
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
"Aghhh…. Sakit! Kamu ini sangat menyebalkan. Pergilah mandi, habis itu langsung tidur!" Mira berdiri dan bergegas meninggalkan Anggi.
"Eh, tunggu! Aku ingin memberitahumu apa yang terjadi pada kami." Anggi tidak kalah cepat, gadis itu segera bangun untuk mengejar sebelum Mira menutup pintu.
"Apa yang kamu lakukan?" Mira menoleh kebelakang ketika bajunya ditarik.
"Sebentar saja. Dengarkan dulu ceritaku," pinta Anggi kesal karena tangannya ditepis, ia pun berusaha menarik gagang pintu ketika Mira hendak menutup pintu kamar dari luar.
BRAK!
Pintu tertutup dengan sangat keras. Anggi yang berada dalam kamar, sangat kesal karena Mira menolak untuk mendengarkan curhatan hatinya yang lagi berbunga-bunga. Setiap apapun masalahnya, baik sedih atau senang, Anggi akan selalu membaginya dengan Mira, tapi kali gadis itu menolak.
"Mira sialan!" teriak Anggi dari dalam kamar.
__ADS_1
Mira hanya tersenyum simpul, ia lebih memilih untuk melanjutkan kegiatannya untuk menggoda Pamannya, dibandingkan untuk mendengar curhatan Anggi yang hanya akan menambah panas hatinya, karena ia tahu cerita yang akan didengarnya, pasti hanya berkutat tentang keromantisan mereka. Apalagi Mira tidak tau setelah ini, kapan lagi dia bisa untuk menggoda Barno, karena hari ini atau esok ia akan pergi menjauh.
"Huff. Aku benar-benar takut tadi." ucap Mira sambil menghempaskan tubuh di samping Barno yang sedang duduk di sofa sambil membaca koran.
Barno melipat koran dan meletakkan di atas meja, ia pun tersenyum memandang Mira.
"Ada apa Paman, kenapa kamu melihatku seperti itu? Oh, ya. Gimana kalau kita lanjutkan permainan tadi?" Mira mendekatkan wajahnya, membuat Barno tercekat, ia tidak menyangka kalau Mira akan kumat lagi ketika Anggi ada di rumah.
"A–apa! Jangan, Mir. Anggi sudah pulang, nan….?"
Kata-kata Barno terputus ketika bibir Mira tanpa aba-aba langsung menempel di bibirnya. Barno berusaha menjauh, tapi Mira dengan kuat merangkul lehernya.
KREEEKKK!
Terdengar suara pintu terbuka, mereka langsung kaget dan segera menghentikan permainan, karena mereka menyadari kalau Anggi pasti akan keluar dari kamarnya. Mira segera berbaring agar tidak kelihatan oleh Anggi, dan beruntung apa yang mereka lakukan tidak sempat terlihat, karena posisi gadis itu berada di belakang sofa dan cukup jauh.
__ADS_1
"Ayah. Apa kamu punya pakaian kotor untuk dicuci, biar sekalian aku ambilkan," teriak Anggi yang keluar dari kamar dengan membawa pakaian kotornya.
"Biara ayah saja nanti yang mencucinya," sahut Barno dengan cepat.
"Baiklah!" Mira pun beranjak menuju kamar mandi.
Setelah yakin kalau Anggi sudah berada di dalam kamar mandi, Mira langsung bangun menyambar bibir Barno lagi, dan melu—-matnya penuh nap—su, kali ini Mira berhasil memasukkan lidahnya dengan aman.
Sedangkan di kamar mandi. Di bawah air shower, Anggi menyangga tubuhnya yang condong ke depan menggunakan sebelah tangan yang menempel di dinding, dengan kepala tertunduk ia teringat setiap kejadian yang dialaminya bersama Jo, perse—-tubuhan yang begitu ganas dan penuh cinta.
"Kenapa aku nggak bisa melupakan kejadian itu. Kalau seperti ini terus, bisa-bisa nap—suku muncul. Ah, sial!" gumamnya sambil mencolek bagian bawahnya "Tuh, kan! Sudah basah lagi."
Cairan kental menempel di jari Anggi setelah mencolek miliknya yang di bawah. Bayangan adegan panas antara dirinya dan Jo membuat bira—hinya perlahan muncul. Akibatnya, naluri menuntun tangannya untuk turun ke bawah, dimana bagian sensit—--ifnya berada.
Hampir sepuluh menit Anggi berada dalam kamar mandi, dan menuntaskan bira—-hinya yang muncul akibat bayangan adegan panas bersama Jo. Setiap bagian tubuhnya yang sensitif tidak pernah luput dari sentuhannya, semua ia lakukan dan nikmati agar bira—--hinya terpuaskan.
__ADS_1
Begitu juga dengan Mira yang berada di ruang tamu, ia sudah duduk di pangkuan Barno, dan terus mencium bibir pamannya itu. Goyangan pinggulnya semakin liar di atas pangkuan Tono, Beruntung mereka masih mengenakan pakaian lengkap, baik bagian bawah maupun atas. Jadi tidak yang namanya main tusuk-tusukan.
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