
jangan lupa dukungannya, Like, komentar, fav, bunga atau kopi dan juga 🌟🌟🌟🌟🌟
®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®
"Mau marahin aku, ya. Lihat saja apa yang aku lakukan."
Walau Barno memasang wajah kesal, tapi Mira malah semakin menjadi-jadi menggoda Pamannya itu. Ia pun segera memutar tubuhnya, dan melipat kedua tangan di sandaran sofa, setelah itu Mira menyembunyikan wajahnya sambil berpura-pura terisak sedih.
"Mira!" panggil Barno dengan lembut, ia merasa tidak enak hati karena sudah membuat gadis kecilnya sedih. Barno pun mengusap punggung Mira dengan lembut.
Kejadian selanjutnya membuat Barno kaget. Mira langsung memeluknya dan berkata, "Paman tau, kan? Kalau aku itu mencintai Paman. Apa Paman mencintaiku juga?" tanya Mira dan terus berpura-pura terisak.
"Tentu saja, kita ini keluarga. Jadi, harus saling mencintai dan menyayangi." Barno kembali mengelus punggung Mira.
Anggi yang samar-samar mendengar percakapan itu, hanya bisa menggelengkan kepala. Dalam hati berkata. "Entah kenapa aku jadi takut melihat keakraban mereka. Terasa sangat janggal."Â
"Terima kasih, Paman." Mira langsung mencium pipi Barno, dan perlahan kembali naik ke pangkuan pamannya itu.
"Mira hentikan. Hei, hentikan, lihat itu ada Anggi di depan kita. Nggak enak kalau dia sampai melihat!" ucap Barno dengan suara begitu pelan.
Mira tidak mempedulikan himbauan Barno, dan terus men ci umi pipi pamannya itu.
__ADS_1
"Hanya beberapa ci um an. Bukankah Paman bilang tadi kita ini keluarga? Bukankah seorang putri bisa men ci um ayahnya." Mira memegang kedua pipi Barno, mata mereka saling beradu dengan cara pikir masing-masing mengenai hal ci-um-an itu.
"Benar! Tapi maksudku bukan seperti itu…."
Barno berusaha meronta supaya lepas dari cengkraman jahil Mira. Akan tetapi, semakin ia meronta, benda miliknya yang di bawah, semakin kuat juga meronta dari tidurnya.
"Jangan berisik, dan jangan bergerak." sentak Mira pelan.
Jantung Mira semakin tidak karuan ketika tubuh Baro meronta, Sebuah benda panjang tepat mengganjal di bawah sana, membuat Mira bernafas tidak teratur. Walau ia menyukai se-n-sasi tersebut, tapi ada Anggi disekitar mereka, yang mengharuskannya berhati-hati.
"Paman, diamlah! Jangan bergerak terus.!"
"Sial, prank ini sudah keterlaluan," batin Barno semakin gelisah. Bagaimanapun ia juga lelaki normal, walau otaknya menolak, tapi secara batin pasti ada reaksi yang terjadi. Jangankan bergesekan langsung, jika seorang pria bermimpi saja, bisa menghasilkan endapan.
Mira menatap tajam, Barno akhirnya berhenti memberontak. Gadis itu pun segera menjulurkan lidah menyapu bi-bir Barno, membuat pria itu terbelalak. Sungguh tidak menyangka kalau Mira akan melakukannya.
Bersamaan itu, Anggi yang sedang mengerjakan tugas kuliahnya menoleh kebelakang. Sungguh ia sangat terkejut dengan apa yang mereka lakukan.
"A–apa..!" jerit Anggi shock.
Mendengar suara Anggi, sontak Barno langsung mendorong tubuh Mira, hingga terjungkal sampai punggungnya menghantam sisi meja.
__ADS_1
"Aghh," jerit Misa kesakitan.
"Ah, sial. Aku mendorongnya terlalu kuat. Tapi, aku tidak boleh terlihat lemah di hadapannya. Candaan ini harus segera dihentikan."
Walau bertentangan dengan hati nuraninya, Barno tetap mempertahankan sikap marahnya dihadapan Mira. Sedangkan Mira, ia menatap Pamannya itu dengan tajam, dan berharap jika apa yang terjadi sekarang, adalah gurauan saja.
"Ke–kenapa kau lakukan ini Paman?" tanya Mira, berharap kalau Barno akan minta maaf dan mengatakan kalau dirinya tidak sengaja melakukan itu.
"Jangan pernah lakukan itu lagi!" Intonasi Barno begitu tegas, walau suara tidak tinggi.
Kaget, tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Mira segera meraih ujung bagian bawah baju Barno, ketika pria itu hendak pergi. Namun, tangannya langsung ditepis dengan kasar.
"Apa yang salah? Kenapa kau melakukan ini?" tanya Mira, tidak terima dengan dengan sikap Barno yang menepis tangannya dengan kasar.
Barno hanya diam, dan mendengus. Mira kemudian berdiri. Sedangkan Anggi hanya diam menyaksikan pertengkaran itu, karena kejadian itu menurutnya hal biasa, seperti waktu sebelum-sebelumnya. Pertengkaran kecil yang hanya berlangsung beberapa menit saja, setelah itu akur lagi dan bercanda, tertawa bersama.Â
"Apa hanya karena hal sekecil itu? Cuman beberapa ciu-man saja, Paman semarah itu sama aku? Hanya karena aku menjulurkan lidah, apa itu menjadi bencana besar! Bukankah kau bilang aku seperti anakmu? Kita keluarga. Bisa saja kan Paman menanggapinya dengan tertawa, tapi Paman marah dan mendorongku dengan kuat." Mira meluapkan kekesalannya.
"Itu terlalu berlebihan, bahkan untuk keluarga. Pria dan wanita dari satu keluarga tidak boleh ber ci u man."Â
"Oh ya. Pria dan wanita. Jadi hubungan kita seperti itu? Kau melihatku sebagai seorang wanita? Tadi kau bilang kita keluarga, tapi kau tidak melihatku seperti itu. Sepertinya aku harus menjaga jarak darimu mulai sekarang. Jika tidak, kau akan menerkamku suatu saat nanti."
__ADS_1
"MIRA!"
PLAK.