
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏✌️😁
FLASHBACK ON
Karena Tiara sibuk dengan urusan pekerjaan, Barno pergi ke sekolah sebagai wali Mira untuk mengambil raport. Tahun ini Mira menyelesaikan sekolah tingkat akhirnya, begitu juga dengan Anggi. Namun, Ketika Barno sampai di sekolah, Anggi langsung menghampiri dengan wajah panik. Hal itu membuat Barno sedikit khawatir.
"Ada apa? Kenapa wajah kamu jadi ketakutan gitu?" tanya Barno merasa khawatir melihat ekpresi Anggi.
"Mira … Mira tadi tiba-tiba pingsan, sekarang dia sudah dibawa ke ruang kesehatan."
Mendengar pernyataan Anggi tersebut, Barno langsung berlari ke ruangan kesehatan sekolah, di belakangnya Anggi berlari kecil menyusul. Sesampainya di sana, Barno melihat Mira terbaring lemah dan sedang di periksa oleh pihak kesehatan sekolah.
"Bagaimana dengan keadaannya?" tanya Barno panik.
Seorang wanita yang memeriksa keadaan Mira, menoleh ke arah Barno, dan tersenyum. "Nggak apa-apa, Pak. Dia hanya kelelahan saja."
"Apa boleh saya bawa dia pulang sekarang untuk istirahat di rumah?" tanya Barno lagi.
Pihak sekolah telah mengenal Barno dan telah mengetahui kalau pria itu termasuk wali Mira. Oleh karena itu, ketika Barno ingin membawa Mira pulang, pihak sekolah tidak berkomentar apa-apa.
Dari ruangan kesehatan, Barno menggendong Mira sampai ke tempat skuternya terparkir. Ketika berada dalam gendong Barno, di pertengahan jalan, Mira sebenarnya sudah siuman walau kondisinya masih lemah, tapi dia tetap pura-pura pingsan.
"Paman. Sebesar itukah perhatianmu padaku. Mulai hari ini, hatiku akan selalu untukmu. Jika saatnya telah tiba, aku akan menaklukkanmu, dan menjadikanmu lelakiku."
"Bagaimana caranya aku membawanya pulang pakai motor, ya!" Memahami situasi yang ada, Barno pun memutuskan untuk naik bus.
__ADS_1
Didalam bus, Barno membaringkan kepala Mira di pangkuannya. Banyak penumpang yang memperhatikan sikap Barno kepada Mira, mulai dari dia masuk menggendong tubuh Mira, hingga memangku gadis itu. Bahkan beberapa penumpang mulai berbisik-bisik memuji sikap Barno.
"Andai aku punya ayah kayak gitu, pasti aku sangat bahagia."
"Dia duda nggak, ya. Pengen deh dapat laki kayak gitu, tanggung jawab sama keluarga."
"Beruntung sekali, ya. Dia punya ayah yang begitu penyayang."
Sayup-sayup Mira juga mendengar sebagian ucapan pujian penumpang tersebut, apalagi penumpang yang berada di belakang tempat duduk mereka. Sekilas Mira tersenyum kecil penuh rasa bangga dan bahagia.
Setelah beberapa menit di perjalan, mereka sampai di komplek perumahan. Barno yang mengira Mira masih dalam keadaan pingsan, Kemabli menggendong gadis itu sepanjang jalan menuju rumah.
Di kejauhan, Tiara yang sudah mendapat pesan dari Barno, menunggu di depan rumah. ia melihat anaknya berada di punggung Barno. Tiara begitu tersentuh dan terharu, melihat ketulusan kasih sayang Barno kepada anaknya. Wanita mana yang tidak ingin mendapatkan pria seperti itu, menyayangi seorang anak dengan tulus, walau anak itu bukan darah dagingnya sendiri.
Akan tetapi, Tiara hanya bisa menaruh simpati dan juga hanya bisa memberikan rasa kasih sayang seorang saudara kepada Barno, Ia tidak mau merusak ikatan persaudaraan itu dengan atas nama cinta.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
Bus yang ditumpangi Mira berhenti di halte yang tidak jauh dari komplek perumahan tempat Mira tinggal. Setelah turun dari bus, ia sejenak menoleh ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada kendaraan yang dekat ketika ia hendak menyebrang.
Berlari kecil Mira menyeberang jalan. Ponselnya kembali berdering, dan melihat pesan dari Anggi tanpa membuka kunci ponselnya. Mira kembali mengabaikan pesan dari Anggi tersebut, dan memasukkan ponselnya ke dalam panas. Sejurus kemudian ia melanjutkan langkahnya menyusuri jalan komplek perumahan tersebut.
Di dalam rumah Barno, suasana begitu panas tidak terkendali. S4hw4t dan setan telah berkolaborasi, membunuh akal sehat dua insan yang ada di dalam rumah tersebut. Peluh telah membanjiri kedua tubuh mereka setelah melewati jalan panjang yang penuh kenikmatan.
Dua insan tersebut telah mengabaikan segala moral dan adab yang ada, hanya demi sebuah tujuan masing-masing. Awalnya, semua tindakan yang terjadi, hanya demi untuk sebuah mahakarya seni. Namun, siapa sangka keduanya juga memiliki tujuan di balik semua itu.
"Maaf, Bar! Semua ini aku lakukan demi putriku. Walau aku tidak mencintaimu, tapi aku percaya kepadamu," batin Tiara yang terkulai lemas akibat mencapai puncak s4hw47 bersama Barno.
"Maaf Mira! ini semua aku lakukan demi kebahagiaan dan masa depanmu. Aku hanya lelaki tua, dan sangat tidak layak bagimu," batin Barno sambil memeluk erat tubuh Tiara.
Belasan tahun hidup dengan kegersangan batin. Kedua insan paruh baya itu melewati semua adegan tanpa ada yang terlewat. Semua mereka tumpahkan dalam satu peluh, yaitu peluh batin yang penuh kenikmatan yang dulu pernah mereka rasakan.
"Apa kau merasa puas?" tanya Barno.
"Kalau Kau sendiri, bagaimana? Apa ada penyesalan dalam hatimu setelah kita melakukannya? Ingat apa yang aku katakan sebelumnya, jika kau memang merasa tidak enak hati dan merasa bersalah, aku siap menikah denganmu. Jika semua ini tidak ada dampak dalam perasaanmu, maka lupakan saja. Aku tidak masalah dengan semua ini," ucap Tiara.
Tersenyum simpul, Tiara turun dari pangkuan Barno, membuat batang pria itu lepas dari dalam gua milik Tiara.
PLOP….
__ADS_1
Samar-samar terdengar suara letusan kecil ketika batang Barno keluar dari dalam goa. Sedangkan Tiara sejenak menggigit bibirnya sendiri, karena ada sensasi tersendiri yang muncul di saat itu.
😱😱😱😱😱😱😱😱😱😱😱