
jangan lupa dukungannya. like, komentar, fav, bunga dan kopi serta 🌟🌟🌟🌟🌟
kalau ada typo mohon beritahu ya. maklum mata udah min, walau udah di koreksi, nggak menutup kemungkinan ada yang kelewatan.
selamat bahagia semua
®®®®®®®®®®®®®®®®®
Mira keluar dari apotik dan memutuskan untuk pergi sebentar ke pasar membeli keperluan misinya. Namun, baru beberapa langkah Anggi sudah muncul dan langsung mengajukan pertanyaan.
"Kamu sakit apa? Aku lihat kamu tadi keluar dari dalam apotik." selidik Anggi
"Cuman nanya informasi medis aja." jawab Mira asal.
"Ya udah, yuk pulang," ajak Anggi.
"Bentar, aku mau ke pasar dulu beli sesuatu."
"Mau beli apaan sih? Tadi diajak nggak mau! Ribet amat hidupmu. Besok aja belanjanya." Anggi menarik tangan Mira untuk pulang.
Tidak berapa lama, mereka pun sampai di depan rumah, Mira turun dari skuter dan langsung masuk ke dalam rumah Anggi.
"Eh, kau nggak pulang ganti baju dulu?" tanya Anggi sambil memasukkan skuter kedalam garasi.
"Nanti aja, Lagian rumahku juga di sebelah, kok. Entar malam juga bisa."
"Kalau ibu pulang kemalaman, emang kamu berani sendirian?" tanya Anggi lagi.
"Ya, pake bajumu dong," ujar Mira santai.
Anggi langsung menuju dapur untuk menyimpan belanjaan ke dalam kulkas. Sedangkan Mira teriak-teriak memanggil Barno.
__ADS_1
"Paman ... Paaaman. Ayah Anggi, oh Ayah Anggi! kamu dimana Ayah Anggi…."
Tidak ada sahutan, Mira pun menuju kamar Barno dan membuka pintu dengan pelan.
"Paman," panggilnya.
Terlihat suasana kamar Barno begitu rapi, menandakan kalau yang punya kamar sedang tidak ada. Mira pun menuju ruang makan, dan membungkuk melihat kolong meja.
"Ayah Angggiiii!" panggilnya lagi dengan bernada, layaknya memanggil dengan lembut seorang anak kecil yang sedang sembunyi karena merajuk.
PLAK!
"Eh, kullup," jerit Mira kaget ketika Anggi memukul pinggulnya dengan kuat.
"Kau benar-benar sudah sengklek," rutuk Anggi sebelum Mira angkat bicara. "Kau kira Ayah anak kecil apa? harus sembunyi di bawah meja."
"Mana tau, kan. Paman mau main petak umpet denganÂ
Anggi mengambil ikan Nila dari dalam kulkas. Sedangkan Mira menyiapkan bumbu yang terdiri dari bawang merah, bawang putih, cabe merah, batang serai, daun salam, asam gelugur, buah kemiri, jahe, lengkuas, kunyit, air santan dan juga daun jeruk. Semua bahan-bahan itu digunakan untuk memasak gulai ikan nila.
Ketika Mira hendak mengupas kulit bawang, ia sejenak memperhatikan bawang tersebut. Teringat akan perkataan si penjaga apotik, kalau bawang yang ada di tangannya saat ini, sangat ampuh untuk keharmonisan dalam hubungan antara pria dan wanita.
Anggi yang sudah selesai membersihkan ikan, heran melihat Mira yang termenung memperhatikan bawang merah.
"Kau ngapain? buruan siapkan bumbunya."
Mira tersadar dari lamunannya. "Eh, iya, iya."
Segera Mira mengupas bawang, kunyit, jahe dan lengkuas, lalu memasukkan semuanya kedalam blender, tidak lupa juga ia menambahkan kemiri dan juga cabai merah. Dalam hitungan detik, Semua rempah-rempah tersebut hancur menjadi satu. Kemudian Mira menumis bumbu yang sudah diblender-nya.
Aroma wangi dari bumbu yang ditumis Mira, seketika menyebar memenuhi ruangan dapur.
__ADS_1
"Mir, nanti kalau Bang Jo jadi ikutan kemah, terus gimana nantinya. Padahal kau tau sendiri, acara kemah yang diadakan kampus untuk anak-anak fakultasku sudah batal," ujar Anggi yang sedang mencuci beras.
"Nggak usah dipikirin, nanti biar aku yang ngatur kalau dia jadi ikut."Â
Mira memasukkan air santan dan mengaduk supaya semua bumbu larut. Setelah kuah gulai mulai sedikit panas, Mira memasukkan ikan Nila. Mira tetap terus mengaduk pelan hingga masakannya mendidih, agar santan tidak pecah, dan menggumpal.
Di tempat lain, Barno dan Tiara sedang duduk didalam sebuah cafe. Barno meneguk minumannya, lalu menatap Taira dalam-dalam.
"Kau harus memberitahu Mira. Tidak baik jika terus menerus disembunyikan." ujar Barno.
"Aku nggak mau dia jadi sedih, dan menghabiskan waktu dengan sia-sia hanya karena aku." Tiara menghela napas lalu menyandarkan punggungnya.
"Aku nggak tau apa yang kamu pikirkan, tapi ingatlah. Di saat dia mulai membencimu, saat itu pulalah penyesalannya begitu besar ketika dia kehilanganmu. Apa kamu mau dia menyesali sesuatu sepanjang hidupnya."
Tiara hanya diam, dan memikirkan setiap perkataan Barno dalam benaknya.Â
"Justru itu, aku mau kau memberikan kasih sayang kepadanya secara utuh. Sejak kecil, dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah. Sedangkan kasih sayang seorang ibu, aku rasa sudah cukup baginya untuk menjadi kenangannya di masa yang akan datang. Dan aku yakin, setelah kepergianku nantinya, dia pasti tau kalau aku sangat menyayanginya," kata Tiara panjang lebar.
Mendengar apa yang sudah disampaikan oleh Tiara, Barno hanya diam, walau perkataan wanita yang ada di hadapannya itu bertentangan dengan jalan pikirannya, Barno hanya bisa menerima, dan membuat posisinya sebagai pendengar yang baik, tanpa harus menyalahkan sikap Tiara yang menurutnya terlalu egois.
"Hmm. Kalau kau berpikiran seperti itu, silahkan saja. Aku janji, akan membuat Mira bahagia dan membuatnya tidak kekurangan kasih sayang dari orang tua. Tapi aku juga ingin kau jangan putus asa, aku akan membantu sekuat upayaku, supaya keluarga kita tetap utuh."
"Makasih, Bar!" Tiara tersenyum tipis.
****************
.
.
.
__ADS_1