
Maaf telat Up, Paman lagi sakit empat hari ini, asam lambung naik.
Jangan lupa untuk dukungannya, jangan bosan untuk Like, komentar, fav, bunga atau kopi, dan juga 🌟🌟🌟🌟🌟
*************************************
Mira bangun dengan peluh menyelimuti tubuhnya, Mimpi yang sama terulang lagi, mimpi cu-m-bu -an bersama sang Paman tercinta. Kali ini kisahnya, Mira sebagai pembantu dan pamannya sebagai tuan.
Dikala sang Tuan yang hidup menduda selama beberapa dekade, tidak ada wanita yang bisa membuat hatinya luluh. Namun, Mira sang pembantu mampu meluluhkan hatinya, hingga akhirnya mereka menikah, dan di malam pengantin sebuah adegan yang begitu romantis, hilang begitu saja karena ia terbangun.
"Huh, mimpi yang aneh, tapi menghanyutkan. Jantungku masih terus bergetar."
Turun dari ranjang, sebentar melihat ke arah Anggi yang masih tertidur, lalu beralih melihat jam dinding. Pukul 7:13 WIB. Mira keluar dari kamar dan langsung menuju kamar mandi. Sebentar mencuci muka dan menggosok gigi. Setelah itu keluar lagi dan duduk di balik meja makan.
Temenung di balik meja makan menatapi hidangan yang ada di atas meja. Sadar kalau hidangan selejat itu tidak mungkin buatan ibunya.
"Hmmm…. Paman! Mau membujukku dengan masakan enak ini. Tidak akan mempan," gumam Mira seraya tersenyum tipis, dalam hati sebenarnya ia sangat senang. Namun, Mira ingin bermain-main sejenak dengan perasaan pamannya itu beberapa hari ini.
"Udah bangun, sayang?" sapa Tiara yang baru saja keluar dari dalam kamarnya dengan pakaian rapi, siap untuk berangkat kerja.
"Ibu sudah mau berangkat kerja?" tanya Mira balik sambil menyanduk nasi dan lauk kedalam piringnya. Sejenak berpikir dengan panggilan sayang yang di ucapkan ibunya itu.
Beberapa tahun terakhir ini, Mira tidak pernah lagi mendengar kata sayang dari mulutnya ibunya, tapi pagi ini kata itu berkumandang lagi. Mira tersenyum bahagia, sembari menatap punggung ibunya yang sedang memakai sepatu.
"Iya. Maaf ya, ibu nggak bisa nemenin kamu sarapan," ucap Tiara dengan wajah penyesalnnya.
__ADS_1
"Hmm! sahut Mira sambil mengunyah makananya.
"Hai, Ibu. Mau berangkat kerja?" Anggi yang baru saja bangun dan keluar dari kamar, langsung menyapa ketika melihat Tiara berada di depan pintu keluar rumah.
"Eh, udah bangun. Kalian sarapan aja dulu, ya. Maaf ibu nggak bisa nemenin." Tiara melambaikan tangan, lalu keluar dan menutup pintu.
Mira mulai makan dengan lahap. Tidak perduli dengan kedatangan Anggi dengan senyum mengejek.
"Kayaknya ada yang sudah adem, nih," ejek Anggi sambil berlalu menuju kamar mandi, Gadis itu tentu juga ta makanan yang ada di atas meja pastilah masakan buatan ayahnya.
Sejenak Mira menghentikan kegiatan makannya, seulas senyum simpul menghias wajah. Bayangan tamparan Barno kembali terngiang, tapi bukan kebencian yang terlihat di wajah gadis itu, melainkan senyum yang semakin lebar, hingga memwpelihatkan giginya yang puti dan rapi bagaikan jagung merek delapan kuda.
"Aku tidak akan marah Paman, aku yang salah, aku yang kelewatan batas, tapi jangan harap aku akan mengalah. Kita lihat, siap yang kuat di antara kita. Aku yakin, paman akan segera meminta maaf padaku. Hahahahahahahaha. Kau akan kalah paman dalam perang marah-marahan ini." Bola mata Mira memancarkan cahaya Dewi Perang Cinta.
"Ya elah! Nggak usah malu gitu, kalau mau makan, ya makan aja. Nggak usah malu. Aku nggak bakalan bilang kok, sama ayah kalau kamu makan masakannya dengan lahap." Anggi yang tiba-tiba sudah muncul membuat Mira kaget.
Ketika sedang asik makan, ponsel Anggi yang tertinggal di kamar Mira terdengar berdering, segera ia mesuk kekamar tersebut, sesaat kemudian kembali lagi ke meja makan.Â
"Ganggu orang sarapan aja," keluh Mira.
"iapa, Gi? Ok amu eliat ecal" tanya Mira yang sedang mengunyah.
"Ngomong apaan sih? telan dulu tuh makanan, baru ngobrol," ujar Anggi tertawa geli.
Setelah menelan makanan dan mengeuk air putih, Mira kembali bertanya, "Kenapa kau kelihatan kesal?"
__ADS_1
"Oh, itu pacarmu nanyain kamu?"
"Hah! Pacar! Perasaan aku belum punya pacar," elak Mira dengan wajah bengong.
"Ayahku!" ucap Anggi dengan santai tanpa beban.
"Orang serius ngomong, kau malah ngajak becanda. Untung aku belum ngunyah kalau nggak aku bakalan mati keselek," celoteh Mira.
Walau hanya sebuah candaan, tapi hati Mira menjadi tidak karuan, jantungnya hampir berhenti berdetak. Takut kalau Anggi benar-benar berpikir kalau dirinya dan sang Paman sudah pacaran. Jika itu terjadi, maka langkah Mira selanjutnya bakalan mendapat rintangan yang begitu besar.
"Sialan si Anggi, bikin down orang aja. Kalau dia sampai berpikiran seperti itu. Bisa tamat ceritaku." Mira menghela napas lega.
"Mir, hari ini kita nggak ada kuliah, kan? Gimana kalau habis ini kita shoping,dan jalan-jalan seharian? Aku semua yang bakalan bayar belanjaan kamu," ucap Anggi setelah beberapa menit diam untuk menyantap sarapan sampai habis.
Mira yang juga sudah selesai sarapan dan hendak mengantar piring kotornya ke wastafel, seketika melotot senang. Namun, raut wajah senang itu hanya sesaat.
"Hm, mencurigakan!" gumam Mira menatap dalam kemata Anggi sambil mengacungkan dan mengiyang beberapa kali jari telunjuknya.
Hanya senyum cengir yang bisa di tunjukkan Anggi, karena ia tau kalau Mira bakalan tau maksud dari ajakannya itu. Ketika tadi dering ponsel Anggi berbunyi sewaktu dia hendak sarapan tadi, itu adalah telpon dari Barno, memberi tau kalau sejumlah uang sudah di transfer ke rekening Anggi, untuk mengajak Mira jalan-jalan.
"Sudah aku duga dari wajahmu itu, pasti ini ide dari Paman. Berapa uang yang dia transfer?" tanya Mira langsung pada intinya.
"Lumayanlah buat jalan-jalan sehari dan shoping untuk kita berdua," jawab Anggi.
"Oke, saran aku terima, tapi marahannya masih berlaku untuk paman, belum ada kata angkat bendera putih buat dia."
__ADS_1
"Terserah kamu, deh. Sekrang kita siap-siap." Anggi beranjak, lalu pamit pulang kepada Mira..