
Barno berjalan mengitari Tiara yang duduk di kursi roda elektrik, mendorong menjauhi keramaian para pekerja yang mendekor rumah Barno.
"Kenapa kau keluar? Kesehatan kamu sekarang sudah menurun drastis."
"Tidak apa-apa. Aku hanya bosan di dalam kamar sendirian."
"Tiara!"
"Hmmm."
"Lebih baik kita panggil Mira kembali. Apa kamu tidak takut kalau dia akan terpuruk, ketika mendengar kabarmu dari mulut orang lain."
"Hmm. Kamu takut dia terpuruk, atau kamu sudah sangat merindukannya."
Barno berhenti mendorong kursi roda Tiara, lalu mengambil kursi plastik, dan duduk di depan Tiara.
"Aku memang merindukannya, tapi aku lebih mengkhawatirkan keadaannya jika dia tau kondisimu dari orang lain." Barno meraih tangan Tiara, dan mengurut setiap ruas jari yang mulai keriput.
"Aku lebih mengenalnya, karena itu aku ingin dia lebih kuat. Manusia tidak akan kuat jika belum melewati kesakitan dan kepahitan hidup. Tidak ada seorang ibu di dunia ini yang membenarkan caraku untuk membimbing karakternya, tapi aku yakin dia kan akan menjadi seorang wanita yang kuat secara mental."
"Tapi, Tiaβ¦.!"
__ADS_1
Sebelum Barno menyelesaikan kalimatnya, Tiara langsung angkat bicara.
"Kau juga telah memberi kesakitan mental pada anakku, dan aku tidak protes sama sekali, karena aku yakin dengan Mira."
Teringat kembali bagaimana Mira yang tiada henti merayu dirinya, tapi Barno terus-terus menghindar karena sebuah moral. Seiring waktu yang terus berjalan,Β Barno mulai mencintai gadis yang telah diasuhnya sejak dari kecil.
"Sudahlah. Lebih baik kamu fokus ke pernikahan Anggi. Jangan kacaukan hari kebahagian ini dengan roman picisan kamu itu."
.
.
.
.
Sesampainya di rumah sakit Mira langsung menemui ibunya yang terlihat begitu lemah. Sakit ibu ternyata sudah parah, dan ternyata penyakit itu sudah berlanjut sepuluh tahun yang lalu. Dokter mengatakan kalau ibu terkena kanker, tidak ada harapan lagi untuk sembuh.
Mira menyeka air mata mendengar hal tersebut. Sungguh ia merasa sebagai anak yang tidak berguna. Ibunya sakit bertahun-tahun, tapi Mira baru mengetahuinya sekarang.
"Nggak usah sedih. Semua makhluk hidup pasti akan mati," ucap Tiara mencoba menghibur Mira.Β
__ADS_1
Mira hanya tersenyum dan meletakkan kepala di kaki Ibunya yang kurus. Tiara mengusap kepala Mira dengan lembut, terasa kasih sayang yang begitu besar padanya melalui sentuhan tersebut. Air mata kembali mengalir deras dari kelopak mata Mira.
"Tidak ada lagi penyesalan dalam hidup ini, Ibu sudah rela dan ibu juga berharap kamu ikhlas melepaskan ibu. Semua kebahagiaan telah ibu setiap detik bersamamu. Sekarang hanya satu harapan ibu. Melihat kamu segera menikah," ucap Tiara, suaranya begitu berat.
"Aku tidak akan menikah kalau ibu mati. Jadi, semangatlah, jangan putus asa!" ucap Mira menyeka air mata, dan menatap Tiara penuh kasih sayang
Walau Mira tau hidup ibunya hanya menghitung hari, tapi berat rasanya untuk mengikhlaskan kepergiannya.Β
Tiara menggenggam tangan Mira, lalu mengambil sebuah kotak kecil yang bergembok dari bawah bantalnya, dan meletakkan di tangan Mira.
"Apa ini, Ibu?" tanya Mira heran, kedua alisnya menyatu melihat kotak tersebut.
"Kuncinya sudah kuberikan kepada Anggi. Jangan pernah meminta kuncinya, dia akan memberikannya kepadamu setelah waktunya tiba."
"Ahh, Ibu. Kenapa Ibu malah bermain misteri denganku," ucap Mira tersenyum simpul, hanya bisa menuruti keinginan Tiara.
π½π¦π¦π¦π¦π¦π¦π¦π¦π¦
Mohon dukungannya untuk novelku yang satu lagi ya.
__ADS_1