I Love You Paman

I Love You Paman
BAB 13


__ADS_3

Anggi hanya bisa menunduk lesu dengan wajah merengut, disebabkan  Barno membandingkan dirinya dengan Mira.


"wajar saja Mira nggak pernah keluar malam, dia kan nggak punya pacar," batin Anggi kesal.


Sedangkan Mira  juga merengut kesal, karena gagal mengambil mie milik Barno.


"Paman! Bagi mienya, ya!" rayu Mira setelah pindah tempat duduk di samping Barno.


"Ayo. Makan mie bersama paman, sayangku," canda Barno tersenyum lebar.


Mira hanya bisa cengengesan menanggapi candaan Barno, padahal di dalam hati ia begitu senang ketika pamannya itu memanggilnya sayang, dan langsung mengambil mie dengan sendok garpu, lalu memasukkan ke dalam mulutnya, bersamaan itu Barno juga mengambil mie juga.


"Kenapa kau bisa makan banyak sekali?" tanya Barno sambil menyuap mie kedalam mulutnya dengan lahap.


Siapa sangka mie yang mereka suap ke dalam mulut mereka ternyata satu. Barno menyeruput ujung mie yang satunya, begitu juga dengan Mira.


Tentu saja kejadian itu membuat Mira senang, dengan begitu dia punya jalan untuk bisa men-ciu-m bibir Barno. Dengan cepat Mira menyeruput mie dari ujung sisi lain, diikuti dengan dengan gerakan kepala maju, sehingga wajah mereka semakin dekat.

__ADS_1


Anggi yang sedang minum terkejut melihat adegan yang ada di depan matanya, bahkan membuat air yang ada di dalam mulutnya tersembur.


"Hei…. Apa yang kalian berdua lakukan!" jerit Anggi tidak percaya ketika melihat bibir Mira dan ayahnya hampir bersentuhan.


Jeritan Anggi membuat Barno terkesiap, tapi berbeda dengan Mira, ia tidak peduli dengan keterkejutan Anggi. Segera ia menyeruput mie hingga akhirnya bibirnya bersentuhan dengan Barno.


Cup!


Bibir mereka menempel cukup lama, dan mata mereka saling menatap. Barno menatap tidak percaya, sedangkan Mira menatap penuh bahagia.


"Ah…. Akhirnya!" batin Mira dan kembali duduk seperti semula setelah merasakan bibir pamannya yang asin dan pedas karena rasa mie.


Mira hanya cengengesan menanggapi celotehan Anggi dengan wajah tersipu malu. Sedangkan Barno hanya menatap Mira, masih tidak percaya kalau bibirnya telah bersentuhan dengan bibir Mira yang begitu lembut dan kenyal.


"Apa," seru Mira saat mengetahui kalau Barno terus-terusan menatap dirinya.


"Ng-ngak apa-apa!" ujar Barno gagap.

__ADS_1


"Kalian ini, buruan selesaikan makan kalian!" bentak Anggi.


"Iya Nyonya!" Barno dan Mira menjawab bersamaan sambil tersenyum menanggapi kejengkelan Anggi.


Setelah selesai makan, Anggi dan Mira membereskan meja makan. Sedangkan Barno pergi ke belakang rumah, dimana ada taman kecil milik Anggi dengan beberapa jenis bunga. Di sana juga ada sebuah tempat duduk dengan meja yang terbuat dari potongan pohon besar.  Barno sering duduk di sana untuk mencari ketenangan, dan juga inspirasi untuk membuat sebuah karya novel.


Barno mengambil sebatang, lalu menyalakannya dan menghisap rokoknya dengan dalam. Sekali hembusan asap rokok yang ia hisap mengepul di udara. Dalam kesendiriannya Barno kepikiran tentang Mira yang akhir-akhir ini sikapnya terlalu aneh, sangat jauh berbeda dengan Mira yang ia kenal waktu dulu, gadis kecil yang begitu imut, lucu dan menggemaskan, berbanding terbalik dengan sekarang.


Sejenak pikirannya kembali kemasa lalu, dimana saat itu Mira sedang lucu-lucunya dan membuatnya gemas. Di saat pikirannya terbang ke masa lalu, Mira muncul dan duduk di sampingnya.


"Ada apa Paman?" Mira memukul bahu Barno dengan kuat.


PLAK!


"Astaga, laknat! Kau mengejutkan aku lagi, Mira. Jantungku hampir saja berhenti. Kau nggak kasihan-kasihannya sama orang tua kayak aku," celetuk Barno sangat kaget dengan kemunculan Mira.


Malam yang begitu, bulan purnama bersinar dengan lembut, diiringi gemerlapan bintang.  Mereka berdua duduk menatap langit, menikmati keindahan bulan. Suasana yang begitu sempurna dengan temaram lampu di tengah taman kecil tersebut.

__ADS_1


Barno menopang dagu dan beralih menatap taman kecil, lalu melirik Mira yang tengadah ke langit yang begitu menikmati keindahan bulan. Kembali Barno menghisap rokoknya dan menghembuskan asap rokok dengan kuat, lalu kembali melihat taman kecil milik Anggi.


Mira yang sedang menatap langit malam yang indah, menoleh ke arah Barno. Matanya seketika tertuju ke tubuh pamannya itu. Kaos yang begitu ketat, menggambarkan lekuk tubuh Barno yang kekar dan berotot.


__ADS_2