I Love You Paman

I Love You Paman
BAB 24


__ADS_3

.


.


.


Mira dan Anggi sudah selesai memasak untuk makan malam, mereka juga sudah menatanya di atas meja makan. Setelah itu kedua gadis tersebut mandi bersama.


"Mir, tolong gosok punggungku," pinta Anggi meminta tolong.


"Waw, cantik dan besar," celoteh Mira ketika Anggi telah membelakangi.


"Apanya?" tanya Anggi sambil menggosok pahanya sendiri, untuk mengeluarkan daki.


"Bongkahan ini." Bersamaan itu Mira langsung menepuk pinggul Anggi.


Plak….


"Sakit lemang gosong," umpat Anggi.


Mira hanya diam dan tersenyum, dan mulai menggosok punggung Anggi. Setelah bebarapa menit, gantian Anggi yang menggosok punggung Mira.


Plak.


Kembali terdengar suara tamparan, tapi kali ini


pinggul Mira yang jadi sasaran.


"kenapa kau jadi dendaman?"


Tidak ada jawab, dan Anggi tersenyum sambil menggosok punggung Mira. Setelah selesai saling bergantian menggosok punggung, mereka berdua segera menyelesaikan aktivitas mandi.


Sedangkan di dalam cafe. Karena ponsel kehabisan baterai, ia pun meminjam ponsel Barno dan segera menghubungi Mira. Namun, sudah beberapa kali menelpon, panggilannya tidak juga diangkat, ia pun mengembalikan ponsel tersebut kepada Barno.


"Aku baru tau kalau kau menyimpan kontak Mira dengan nama anak palsu," Tiara melihat Barno dengan senyum misteri.


"Itu hanya lucu-lucuan saja, padahal kau tahu sendiri, kalau sejak dulu aku sudah menganggap Mira sebagai  anakku sendiri. Apalagi jika melihat sifatnya itu, Aku yakin, anak itu juga sudah  membuat namaku di kontaknya dengan nama yang  aneh," tutur Barno membela diri, supaya Tiara tidak berprasangka yang lain terhadap dirinya.


"Sepertinya kau lebih mengenal dia daripada aku." Tiara tersenyum.

__ADS_1


Sudah selesai makan, dan tidak ada lagi pembahasan yang penting, Barno dan Tiara memutuskan untuk pulang.


Untuk Mira dan Anggi, karena sudah tau kalau Barno pulang setelah makan malam, mereka pun makan duluan. Setelah selesai mengisi perut mereka yang sejengkal, Anggi masuk kedalam kamar untuk mengambil laptop, lalu menuju ke ruang tengah.


Anggi meletakkan laptop di atas meja, kemudian duduk selonjoran di lantai, dan mulai mengerjakan tugas kuliahnya. Beberapa saat kemudian, Mira muncul setelah membereskan meja makan. Gadis itu duduk di sofa tepat di belakang Anggi, ia kemudian mengambil remote dan menyalakan tv.


"Kecilnya suara tv-nya, aku butuh konsentrasi untuk mengerjakan tugas," pinta Anggi yang kaget mendengar volume tv yang sedikit kencang.


"Iya." Mira pun mengecilkan volume tv, dan berbaring di sofa dengan menopang kepala.


"Apa yang dilakukan ayahmu? Kenapa dia lama sekali pulang?" tanya Mira kemudian.


"Ini sudah kesekian kalinya kau bertanya seperti itu, jangan sampai ku tabok lubang gigimu itu," kata Anggi sambil tetap terus fokus ke layar laptopnya.


Hanya mendengus yang bisa dilakukan Mira, dengan malas ia menonton acara kuis. Menunggu dan diam, satu-satunya cara yang bisa ia lakukan saat ini. Namun, wajah lesu Mira seketika cerah setelah mendengar suara mobil di depan rumah, merasa kalau pamannya sudah pulang. 


Benar saja, beberapa detik setelah suara mobil berhenti di depan rumah. Terlihat Barno muncul dari balik pintu dengan mengenakan jaket pink terbuka dengan kemeja warna biru di dalamnya, dan dimasukan dengan celana hitam. perpaduan warna pakaian yang begitu kontras.


