
ππππππππππππππ
POV MIRA
*************
Paman begitu kaget ketika kutanya tentang hubungannya dengan Ibu. Sepertinya ia tidak menyangka pertanyaan tersebut keluar dari mulutku. Awalnya Paman mengelak, tapi setelah aku menceritakan semua yang telah aku ketahui tentang hubungan mereka, dia tidak bisa berkutik lagi.
Semua berawal ketika aku menemukan memory cardΒ di depan pintu kamarnya yang ternyata berisi adegan mereka. Sakit hati? Itu pasti. Aku sangat kecewa, sedih. Selama ini ibu dan Paman menjalin hubungan tanpa sepengetahuanku. Satu harian penuh, semangatku untuk menjalani hari tiba-tiba redup seketika.
Akan tetapi api aku kembali berpikir, tidak ada yang salah dalam hal ini. Ibu, Paman dan aku, tidak pernah bersalah, karena memang begitulah cinta. Gejolak cinta yang ku alami kepada Paman, tidak membuatku kecewa atau putus asa, walau apa yang telah mereka lakukan adalah hal yang menjijikkan, tapi apa bedanya mereka denganku, selama ini aku terus mendekati paman dengan hal menjijikan juga.
Mereka, ya mereka! Aku, ya aku!
Kalau memang aku kalah dengan Ibu merebutkan cinta Paman, biarlah! Tapi aku akan tetap meraih Paman, sebelum janur terikat di antara mereka. Tidak ada salahnya untuk mencoba, itulah yang aku pikirkan.
__ADS_1
Sudah hampir 15 menit kami saling diam. Aku pun kembali bertanya ke Paman.
"Bagaimana selanjutnya rencana hubungan kalian?" tanyaku memecahkan kebisuan diantara kami.
Paman menarik napas. Aku berpikir kalau pertanyaanku itu terlalu berat untuk dijawab olehnya, tapi tidakβ¦.
"Kami belum sempat membicarakannya dengan serius, tapi aku sudah mengutarakan niatku melalui telepon beberapa hari yang lalu, untuk menikahi ibumu, dan juga akan mengadopsi kamu secara sah sebagai anakku. Aku yakin ibumu akan berpikiran sama denganku."
Ternyata seperti itu. Paman telah jauh berpikir ke depan tentang hubungannya dengan Ibu dan juga aku. Sepertinya kata kemenangan sangat jauh dari jangkauanku. Aku tidak sedih jika kalah dengan ibu, aku hanya kecewa dengan sikap Paman yang masih menganggapku sebagai gadis kecilnya, padahal kami telah melakukan banyak hal bersama, walau masih ada batasan yang dijaganya. Namun, hubungan itu sudah terlalu jauh bagiku.
"Jangan terlalu banyak berpikir sekarang." Paman diam sejenak, Lalu kembali bertanya, "Apa kau sudah menghubungi ibuku? apa dia menjaga kesehatannya?"Β
Aku hanya bisa tersenyum sinis dalam hati. Entah kenapa, walau hanya sedikit, masih ada terasa sakit di hati ketika mendengar pertanyaan Paman itu. Bersyukur ia duduk membelakangi, sehingga tidak melihat air mataku yang entah sejak kapan keluar.Β
"Paman!"
__ADS_1
"Hmmβ¦!"
"Pernahkah Paman berpikir tentang tubuhku, apalagi setelah kita melakukannya. Adakah keinginan Paman untuk meniduriku?"
Paman tertunduk mendengar pertanyaanku. "Maaf!"
Hanya itu yang keluar dari mulut Paman. Aku menganggapnya kalau paman tidak pernah tertarik menggauliku secara utuh. Namun, aku masih bertanya-tanya dalam hati, apa alasan dia mau memberikanku kenikmatan itu melalui sentuhannya.
"Apakah selama ini PamanΒ menganggap apa yang kita lakukan itu, hanya sebuah ilusi?" tanyaku lagi sambil mengusap air mata, kemudian aku berbaring miring untuk membenamkan wajahku ke kasur.
"Ituβ¦. Maaf. Akuβ¦.!"
Lagi-lagi perkataannya tergantung, padahal aku sangat berharap dia menjawab kalau semua yang dilakukannya denganku, adalah kejadian nyata. Sesuatu yang benar-benar disadarinya dan tergerak karena adanya cinta, walau hanya secuil.
"Sudahlah! Lupakan saja, tidak ada gunanya juga kita membicarakannya." Aku segera menghapus sisa air mata agar tidak terlihat olehnya. "Kemarilah, Paman, tidurlah! Aku janji tidak akan bandel lagi," ucapku tersenyum agar terlihat kalau aku baik-baik saja.
__ADS_1
ππππππππππππππ