I Love You Paman

I Love You Paman
BAB 58


__ADS_3

🅾️🅾️🅾️🅾️🅾️🅾️🅾️🅾️🅾️🅾️🅾️


"Oh. Apa yang kamu bicarakan itu. Terlihat sepertinya aku yang menyukaimu," ucap Anggi yang berubah sinis, lalu ia keluar dari dalam air. " Aku akan tidur. Kamu bisa tidur di sofa." Ia pun pergi ke kamar, meninggalkan Jo sendirian dalam kebingungan.


Hujan mulai reda menyisakan rintik, Anggi berbaring ditempat tidur dan berusaha untuk memejamkan mata. Namun, kelebat bayangan cumbunya dengan Jo di kolam, terus bermain di kelopak mata, hal itu membuat pikirannya semakin kacau, apalagi ketika teringat dengan perkataan pemuda itu, Anggi pun kembali semakin galau.


"Ah ! Kenapa dia harus berkata seperti itu. Apa dia tidak sadar kalau perkataannya itu menyakitkan."


Anggi kemudian duduk dan memegang wajahnya. "Aku kira dia mulai mencumbuku karena menyukaiku, nyatanya cuman sekedar naluri seorang lelaki. Brengsek!" gumam Anggi mengumpat.


Rasa kecewa itu sudah jelas, tapi bagaimanapun kesalnya, Anggi tidak bisa membenci pemuda itu. Apalagi ketika terbayang bayang Jo yang menyembul dari balik ****** ********. Anggi kembali mulai panas dingin, dan vagi-nya juga mulai berkedut.


"Aishh … kenapa bayangan itu yang muncul. M3mikku sudah basah lagi," gumam Anggi dan melihat jarinya yang basah setelah mecolek ke bawah.

__ADS_1


Treett…. Treett….


Ponselnya berdering, sebuah pesan masuk dari Jo.


"Itu semua salahku. Aku telah membuat kesalahan besar. Tidurlah! Mari kita bicara besok secara baik-baik."


"Ahh…. Sudahlah, lebih baik aku mencoba tidur, atau perasaan ini nggak akan bisa aku tahan jika bayangan itu muncul lagi," gumam Angg berusaha tidak ambil pusing, dan mulai menutup mata kembali.


Tetap sama saja, bagaimanapun Anggi mencoba untuk tidur, bayangan ciuman, remasan dan juga pencil cair Jo, silih berganti menyelinap dalam otaknya. Ingin kembali menemui pemuda itu, ia merasa malu karena sudah terlanjur ngambek.


"Shhhh…."


 

__ADS_1


Des—---ahan kenikmatan  keluar dari bibir manisnya ketika jari lentiknya mengusap kli—toris. Puas melakukan hal tersebut, Anggi memasukkan jari telunjuk kedalam vag–nya, sambil membayangkan jika dirinya sedang bersetubuh dengan Jo. Ia pun mulai membuka celana dala-mnya, agar jarinya lebih leluasa bermain di bawah sana.


"Oh Bang Jo, ohhhh … tekan yang kuat mi3m3kku, ohhhh … besarnya punyamu itu!" des—ahnya sambil menyebut nama pemuda yang selama ini dia  idamkan.


Seperti orang yang kesurupan, jari lentiknya terus menusuk dan mengobok-obok di dalam vag—nya. Anggii kemudian berbalik mengambil posisi me—-nungging, jarinya yang masih menusuk ia jepit dengan kuat menggunakan kedua pahanya, membuat getaran sensasi bir—-ahinya semakin kuat.


"Oohh … Bang Jo Enaaaak … ahhhh … ohhhh!" 


KLIK!


Tiba-tiba lampu mati, membuat Anggi kaget, di dalam kegelapan wajahnya langsung pucat, karena ia sangat takut dengan kegelapan di tambah suara hujan juga masih turun dengan deras, membuat na–fsu bira—-hinya seketika lenyap bagaikan ditelan setan.


"Kampret! Mati lampu pula," umpat Anggi, bibirnya mulai bergetar.

__ADS_1


Bayangan tubuh telanjang Jo yang tadi bergelayut di kelopak matanya, kini telah berganti dengan bayangan jenis-jenis setan di dalam benaknya. Debaran syah–watnya juga seketika berganti dengan debaran ketakutan. Kemudian ia turun dari ranjang dan mencari handuk yang tadi diletakkan di atas meja yang ada di sisi ranjang. Tangannya terus saja meraba meja untuk menemukan handuk tersebut. Setelah ketemu, ia lilitkan langsung di tubuhnya, kemudian berjalan dengan perlahan keluar dari kamar.


🛀🛀🛀🛀🛀🛀🛀😘😘😘😘😘😘


__ADS_2