
®®®®®®®®®®
Barno yang sedang mereview ulang novel dewasanya, masih terus mengobrol melalui sambungan telepon dengan Anggi, sesekali matanya melihat ke berkas yang dipegangnya. Antara novel dan masalahnya dengan Mira, sama-sama menguras energinya. Walau ingin tidak peduli, tapi dari lubuk hatinya terasa sangat mengganggu.
"Aku tau Ayah sangat sayang kepada Mira, apalagi ayah tidak punya teman. Dia satu-satunya manusia di planet ini yang bisa berteman dengan ayah. Iya, kan? Jadi ayah harus bisa mengalah lebih dahulu, buang jauh ego ayah. Coba katakan apa yang salah sebenarnya dari perilaku Mira sebagai seorang wanita? Ayah juga paham, hanya dengan kita Mira bisa tertawa lepas seperti itu." Anggi bersandar di dinding.
"Matikan!"
Anggi menoleh ke arah asal suara yang tiba-tiba muncul. Dia begitu kaget melihat Mira dengan wajah menyeramkan berdiri di hadapannya. Begitu juga dengan Barno di seberang sana, ia terkejut mendengar suara Mira yang begitu angker melalui sambungan telepon.
Segera Barno mematikan sambungan telepon, dan meletakkan ponselnya di atas meja. "Huff, nek lampir tiba-tiba muncul. Bikin jantungan aja."
Kembali mengambil berkas di atas meja, mata ke arah berkas tapi pikiran kepada Mira, teringat kembali bagaimana lidahnya Mira menerobos masuk kedalam mulutnya, memaksa melilit lidahnya.
"Bagaimana jika memang dia melihatku sebagai seorang pria. Ahhh … apa yang harus aku lakukan. Ini sangat tidak masuk akal, dan kenapa pula aku terus terganggu dengan itu. Hmmm…. Baiklah Barno, ayo kembali kerja!" Selesai bermonolog, ia menarik napas dan mulai menulis.
Sedang asik dan serius menulis, suara ketukan pintu terdengar dari luar. Segera Barno beranjak kedepan untuk membuka pintu, dan terlihat Tiara berdiri dengan pakaian kantor memakai jas dan rok mini.
"Masuk!" Ajak Barno.
"Aku menunggumu beberapa hari ini, tapi kau nggak datang juga ke rumah. Apa kau lupa dengan janji kita untuk membahas novel yang sedang kau garap." Tiara meletakkan se-rantang sup panas di atas meja makan.
"Aku ingat, cuman nggak sempat aja datang. Maaf!" ujar Barno, kemudian masuk kedalam kamarnya untuk mengambil berkas yang ia kerjakan. Saat kembali keluar, ia melihat Tiara sudah berdiri di depan pintu kamarnya, dengan senyum termanis yang dimiliki wanita itu.
"Coba aku lihat yang sudah kau kerjakan?" Tiara langsung masuk ke dalam, Barno kembali duduk di balik meja kerjanya.
__ADS_1
Tiara menarik kursi Barno ke belakang, sehingga ia lebih leluasa melihat laptop dengan tubuh sedikit membungkuk. Tentu hal tersebut tidak bisa membuat mata Barno teralihkan ke hal lain lagi, bongkahan dua gumpalan padat yang terbalut rok, menjadi santapan mata Barno yang bersinar terang.
"Aku mau buat kopi dulu," ujar Barno yang tidak sanggup lagi berlama-lama duduk di belakang Tiara.
"Punyaku, gulanya jangan terlalu banyak." Tiara masih tetap fokus ke layar laptop ketika Barno keluar dari kamar untuk membuatkan kopi.
Lima menit kemudian Barno muncul dengan dia cangkir kopi di tangan, dan meletakkannya di atas meja, tepat di samping keyboard.
"Aku sudah membaca adegan dewasanya, menurutku masih kurang panas, dan kurang reel. Adegannya seperti terlihat dipaksakan sekali. Apalagi yang ini," tunjuk Tiara ke skrip adegan yang menurutnya sangat minus.
"Aku juga merasa seperti itu, tapi aku benar-benar buntu. Entah karena aku sudah lama tidak merasakan hal tersebut, jadi terasa sulit menuangkannya dalam bentuk tulisan," kilah Barno, dan mulai meneguk kopi.
"Tidak bisakah kau meniru dari adegan Vidio 80k3p, kenapa tidak kau ambil referensi dari situ saja," saran Tiara.
Alasan yang tidak masuk akal, dan juga alasan yang terlalu memaksakan diri, tapi Barno tidak punya pilihan alasan yang tepat lagi. Karena menurutnya, tidak mungkin ia mengatakan kalau video koleksinya telah dilenyapkan oleh Mira begitu saja.
Tira berdiri dengan tangan kiri dilipat di bawah dada menopang tangan kanannya yang memegang cangkir kopi. Wanita itu sejenak diam memikirkan suatu cara, supaya naskah yang dikerjakan oleh Barno menemukan titik terang.
"Bagaimana kalau kita coba praktek?" Tiara menatap dalam ke bola mata Barno, dan ia tidak peduli dengan wajah pria itu yang terlihat shock mendengar idenya.
"A–apa tidak ada cara lain lagi? I–ini sudah diluar konteks." Barno tidak bisa menyembunyikan kekagetannya.
Sedangkan Tiara, ia langsung berbaring di atas ranjang dengan pose menantang. Tentunya setelah ia melepaskan jas yang ia kenakan, dan hanya menyisakan kemeja putih transparan, sehingga kacamata pink dengan renda yang menutupi dua bakpao putihnya terlihat jelas.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Tiara tersenyum.
__ADS_1
"Aku tidak tau."
"Sebelum kau lupa rasanya melihat aku seperti ini. Cepat kau tuliskan," pinta Tiara.
"Eh … i–iya."
Segera Barno menulis tentang gejolak hatinya melihat pose yang begitu meng gai rah kan yang dilakukan Tiara. . Perasaannya, sensasinya, keinginannya, dan juga debaran jantung yang dirasakannya, ia tuangkan semuanya dalam tulisan.
"Kalau sudah selesai, ayo kemari. Kita buat adegan 53k5 nya se-riil mungkin."
Tiara mulai perlahan membuka kemejanya, sehingga memperlihatkan bagian gumpalan putih lembutnya, seakan berteriak memanggil nama Barno untuk segera melakukan sebuah sentuhan lembut.
Barno yang sudah lama pensiun melakukan penyiraman ladang kegelapan, hanya diam terpaku, tidak tau harus memulai dari mana. Ia bingung bukan karena bodoh, melainkan karena demam panggung dan demam aksi.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1