I Love You Paman

I Love You Paman
BAB 19


__ADS_3

selamat Senin bahagia.. jangan lupa tetap dukung ya. like, komen. bintang dan juga vote. bunga dan kopi juga boleh.


®®®®®®®


...


...


"Ada masalah di beberapa bagian. Aku kewalahan mencari solusinya. Aku harap kamu bisa membantuku, dengan tambahan plot di bagian awal. Aku yakin kamu bisa melakukannya dengan baik."


Barno menggaruk kepalanya. "Kamu ingin aku menggambar sesuatu yang menarik?" tanya Barno sambil melihat berkas project yang ada di tangannya.


"Ya, coba kamu buat adegan dewasa-nya," pinta Tiara tanpa ragu.


"Apa itu berarti…." Barno tidak melanjutkan kalimatnya.


"Kamu benar. Coba lebih detail lagi. Aku tau kamu jago menulis adegan dewasanya. Aku sudah baca salah satu karyamu, menarik. Hanya itu saja kekurangannya."


"Ok. Tidak masalah. Aku akan coba, walau aku kurang yakin." ucap Barno memenuhi permintaan Tiara.


Sebagai novelis, Barno memang selalu menyisipkan adegan-adegan dewasa di setiap karyanya. Namun, itu hanya sebagai pemanis, dan kata-kata yang dibubuhkan untuk merujuk ke alat vital tidak pernah ada yang ekstrim. Barno selalu memakai kata-kata istilah.


"Ini mungkin pekerjaan terakhirku, dan aku ingin memberikan kontribusi besar terhadap perusahaan. Apalagi mereka menjanjikan sesuatu yang besar kepadaku. Jadi, mari kerjakan dengan baik, agar hasilnya sempurna." Wajah Tiara terlihat begitu bersemangat, karena dapat bantuan dari seorang novelis handal di bidang kamasutra.


Walaupun novel-novel yang dibuat oleh Barno populer di kalangan pecinta novel, tapi belum ada satupun penggemar karyanya yang mengetahui siapa dirinya, selain orang terdekat, dan juga relasinya.


"Aku akan mencari cara, untuk memasukkan adegan se–x-nya secara natural. Kamu tidak perlu khawatir lagi tentang itu. Kalau begitu, aku pamit pulang dulu." Barno kemudian beranjak dari tempat duduknya.


"Oh ya, Bar! Datanglah ke kantor kami hari ini."


"Kenapa?" tanya Barno.


"Aku lupa ngasih tau ke kamu, kalau kepala editor kami ingin bertemu sama kamu." 


"Ok! Kalau begitu aku ganti baju dulu."

__ADS_1


Barno berjalan menuju pintu. Namun, ketika ia satu langkah lagi mendekati pintu, Mira dan Anggi muncul dengan membawa kue tart.


"Selamat ulang tahun," ucap mereka serentak, lalu menghampiri Tiara.


Melihat kedatangan kedua gadis itu, Tiara sangat senang dan terharu. Mereka bertiga kemudian berpelukan dengan gembira.


"Selamat ulang tahun Ibu," ucap Mira dengan wajah datar.


"Selamat ulang tahun Ibu." Anggi mengucapkan selamat penuh keceriaan.


"Ah, dua gadis imut ini. Aku saja lupa kalau hari ini ulang tahun." 


Tiara menangis bahagia, karena kedua gadis itu selalu merayakan ulang tahunnya setiap tanggal lahirnya. Ini sebuah anugrah terbesar baginya.


Sedangkan Barno segera pergi keluar, untuk menyelamatkan naskahnya dari mata kedua gadis itu. Hal yang tidak baik akan terjadi jika mereka melihat, apalagi membaca naskah novel di tangannya.


"Mau kemana kamu?" tanya Tiara.


Barno segera menghentikan langkahnya, lalu tersenyum kepada mereka.


"Eh…. Kenapa kamu nggak memanggilnya Ayah." Tiara merasa heran ketika Mira memanggil Barno dengan sebutan 'paman'.


