I Love You Paman

I Love You Paman
BAB 36


__ADS_3

®®®®®®®®®®®®®®®®


"Aghh…. Kau mengagetkanku."


"Kau yang mengagetkanku,"


"Kau pelakor!" ejek Anggi.


"Apa kau bilang."


"Pelakor!"


"Kau yang pelakor," balas Liana tidak mau kalah karena dituduh pelakor.


Beberapa mahasiswa yang lewat, hanya menggeleng kepala melihat perdebatan mereka. Begitu juga dengan Jo, ketika ia melihat Anggi dan Liana bertengkar mulut, pemuda itu hanya menunduk sambil memegang kepalanya, karena merasa malu sendiri. Liana menyadari kalau Asraf melihat mereka bertengkar, tidak ingin mendapat image jelek dari sang gebetan, ia pun langsung menghindar dan pergi ke toilet.


Setelah kepergian Lain, Anggi segera  masuk ke dalam perpustakaan menghampiri Jo. Ia tidak ingin membuang kesempatan bagus, dan harus bergegas sebelum Liana kembali muncul untuk mengganggu. Anggi duduk tepat di hadapan pemuda tersebut, sambil bertopang dagu ia memandang Jo yang sedang membaca buku. Walaupun tidak mendapat tanggapan darii kedatangannya, gadis itu tidak peduli, yang penting baginya  ia tidak diusir oleh Jo.


Begitu juga sebaliknya dengan Jo, dia tentunya sadar dengan kedatangan Anggii, apalagi saat gadis itu duduk dihadapannya,  Ia merasa sangat senang, karena ia juga mengagumi Anggi. Namun, ia masih bingung untuk memulai percakapan dengan wanita cantik yang ada di depannya itu..

__ADS_1


"Hei…," sapa Anggi mecolek jemari Jo yang sedang memegang buku.


"Ya," sahut Jo senang, karena tanpa harus memulai ia bisa berbincang dengan Anggi.


Jo bukanlah pria pendiam, dia hanya sedikit mempunyai masalah ketika memulai dialog dengan seorang perempuan. Akan tetapi setelah percakapan dimulai, ia akan berubah menjadi pria yang mengasikkan bagi lawan bicaranya.


"Sepertinya kamu haus, minum dulu." ujar Jo saat melihat Anggii sedikit berkeringat, lalu menyodorkan air mineral.


"Makasih, aku memang haus." Anggi menyeka keringatnya dengan tangan, lalu meneguk minuman. "Aku tadi habis bertengkar dengan kucing liar, makanya aku berkeringat, dan tenggorokanku jadi sedikit kering," kilah Anggi menutupi kejadian yang sebenarnya.


"Kucing liar, ya! Sepertinya aku melihatnya," sahut Jo tersenyum tipis.


Jo  merasa senang melihat gadis di sampingnya itu tersipu malu, baginya raut seperti itu terlihat sangat imut, hingga ia tidak bisa berhenti menatapnya dengan senyum tipis. 


Lain halnya untuk Anggi, ia menjadi takut kalau pria idamannya menjadi ilfeel, karena telah melihat pertengkarannya dengan Liana. Untuk menutupi rasa malunya, Anggi kembali meneguk minuman yang diberikan Jo.


"Aku sudah memutuskan, akan ikut kemah liburan nanti!" ujar Jo tiba-tiba dengan  mata masih belum lepas dari wajah Anggi.


Berita yang disampaikan pemuda tersebut, hampir membuat Anggi tersedak, ia tidak menyangka kalau pria idamannya akan memutuskan untuk ikut kemah liburan nanti. Jika saja Anggi tidak berada di dalam perpustakaan, dia pasti akan berteriak karena terlalu senangnya. Bagaimana tidak, dari tadi dia memikirkan cara untuk membujuk Jo agar ikut kemah. Akan tetapi, sekarang  pria itu sendiri yang menyetujui untuk ikut tanpa harus dibujuk lagi.

__ADS_1


"Kenapa aku sangat bahagia melihat dia bahagia, ya. Terasa indah rasanya melihatnya seperti itu. Apakah dia seperti itu juga tentang aku?" batin Jo.


"Kamu serius, kan. Nggak bakalan bohong?" tanya Anggii antusias memastikan kalimat yang baru saja didengarnya.


Jo menjawab dengan mengangguk.


"Ok! Kalau begitu, siang ini kita makan bersama. Setuju?" ajak Anggi, dan sangat yakin kalau pemuda yang ada di hadapannya itu tidak akan menolak ajakannya lagi.


Jo melihat arlojinya, lalu berdiri dan berkata kepada Anggi. "Kebetulan, ini sudah waktunya jam makan siang. Ayo, biar aku yang traktir."


Betapa bahagianya Anggi, tanpa malu ia langsung menggandeng tangan Jo, dan mereka berjalan menuju kantin. Walau merasa canggung, Jo tetap membiarkan Anggi menggandengnya sepanjang jalan menuju kantin. Sesekali ia menunduk ketika matanya bersisian dengan mata mahasiswa lain yang menatap mereka dengan senyum selidik.


"Kamu malu kalau aku gandeng?" tanya Anggi setelah menyadari betapa kikuknya Jo berjalan dengannya.


"Bukan … bukan itu." ujarnya menjadi serba salah.


🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔


__ADS_1


dukung juga cerita ini


__ADS_2