I Love You Paman

I Love You Paman
BAB 65


__ADS_3

๐Ÿ…พ๏ธ๐Ÿ…พ๏ธ๐Ÿ…พ๏ธ๐Ÿ…พ๏ธ๐Ÿ…พ๏ธ๐Ÿ…พ๏ธ๐Ÿ…พ๏ธ๐Ÿ…พ๏ธ๐Ÿ…พ๏ธ๐Ÿ…พ๏ธ


"Eh โ€ฆ apa kamu serius mau tidur disini, bukan di kamarmu?"


Paman terlihat kaget. Sepertinya dia tidak menginginkan kalau aku tidur di kamarnya. Walaupun begitu, tentu aku tidak mau pindah ke kamarku.


"Masih ada petir, Paman. Bagaimana bisa tidur sendirian, sedangkan aku takut dengan petir." ucapku beralasan.


Melihat raut wajah Paman, sepertinya aku ketahuan kalau sudah berbohong. Ia menatapku penuh selidik, dan aku baru sadar kalau Paman tau betul kalau aku tidak pernah takut dengan petir.


"Aghhโ€ฆ. Kenapa aku jadi goblok."ย 


Tapi aku senang, walau dia menyadari kebohonganku, Paman tetap naik ke ranjang dan berbaring, aku langsung menyambutnya dengan pelukan dan membuat posisi kakiku di atas perutnya bagian bawah. Sedangkan lenganku menopang kepala sebagai bantal, sehingga sikuku menyentuh wajahnya.


"Sepertinya hujan sudah mulai reda," ucapku basa-basi.


"Kalau begitu kamu sudah bisa ke kamarmu," kata Paman menoleh ke arahku.


"Sial! Aku malah salah ngomong!"

__ADS_1


Aku tersenyum sinis, tidak akan semudah itu Paman mengusirku dari kamarnya ini. Aku menekan kuat sikuku ke pipinya, hingga Paman meringis kesakitan.


"Jika merasa sakit, ulurkan saja tangan Pamanย  di belakangku, agar aku bisa tidur," anjurku, dan Paman pun mengulurkan tangannya, tapi ia malah meletakkan di belakang punggungku.


"Seperti ini?" tanya Paman.


"Bukan Paman, tapi dibawah leherku. Agar aku nyaman untuk tidur." Kuangkat sedikit kepalaku, dan Paman menggeser tangannya tepat di bawah leherku sebagai bantal.


Paman hanya diam, aku menariki tubuhnya dalam pelukanku. Merasa kalau Paman sudah menjadi pacarku, walau aku tau itu sangat sulit untuk menjadi kenyataan.


"Kenapa aku tiba-tiba merasa menyesal dengan sesuatu ya, Paman?" tanyaku,


"Cintaku ditolak hanya karena usia,"


Tidak tau apakah Paman mengerti dengan apa yang aku utarakan. Dari sudut mataku, terlihat kalau Paman melirik ke arahku sejenak. Aku kemudian telungkup hingga separuh badanku menimpa tubuh Paman, dengan wajah tetap mengarah kepadanya, dan aku menatapnya dalam-dalam. Ia terlihat begitu gelisah.


"Apa Paman tidak tenang jika dekat denganku, karena Ibu bakalan pulang hari minggu ini?" tanyaku


"Begitulah!" ujar Paman.

__ADS_1


Hari minggu ini Ibu akan pulang, itu berarti Paman benar-benar akan menjaga jarak denganku. Aku sangat yakin, bagaimanapun caraku untuk menggodanya, dia akan tetap bertahan sekuat mungkin. Itu akan menjadi hari-hari terberatku di rumah ini, hanya bisa mencintai orang yang begitu dekat denganku, tapi tidak bisa aku gapai apalagi untuk memiliki. Lama aku diam dalam beban berat ini.


"Paman! Bisakah Paman berpura-pura menjadi pacarku sampai hari minggu ini?" Kami saling menatap, dalam hati berdoa semoga Paman menyetujui permintaanku, tapi lama menunggu tidak ada juga jawaban dari Paman.


"Jawab Paman, iya atau tidak. Kencani saja aku seperti pasangan normal pada umumnya. Belikan apa yang aku mau, atau kita duduk-duduk di taman, jalan-jalan entah kemana," ujarku lagi.


Paman menarik kepalaku ke dadanya, lalu mengusap pelan rambutku. "Aku tidak tau, apakah itu akan nyaman buatmu nanti, tapi โ€ฆ ayo kita pergi ke bioskop besok."


Aku bahagia mendengarnya, Paman setuju menjadi pacarku, walau hanya sementara. Tapi lebih baik daripada tidak sama sekali. Namun, aku mencoba untuk mendapatkan sesuatu yang lebih, mana tau nasibku mujur untuk saat ini.


"Dan yang lainโ€ฆ?"


"Lainnya! Apa kamu ingin melakukan yang lain?" tanya Paman, suaranya terdengar begitu pelan.


"Iya, aku ingin melakukan banyak hal bersama Paman. Berfoto, makan ice krim di taman, main petak umpet, main gunting kertas, pergi ke sauna dan terakhirโ€ฆ."


Kalimat terakhirku terhenti ketika melihat Paman sudah tidur, wajahnya terlihat begitu lelah. Cukup lama aku memandangi wajahnya, walau umurnya mendekati kepala lima, tapi ia masih terlihat tampan. Malam ini, Aku akan melakukannya, walau harus mencuri, karena selanjutnya dia tidak bisa lagi aku miliki, sebab ada Ibu yang akan berdiri di sisinya.


"Baik, tidurlah Paman! Karena kita akan melakukan seperti yang biasa dilakukan pasangan lainnya, malam ini."

__ADS_1


๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹


__ADS_2