia sendiri telah memvonis kalau umur Tiara hanya tinggal beberapa tahun lagi. Namun, sebagai seorang Dokter memiliki kewajiban untuk melakukan yang terbaik untuk pasiennya, paling tidaknya dari segi moral sang pasien, agar tidak mudah putus asa dalam menjalani sisa hidup.
"Bu Tiara…."
"Sudahlah Dok. Aku tidak apa-apa. Aku hanya ingin pulang dan menghabiskan waktu bersama anakku." Tiara tersenyum.
.
.
.
.
__ADS_1
Minggu sore yang begitu sangat cerah, Mira bersama Barno dan Anggi baru saja pulang dari Mall. Mereka pun masuk kedalam kamar masing-masing dengan membawa beberapa barang belanjaan. Setelah mengganti pakaian, Mira keluar dari kamar menuju ruang tengah, dimana Barno sudah duduk di sana sambil nonton tv.
"Paman!" seru Mira dan menghempaskan tubuh di samping Barno.
"Kelihatannya kamu bahagia sekali," ucap Barno sambil menyeruput kopinya.
Mira mendekati wajah Barno, berniat untuk mencium lamanya itu, tapi Barno langsung menarik wajahnya kembali setelah melihat Anggi muncul, dan ia merasa lega karena anaknya itu belum sempat melihat apa yang sedang dilakukannya tadi. Brno mencoba bersikap seperti biasa setelah Anggii duduk di samping Mira.
Cukup lama suasana hening, tidak ada percakapan yang terjadi diantara mereka, tapi tanpa sepengetahuan Anggi, Mira diam-diam sesekali mencuri cium pipi pamannya itu, membuat pria paruh baya itu meringis kesal dengan jantung berdebar, karena takut ketahuan oleh anaknya.
"Aku mau keluar dulu!" ucap Anggi pamit dan langsung menuju kamar.
"Anggi datang," ujar Barno dengan suara pelan.
Setelah menoleh ke arah Anggi yang keluar dari kamar, Mira segera merubah posisi duduknya seperti semula. Bagaimanapun ia tidak ingin kalau gadis itu curiga, apalagi sampai mengetahui sejauh apa hubungannya mereka.
Ketika Anggi baru saja duduk, tiba-tiba suara pintu depan terbuka. Mira begitu kaget dan senang karena yang muncul dari balik pintu adalah Tiara, ibunya. Berbeda dengan Anggi yang langsung berdiri dan berlari menghampiri Tiara untuk memeluknya penuh kerinduan.
"Apa kabar gadis kecilku. Bagaimana dengan kempingmu?" tanya Tiara sambil mengusap punggung Anggi.
"Baik dan menyenangkan!" Anggii melepaskan pelukannya dan mencium pipi Tiara.
__ADS_1
"Mana ayahmu?" tanya Tiara dan mengedarkan pandangannya.
"Tia," sahut Barno ketika pandanganya beradu dengan Tiara.
"Aku minta tolong, ya. Bantu angkat barang-barangku.
"Ah, iya!" jawab Barno dengan cepat.
"Aku juga ikut bantu, ya," ujar Anggi ketika Tiara hendak keluar.
"Nggak usah. Biar ayahmu saja yang melakukannya. Nanti kamu capek," seulas senyum menghias di wajah Tiara. "Mira sayang, kabar kamu gimana, Nak. Nggak nakal kan sama sama Pamanmu? Apa anakku nyusahin kamu, Bar?"
Mira merengut mendengar pertanyaan ibunya itu, tersirat kalau dirinya masih saja dianggap sebagai anak kecil.
"Nggak kok Buk!" jawab Mira merengut lucu.
Sedangkan Barno hanya menggelengkan kepala dan menjawab pertanyaan Tiara.
"Bagaimana mungkin anak secantik Mira bisa berbuat nakal. Dia sama sekali tidak membuat aku susah, dia sangat penurut dan pendiam." Mata Barno melirik ke arah Mira dengan kening berkerut, dan bibir mengerucut. Lalu Barno tersenyum simpul.
☑️☑️☑️☑️☑️☑️☑️☑️☑️☑️☑️☑️☑️
__ADS_1