
👻👻👻👻👻👻👻👻👻👻👻👻
Tiara mengambil tisu dan membersihkan cairan yang meleleh di antara kedua pa hanya. Lalu mengambil pakaiannya yang tergeletak di lantai, dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Beberapa saat duduk sendirian menunggu Tiara selesai di dalam kamar mandi, Barno hanya diam memikirkan semua kejadian yang telah ia lakukan bersama Tiara, semua telah terjadi, apapun ceritanya Barno merasa harus siap untuk bertanggung jawab. Jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam, ada rasa bersalah kepada Mira, karena telah menyentuh tubuh ibunya.
"Apa keputusan aku ini benar? Apa aku siap melepaskan perasaan ini kepadanya? Hmmm ... semoga semua baik-baik saja."
Semenjak mengurus Mira sewaktu sakit dulu, ada sebuah rasa yang menyelinap dalam hatinya, yaitu rasa ingin memiliki. Hingga tiba di saat Mira mulai menunjukkan perasaannya melalui sikap dan tingkahnya, Barno merasa sangat senang, karena perasaannya tersambutkan.
Akan tetapi, disebabkan sebuah pemikiran norma yang ada, perasaan Barno terbelenggu begitu kuat. Seorang anak kecil yang ia rawat dari kecil, bagaimana mungkin ia bisa berniat untuk memiliki seutuhnya dibawah nama cinta.
Begitu juga dengan Tiara yang berada didalam kamar mandi. Ada sebuah penyesalan menyelimuti hatinya. Namun, waktu begitu cepat terus mengejarnya. Hanya ini cara satu-satunya untuk mengikat Barno, supaya Mira misa mendapatkan kasih sayang secara utuh dari pria tersebut, setelah kepergiannya nanti. Tidak ada manusia di dunia ini yang bisa ia percaya untuk menitipkan Mira. Tidak sampai dua tahun, waktu akan berhenti untuknya.
__ADS_1
"Sudah jam 12, aku berangkat dulu," ujar Tiara yang sudah keluar dari kamar mandi dalam keadaan rapi.
Ponsel yang terletak di atas meja ia raih, dan mengeluarkan memory card-nya, ia berikan memory tersebut kepada Barno.
"Simpanlah, aku yakin ini sangat membantu untuk membuat cerita yang menarik." Tiara mengambil tasnya, sejenak menatap Barno, dan Kemabli berkata, "terima kasih!"
Bersamaan itu, Mira sudah berada di depan rumahnya sendiri, ia masuk ke dalam dan langsung menuju kamarnya untuk mengganti pakaian. Cukup lama ia berada di depan lemari, mencari pakaian yang diinginkannya untuk menemui Barno.Â
Sebuah pakaian kuno menjadi pilihannya, yaitu pakaian sekolah SMA-nya.
Segera Mira memakai baju sekolahnya waktu SMA, setelah itu ia memutar tubuhnya di depan cermin dengan riang. Ia begitu senang dan bangga dengan pesonanya.
"Haisshh … tidak disangka aku semakin cantik dan ayu. Hahahahahahah!"
__ADS_1
Di sebelah rumahnya, Tiara sudah keluar dari rumah Barno, membawa segudang perasaan yang berkecamuk. Ia mengambil ponselnya, dan menelpon seseorang untuk diajak ketemuan.
Di tempat lain, Universitas Graha Buana. Anggi tengah berdiri di depan perpustakaan dan memperhatikan Jo sedang membaca buku. Tanpa ia sadari, ada wanita lain berdiri di sampingnya memandang Jo dengan kagum. Wanita itu adalah Liana Keizia, dia yang berbicara dengan Jo ketika Anggi ditolak pemuda tersebut ketika diajak untuk makan siang.
"Bang Jo … gantengnya!" seru Anggi menggumam.
"Ya, dia memang tampan dan menarik. Rasanya ingin memeluknya langsung" sahut Liana.
"Pergilah! sapa dan peluk dia," ujar Anggi, masih belum menyadari siapa wanita yang di sebelahnya. Namun, ketika mereka berdua saling melirik. Sontak Anggi menjerit kaget, begitu juga dengan Liana.
🤧🤧🤧🤧🤧🤧🤧🤧🤧🤧🤧🤧
__ADS_1
dukung ya cerita ini juga