Barno masuk dan berjalan melewati kedua gadis itu sambil bergumam, "Ah, cuaca kenapa gerah kali. Bikin aku berkeringat aja."


"Iya, aku bisa mencium keringat ayah. Pergilah mandi!" sahut Anggi.


Matanya menatap bunga-bunga indah yang selama ini dirawat Anggi dengan kelembutan hati. Sejenak dia terpikir tentang pertanyaan Tiara ketika mereka di dalam mobil.


Tiara. " Kau tau kenapa sebenarnya aku mengajakmu makan malam?"


Barno. "Bahas Novel."


Wajah Tiara membayang di kelopak mata Barno setelah memberikan jawaban tersebut. Entah kenapa wajah Tiara tiba-tiba berubah sendu, dan mulai mengusik perasaanya. 


"Kenapa aku bisa jadi bodoh seperti ini. Padahal aku sebenarnya menginginkannya. Apa aku takut sehingga lari dari kenyataan yang ada di depanku. Aghh! Kenapa aku bisa seperti ini?"


Tiba-tiba sebuah cahaya muncul dari arah sampingnya. Kaget! Barno langsung menoleh kearah asal cahaya tersebut, bersamaan itu cahaya kembali muncul dan menyilaukan matanya.


"Kenapa kau memfotoku?" Suara Barno sedikit keras, menunjukkan kalau dia kesal.


"Nggak kenapa-napa! Salah?" Mira membalas dengan bentakan.


Dengan santai Mira berdiri di pintu sambil tersenyum melihat hasil jepretannya, terlihat dari wajahnya yang begitu puas melihat gambar Barno di layar ponselnya. Kemudian ia pun mendekat dan duduk di samping Barno, seraya menatap ke langit yang polos, tiada bintang dan bulan, yang ada hanya kegelapan.

__ADS_1


"Kau sudah makan?" tanya Barno dan mengambil sebungkus rokok dari kantong celana, lalu mengambil sebatang dan langsung menyulut api setelah menyelipkan rokok di bibir.


"Ho oh," jawab Mira tanpa ekspresi.


"Apa yang terjadi?" Barno merasa ada sesuatu yang terjadi. Ekspresi Mira benar-benar membuat Barno berpikir seperti itu.


"Nggak ada.  Emang kenapa?" Mira bertanya balik, lalu tersenyum.


"Dasar gadis kecil aneh," gumam Barno menggelengkan kepala dan kembali menghisap rokok.


"Jangan panggil aku gadis kecil Paman. Namaku Mira, ingat! Mira! bukan gadis kecil atau Shiva," bentak Mira. Mantap tajam Barno dengan gaya meletakkan kedua tangannya di pinggang


Sontak Barno tertawa, dan Mira mendengus serta membuang muka jutek, layaknya anak kecil yang sedang ngambek.


Tidak ada bujukan atau rayuan yang ia dapatkan, Mira menggeram dalam hati. Sejenak menarik napas, lalu menarik jaket yang dikenakan Barno.


"Paman bilang tadi panas. Sini, biar aku bantu buka jaketnya."


"Terima kasih. Kalau aku tau cuaca sepanas ini, aku nggak akan pakai jaket. Letakkan saja di sini, besok aku mau mencucinya." 


Setelah jaket lepas dari tubuhnya. Barno sejenak tertegun melihat Mira yang sibuk menciumi jaketnya itu.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Barno.


"Eh, anu … itu. Tidak ada?" 


Mira hanya bisa tersenyum malu, lalu segera menghilang dari hadapan Barno dengan langkah seribu.


"Aigo…. Kenapa aku mesti malu." Mira menyesali kelakuannya.


Kembali mencium jaket Barno ketiak sudah berada di didapur, sebelum akhirnya  memasukkannya ke dalam mesin cuci. Lalu Mira kembali ke ruang tengah.


"Ayah ngapain?" tanya Anggi yang masih sibuk mengerjakan tugasnya.


"Ngayal!" jawab Mira asal. 


®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®


jangan lupa dukungannya. Like, komentar, fav, bunga atau kopi dan juga 🌟🌟🌟🌟🌟

__ADS_1


semoga kita semua sehat selalu dan di mudah segala urusan.


__ADS_2