I Love You Paman

I Love You Paman
BAB 69


__ADS_3

@@@@@@@@@@@


"Itu tidak perlu, ke sinilah. Bantu aku dengan pelukan saja. Aku rasa itu lebih baik daripada selimut," ucap Anggi dengan tatapan memelas.


Karena merasa iba, Jo pun menurut, ia kembali masuk kedalam selimut, dan memeluk tubuh Anggi. Walau tubuh mereka tidak terlalu begitu rapat, tapi sudah cukup untuk saling memberikan kehangatan. Dalam hati gadis itu begitu senang dan nyaman mendapat pelukan dari pria yang selama ini ia idam-idamkan. Namun, ia merasa  masih belum puas, karena Jo masih memberi jarak.


"Kenapa kamu sangat bodoh. Lebih rapat lagi," pinta Anggi 


Pemuda itu menuruti saja keinginan Anggi, ia pun semakin merapatkan tubuhnya.


"Posisi ini membuatku pegal," ujar Jo, karena ia begitu kaku memeluk gadis itu.


Anggi menekuk wajah untuk menyembunyikan senyumnya. "Daripada mengeluh, bukankah lebih baik kamu memberikan solusi."


"Bagaimana kalau kita menekuk lutut," saran Jo.

__ADS_1


Saran yang bagus dari Jo membuat Anggii senang. Ia pun menyuruh pemuda itu untuk memajukan sebelah kakinya, setelah itu Anggi pun meletakkan kakinya diatas kaki Asraf yang di tekuk. Dengan posisi seperti itu, paha Jo dijepit dengan kedua paha Anggi, dan membuat Jo sangat kaget, karena dengan begitu, ia bisa merasakan hangatnya vag-nya Angi di kulit pahanya.


"A–apa ini," ujar Jo gugup.


"Aghh…. Dasar goblok!" batin Anggi.


Menyadari kegugupan pemuda tersebut. Celah yang ia berikan malah membuat Jo  jadi salah tingkah.


"Kalau begitu, bagaimana kalau aku tidur di atas tubuhnya?"


"Apa yang kamu katakan?" tanya Jo.


Pemuda itu mengangkat separuh tubuhnya dengan bertopang dengan siku, lalu menatap Anggi dan membuat gadis itu malu sendiri.


"Maaf!" ucap Anggi malu. "Kalau begitu, bagaimana dengan posisi seperti ini?" Anggi memutar tubuhnya membelakangi Jo, lalu menarik tangan pemuda tersebut, agar memeluknya dengan erat.

__ADS_1


Dengan posisi tersebut, Anggi merasa sangat nyaman dipeluk dari belakang. Tapi berbeda dengan jantungnya yang semakin berdetak kencang. Akibat posisi tersebut membuat Anggi bisa merasakan sesuatu yang mengganjal di pantatnya, dan juga hembusan napas Jo yang hangat menyentuh tengkuknya, membuat bulu roma gadis itu berdiri.


"Kenapa gadis ini terus-menerus berusaha untuk mendekati ku," batin Jo.


Walau tetap berusaha menahan gejolak yang kian menyelimuti hasratnya untuk tidak  menggerayangi tubuh Anggi. Namun, Aroma wangi rambut gadis itu, dan juga gesekan tipis yang terjadi antara pen–nya dan pinggul Anggi, membuat dadanya berdegup kencang.


"Jujur saja. Aku sudah sangat lelah menahan diri. Apa aku harus melakukannya sekarang, tapi akibatnya nanti, bagaimana? Aghh…. Tidak peduli dengan akibatnya. Aku sudah tidak sanggup lagi menahan." batin Jo.


Pemuda itu pun menarik bahu Anggi hingga terlentang. "Anggi, apa kamu sudah tidur?" tanya Jo.


Tentu saja gadis itu tidak menjawab, walaupun ia masih terjaga. Bahkan ketika Jo mulai mencium lehernya dan juga menjilati telinganya, Anggi masih diam dan membiarkan saja apa yang sudah dilakukan oleh Jo kepada dirinya. Apalagi selama ini ia sangat menginginkan hal itu terjadi. Sampai akhirnya tangan Jo menyentuh payu—daranya, Anggi masih saja diam dan tidak membuka mata, tapi ia begitu menikmati sentuhan tersebut.


KLIK!


Lampu tiba-tiba menyala, suasana kamar sangat terang karena semua lampu hidup kembali, termasuk lampu tidur yang terpasang di kedua sisi ranjang, membuat mata Jo silau dikarenakan terlalu lama melihat dalam kegelapan. Ia pun segera bangkit untuk mematikan lampu utama.

__ADS_1


@@@@@@@@@@


__ADS_2