
Bonus kemungkinan hanya 3 atau sampai 5 Bab saja.
karena Author mau konsentrasi kepada 3 novel ku yang lainnya.. jangan lupa mampir juga ya
π¦π¦π¦π¦π¦π¦π¦
Di dalam kamar, Mira sedang sedang dipoles oleh seorang penata rias. Senyumnya tidak pernah hilang dari wajahnya. Hari ini adalah hari yang penuh kebahagiaan selama dia hidup. Penantian yang begitu lama, pengejaran yang cukup panjang. Kini semua telah berakhir.
Anggi yang duduk disampingnya sambil menggendong anak, hanya bisa menggeleng melihat senyum Mira yang tidak pernah putus. Ia juga turut ikut bahagia, dua orang yang sangat ia sayangi dalam hidupnya, akan bersatu.
"Kau sangat cantik, Mir," puji Anggi.
"Eh, kau nggak sopan ya. Panggil aku ibu. Main panggil nama aja," ujar Mira meledek.
"Jangan berharap." Anggi menjulurkan lidahnya. Perias hanya menggelengkan kepala menyaksikan tingkah keduanya.
Acara pernikahan Barno dan Mira diadakan secara sederhana, tidak ada banyak orang yang undangan, hanya beberapa keluarga dekat saja, tentunya semua dari pihak Barno, sedangkan dari pihak Mira tidak ada.
Mira yang sekarang hidup sebatang kara, tidak memiliki sanak saudara, karena memang dia tidak tau siapa sanak saudaranya. Selama masa hidupnya, Tiara memang mengakui kepada Mira kalau mereka tidak memiliki saudara. Jadi, wali Mira adalah wali hakim.
__ADS_1
Saat Mira keluar dari dalam kamar hias, air matanya tidak bisa dibendung melihat. Ada sesuatu yang mengiris hati melihat keluarga Barno berkumpul.
"Hei, hapus air mata kau itu. Ini hari yang bahagia, nanti riasan wajah kamu bisa luntur." Anggi mengambil tisu dari dalam tasnya, dan segera menghapus air mata Mira.
"Apa ya rasanya punya keluarga yang banyak?" gumam Mira dengan suara yang begitu halus.
Akan tetapi, Anggi masih bisa mendengar ucapan Mira tersebut, ia pun memeluk calon ibunya itu sambil berkata. "Apa kami bukan keluargamu selama ini?"
Senyum yang begitu tipis menghias di bibir Mira, menghela nafas panjang. Kemudian berjalan dengan anggun dimana Barno duduk di depan penghulu, siap untuk mengucapkan akad. Mira duduk di samping Barno.
Pengucapan akad pun dimulai, Barno dengan lancar mengucapkan kata akad, tidak ada nada yang terbata-bata. Dalam satu tarikan nafas semuanya berjalan lancar.
"Bagaimana para saksi?" tanya Pak Penghulu.
Mira langsung mencium tangan Barno, air mata perlahan kembali mengalir, air mata kebahagiaan, suka cita. Mata Mira sejenak kosong, bayangan ibunya tersenyum bahagia melintas di kelopak mata.
"Ibu," gumam Mira.
Setelah selesai melakukan penandatanganan perlengkapan berkas pernikahan mereka. Pak penghulu pun pamit pulang. Beberapa kerabat yang datang segera menghampiri mereka dan memberikan ucapan selamat. Butet yang hadir, mengecβup kepala Mira dan membelai dengan lembut.
__ADS_1
"Awas kau kalau macam-macam sama dia. Kau itu sudah tua, jangan kau ikuti lagi jiwa muda kau itu. Kalau sempat kau macam-macam, ku patahkan kaki kau itu, ingat itu monyet," ancam Butet.
Mira kaget dengan sikap Butet, selama ia tinggal bersama Butet, tidak pernah sekalipun terlihat sesangar itu. Sikap Butet selama ini kepadanya sangat lembut.
Hari yang penuh kebahagiaan, acara kecil-kecilan berlanjut dengan sesi perbincangan dan ucapan selamat. Seluruh kekuatan kemudian berfoto bersama dengan pengantin.
Waktu terus berlalu, senja hampir tiba. Sebagian kerabat sudah pulang. Butet menghampiri Barno dan Mira yang sudah memakai pakaian biasa.
"Mira sayang, Tante pulang dulu, ya."
"Tante β¦ Tante β¦ Dia itu sekarang sudah menjadi adik kau. Tante pula kau bilang," sambar Barno.
"Hahahaha β¦ iya, aku lupa." Butet tertawa lebar. "Mira adikku yang cantik. Kaka pulang dulu, ya."Β
"Nggak nginap di sini aja, Tan?"
"Loh, kok Tante, sih. Panggil aku kakak, dong!" ujar Butet.
Walau sedikit risih untuk memanggil Butet dengan sebutan Tante, tapi Mira memaksakan dirinya.
__ADS_1
"I-iya, Kak!"
π¦π¦π¦π¦π¦