Selama ini Tiara mengetahui kalau Mira selalu memanggil Barno dengan sebutan Ayah, tapi kali ini anaknya itu tidak memanggil seperti yang ia ketahui sebelumnya. 


"Sejak lulus SMA, dia tidak pernah lagi memanggil ayah," tutur Anggi menjelaskan.


Walau sedikit heran dengan perubahan Mira dengan cara pemanggilan kepada Barno, tapi Tiara tidak melihat ada sedikitpun yang menunjukkan, kalau keduanya memiliki masalah dalam hubungan Mira dan Barno.


"Paman, ayo kemari. Kenapa kamu terlihat gugup? Apa yang kamu sembunyikan itu? Apa itu skrip komik?" cecar Mira saat melihat Barno memasukkan sesuatu  ke balik  bajunya.


"Eh…. Iya, iya… aku di sini aja," ucap Barno.


Ketakutan jika naskah yang mengandung unsur adegan dewasa tersebut diketahui oleh kedua gadis itu, membuat Barno semakin salah tingkah. Karena bagaimanapun, ia tidak ingin anaknya mengetahui, kalau dia seorang penulis dewasa. Selama ini mereka hanya tau kalau dirinya hanya seorang penulis novel religi.


Melihat tinggal Barno tersebut, semua orang tertawa melihatnya begitu gugup.

__ADS_1


"Kenapa kamu terkejut, paman?" Tawa Mira meledak.


"Jangan ayah kira aku nggak tau, apa yang ayah kerjakan selama ini," ucap Anggi tertawa lebar.


"Emangnya apa yang lucu dengan penulis novel religi," ujar Barno.


Kembali Mira dan Anggi tertawa bersama. Sedangkan Tiara membuang wajahnya, supaya Barno tidak melihatnya menahan tawa 


"Hm … iya, religi. Emang religi," ejek Anggi.


Tidak ada lagi yang bisa dikatakan Barno, ia merasa telah ditelanjangi, tidak menyangka kalau kedua gadis kecilnya itu, mengetahui pekerjaannya sebagai penulis novel dewasa. Dengan perasaan malu, ia kembali masuk kedalam kamar Tiara untuk menyimpan skrip novel tersebut.


"Bertahun tahun aku menyembunyikan pekerjaan ini, karena takut akan dibenci oleh putriku. Siapa sangka kalau dia sudah mengetahuinya selama ini. Hadehhhh…. Nasib, nasib. Haruskah aku mengganti namaku jadi si Untung. Hmm … tapi sejak kapan mereka mulai mengetahuinya?" batin Baro. 


Tiara duduk dengan diapit kedua gadisnya, Anggi dan Mira. Mereka bertiga saling bercengkrama dan tertawa lebar.


"Apa kalian sudah makan?" tanya Tiara.


"Sudah Ibu," jawab Anggi.


Tiara memeluk kedua gadisnya dengan haru. "Kedua gadis kecilku yang manis, terima kasih ya."


"Ibuuuu." 


Anggi dan Mira memeluk Tiara dengan erat, untuk menumpahkan kebahagiaan mereka. Mengungkapkan kasih sayang. Mira yang selama ini begitu rindu dipeluk oleh ibunya, perlahan menitikkan air mata 


"Sudah, sudah. Kalian beresin meja ini dulu. sangat berantakan sekali."


Anggi dan Mira tersenyum. Mereka berdua kemudian merapikan meja yang berantakan setelah merayakan ulang tahun Tiara secara kecil-kecilan. Piring dan gelas kotor, mereka bawa ke dapur.


Sesaat kemudian Barno keluar dari kamar dan menghampiri Tiara dengan wajah lesu. Ia memberikan secarik kertas kepada Tiara yang ia temukan di dalam laci meja kerja wanita itu, dan kemudian langsung keluar rumah tanpa bicara sepatah katapun.


Setelah melihat kertas yang diberikan Barno, Tiara menatap punggung laki-laki itu yang berjalan keluar dari rumahnya. Sesaat kemudian ia tertegun.


®®®®®®®®®®®™™®

__ADS_1


selamat berbahagia semua


__ADS_2