
ππππππππππππ
Jantung Barno berdetak sangat kencang ketika lidah Mira hampir menyentuh bibirnya. Ia segera membuang wajahnya sebelum semuanya itu terjadi lagi.
"Apa kamu sudah makan? Soalnya aku juga belum!" ucap Barno untuk mengalihkan suasana.
"Belum, sih! Tapi, bagaimana kalau kita ciu-man dulu, setelah itu kita makan." Pantang putus harapan, Mira terus kekeh untuk bisa berci-uman dengan Barno.
Ingin menolak, tapi Baro berpikir ulang karena tidak ingin membuat Mira kesal lagi. Oleh sebab itu, ketika gadis itu semakin merapatkan tubuhnya, ia hanya diam dan tidak bergerak sedikitpun.
"Aku tidak tau apa yang paman pikirkan. Tapi ayolah, Paman! Lain waktu atau tidak ada sama sekali ciu-man, itu bukanlah sebuah pilihan, Paman! Jadi kamu tidak bisa memilih. Apalagi Ini hanya ciu-man keluarga." Mira meletakkan tangannya di dada Barno.
Hasrat tidak bisa berbohong ketika mata menginginkan untuk melihat sesuatu yang indah. Begitulah yang terjadi pada Barno saat matanya tertuju ke belahan pasyudhara Mira, ia hanya bisa terpaku ke satu titik itu saja. Sisa-sisa sensasi kenikmatan duniawi beberapa jam yang lalu, masih melekatΒ jelas di ingatannya, membuat dirinya tergoda untuk melanjutkan.
"Apakah kamu sudah siap Paman?" tanya Mira, suaranya sudah kembali serak menahan gejolak hatinya.
"Hmm!" Baro mengangguk pelan dan tidak lagi berpikir apakah itu salah satu tidak, ia hanya ingin memenuhi keinginan Mira serta keinginan hati kecilnya sendiri. "Kalau begitu, aku mulai," ucapnya pelan.
Untuk hari ini, Barno menekan egonya, dan mecoba untuk berpikir satu frekuensi bersama Mira.Β
__ADS_1
"Hmm!" sahut Mira, wajahnya tiba-tiba langsung merona. Namun, ia menjadi sedikit takut. Ciu-man kali ini pasti akan berbeda, bukan lagi sebuah ciu-man seorang pencuri.
Sekitar beberapa senti lagi hendak beradu, sejenak mata mereka saling pandang. Mencari sesuatu di balik pancaran mata masing-masing, minimal satu titik yang memancarkan sebuah perasaan yang sesungguhnya.Β
Darah Mira langsung berdesir ketika mereka mulai saling bersentuhan. Mira mersakan nikmat ketika Barno mulai meny**edot bybyr atasnya, berbeda ketika ia mencuri ciu**man waktu itu. Sensasi yang sekarang berbeda jauh, terasa begitu nikmat dan penuh dengan rasa. Dari ciu**mannya itu juga, Mira bisa merasakan bagaimana perasaan sang Paman kepadanya, cinta, kasih sayang, rindu, semua bisa ia rasakan dan tersampaikan ke dalam hatinya.
Cukup lama mereka berc**iuman, membuat Mira kehabisan napas dan harus melepaskan diri, wajahnya yang merona dan napas yang memburu, membuat Barno tersenyum, sehingga membuat Mira tersipu malu.
"Jangan lihat aku seperti itu, Paman!" ucap Mira mengalihkan wajahnya dari tatapan Barno.
"Baiklah kalau begitu. Kita sudahi sampai di sini. Semua yang aku lakukan hanya karena aku tidak mau melihatmu terluka. Ayo, kita makan dulu," ajak Barno.
"Aku hanya ingin makan," ucap Barno lagi, akalnya hampir hilang, ketika bagian bawahnya bergesekan di saat gadis itu naik kepangkuannya.
"Sebentar lagi, 10 menit saja. setelah itu kita makan setelah ciu**man," pinta Mira dan langsung merangkul leher Barno.
Suasana panas kembali terjadi dan membuat pria paruh baya itu tidak bisa mengelak, dan Mira begitu menikmati permainan tersebut. Mereka saling pyagyut, saling isap, saling bertukar liur dan saling mempermainkan lyyidah masing-masing. Mira juga dapat merasakan kalau tunggul Pamannya telah mengacung tepat di bibir goanya. Andai saja mereka tidak memakai celana, tentunya milik pamnnya akan menjebol per-awan Mira.
"Huahhβ¦."Β
__ADS_1
Mira kembali melepaskan ciu**mannya untuk mengambil napas, ia tidak sanggup mengimbangi daya tahan napas pamannya yang begitu panjang. Apalagi saat merasakan sensasi ketika tuas milik Barno mengganjal di bibir bawahnya, membuat Mira semakin sesak untuk bernapas. Mira terlihat tersenyum puas setelah menyeka air liur yang menetes di sela bibirnya dengan lengan bajunya.
"Hah β¦ hah β¦ kenapa?" tanya Barno, napasnya juga memburu.
"Hehehehe β¦ tidak apa-apa Paman! Yuk, lanjut?" Mira kembali ******* bibir Tono dan lidahnya bermain di dalam mulut Pamannya itu dengan liar.Β
Mira yang telah diselimuti keinginan yang begitu kuat, mengharapakan lebih dari sekedar pertempuran ciu**man. Pinggulnya mulai melakukan pergerakan, sehingga gesekan antara dua senjata rahasia mereka semakin terasa nyata.
Tiba-tiba Barno melepaskan wajahnya, karena merasa takut tidak bisa mengontrol dirinya lagi. Gesekan yang dilakukan Mira telah membangkitkan sesuatu yang bahaya dalam dirinya.
"Ini bahaya. Jika dilanjutkan, aku bisa kehilangan akal sehat," batin Barno. Sepertinya masih ada tersisa rasa takut di hatinya untuk melanjutkan pertempuran ke jenjang selanjutnya.
"Ada Paman?" tanya Mira.
"Ini sudah jam berapa? Aku sudah sangat lapar, aku mau makan," ucap Barno memberi alasan.
Mira memegang kedua pipi Pamannya itu, seraya tersenyum senang ia berkata, "selapar apa kamu Paman? Ayolah! Lanjut 10 menit lagi."
"Mira! Kita sudah ber ciu man hampir setengah jam." Barno berusaha mengingatkan.
__ADS_1
ππππππππππππ