I Love You Paman

I Love You Paman
BAB 8


__ADS_3

Mata Mira melotot, jantung berdetak kencang, saat melihat milik pamannya itu sangat besar dan gagah baginya. Itulah makhluk yang selalu melintas di dalam benaknya. Mira benar-benar tidak sanggup lagi menutupi rasa groginya, dan juga rasa ketakutan akan kehilangan akal sehat.


"Ya udah. Paman lanjutin aja olahraganya, aku harus pergi untuk menyelesaikan sesuatu dulu," ucapnya dan beranjak untuk meninggalkan Barno sendirinya.


Degh….!


Tiba-tiba Barno memegang tangan Mira, membuat jantung gadis itu seakan berhenti. Mata mereka pun beradu dengan tatapan yang penuh arti. Terlalu banyak rahasia yang tersembunyi dibalik tatapan mereka.


"Mira," desis Barno.


"Apa ini. Apakah Paman akan melakukannya denganku. Ah…. Sial, baru memikirkannya saja, tubuhku sudah mati rasa. Tapi…."


Barno meletakkan tangannya di kepala Mira. Hanya sekali tekan, Mira dengan terpaksa langsung jongkok di hadapannya. Membuat jantung Mira langsung berdegup kencang, ketika benda elastis itu begitu besar, mengacung tepat di depan matanya.


"Benarkah ini nyata, ohhhh … helm itu … helm itu punya bibir mungil. Aghhh ini sungguh menakjubkan." 

__ADS_1


Tatapan mata Mira tidak bisa lepas dari titik pandang tersebut. Gadis itu ibarat sedang melihat boyband asal Korea, manis, imut dan menggemaskan. Persekian detiknya, Mira beralih melihat ke wajah Barno, hal itu ia lakukan berulang kali, guna menetralisir rasa canggungnya.


"Bagaimana? Kamu nggak apa-apa, kan?"


Mira tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan Barno, ia hanya bisa mensupport dirinya dalam hati. 


"Ayo Mira. Kamu hanya perlu menggunakan tanganmu dulu. Itu hal yang mudah. Tidak terlalu sulit untuk mengurut benda sebesar itu."


Walau tangannya sedikit gemetar untuk meraih yang ada di depan matanya, tapi akhirnya Mira berhasil juga menggenggamnya. Dalam istilah latin kuno 'biar pelan asal pasti'


Barno mengangguk senang, karena Mira mau membantunya tanpa paksaan. Namun, gadis itu tidak langsung mengurut benda kenyal tersebut, tapi malah membolak-balik ke kanan, ke kiri, ke atas dan ke bawah. Layaknya seorang arkeolog yang menemukan benda antik, Mira memperhatikannya dengan seksama struktur benda tumpul Barno.


"Waw…. Ternyata bisa semakin besar, saat kusentuh, punya paman ternyata begitu elastis, udah kayak karet aja. Berbeda dengan bunga putri malu, aku sentuh malah kuncup. Aghhh…. Uratnya-uratnya berkeluaran semua, jika di perhatikan lagi, ini seperti paus dan sedikit menakutkan. Ahh…. Aku tidak boleh banyak berpikir, kesempatan sudah ada di depan mata. Aku harus segera melahapnya."


Setelah selesai melakukan monolog. Mira langsung menjilati dengan gaya slow motion, membuat helm proyek itu menjadi basah oleh air liurnya.

__ADS_1


Apa yang telah dilakukan Mira, membuat Barno mendongak dengan mata memutar, sensasi yang dihasilkan dari jilatan tersebut sungguh sangat kuat, bahkan batang Barno berkedut beberapa kali.


"Ohhhhhh…. Mira, ini sangat nikmat, jilatan lidahmu begitu lihai. Dari mana kamu belajar?"


Entah kenapa Mira begitu bangga mendengar sanjungan yang diucapkan oleh Pamannya itu, membuatnya semakin semangat untuk menservis dengan lebih baik lagi. Mira pun terus menjilati, mulai dari kepala, batang, pangkal, bahkan kantung solar mulai Barno. Sehingga kepala gundul kecil itu menjadi mengkilap oleh air liur Mira.


Barno meraih kepala Mira dengan tangan kanan, dan langsung mengarahkan ke dongkraknya itu. Paham apa yang diinginkan oleh Pamannya itu, Mira pun membuka mulut, lalu terdengar suara berisik dari kejadian tersebut.


Arggghhh …. Argggghhh … Arggghhh.


Tanpa beban Mira menggerakkan kepalanya maju mundur, supaya dongkrak tersebut bisa keluar masuk dari tenggorokannya.


Perlakuan seperti itu, membuat Barno semakin blingsatan, ia pun semakin memegangi kepala Mira, dan menggerakkan dongkraknya semakin cepat. Sensasi kenikmatan duniawi semakin intens menghujam disetiap sel-sel saraf Barno.


®®®®®®®®®®

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya. biar tetap semangat up.


__ADS_2