
Jangan lupa dukungannya.
Dan juga mohon di ingatkan kalau ada typo atau kalimat yang membingungkan.
πππππππππππππ
Belum hilang rasa kagetnya ketika Anggi ingin mencoba pakaian renang, kini Jo melihat sebungkus ****** di dalam paket kardus tersebut. Pikirannya pun langsung melayang entah kemana.
"Bang Jo, apa yang kamu pikirkan? cepat sana mandi dan ganti pakaianmu, nanti kamu bisa masuk angin." Anggi mengingatkan ketika menyadari kalau Jo terpaku dengan ****** tersebut.
Mata Jo langsung melebar ketika menoleh ke arah Anggi yang hanya mengenakan lilitan handuk. Pasyudhara, paha putih dan halus, Itu adalah salah satu pemandangan yang cukup langka bagi Jo. Sebagai lelaki normal, keseksian yang ditampilkan Anggi, membuat jakunnya naik turun. Apalagi saat Anggi membungkuk untuk mengambil sesuatu dari dalam kardus, membuat mata Asraf mampu melihat pinggulnya yang polos terbalut segitiga berwarna putih .
"Ke β¦ ke β¦ kenapa kamu berpakaian seperti itu." Jo langsung menjadi gagap.
"Kenapa, bajuku basah semua, aku tidak punya baju pilihan lain. Lagian aku pakai dalaman?"
"Tidak ada bedanya kamu berpakaian atau tidak," ujar Jo memalingkan wajahnya ke tempat lain, ia sudah tidak sanggup berlama-lama memandangi kemolekan tubuh Anggi.
"Kenapa kamu jadi takut gitu, melihatku. Sana cepat mandi!" pinta Anggi tersenyum tipis.
.
__ADS_1
.
.
.
.
POV MIRA
************
Hujan mulai turun rintik-rintik hari ini, mudah-mudahan rencana yang kususun untuk Anggi tidak gagal, dan semoga mereka bisa berduaan, serta melakukan yang harus di lakukan untuk mempererat hati mereka. Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk membantunya mendapatkan pria idamannya itu. Aku yakin, sekarang mereka pasti sedang Pak-Pak.Β
Sudah hampir 20 menit aku berdiri di halte menunggu hujan reda setelah turun dari bus, yang tidak jauh dari komplek perumahan tempat aku tinggal.Β Namun, hujan tidak kunjung berhenti, aku pun memutuskan untuk menerobos hujan, berlari menuju rumah. Basah kuyup semua sudah bajuku. Saat melewati satpam, dengan kedua tanganku menutupi bagian pasyudhara yang tembus pandang agar tidak terlihat.
Sekitar seratus meter lagi mendekati rumah. Aku ragu untuk melanjutkan langkahku, di bawah guyuran hujan aku berdiri dan menadahkan kepalaku ke atas. Dengan mata terpejam, kubiarkan tetes hujan menyapu wajahku.
Aku sungguh kebingungan saat ini. Hati terasa sakit setelah mengetahui sesuatu mengenai Paman. Akan tetapi, di satu sisi hati ini terasa lebih sakit untuk mengikuti keinginan agar menjauhinya.
Tidak ada yang bisa aku salahkan dari kejadian ini. Semua memiliki hak dan keputusan untuk menentukan arah perjalan cinta setiap manusia, terlepas apapun itu caranya.
__ADS_1
Ahβ¦. Sakit, galau, bingung. Lengkap sudah yang aku alami hari ini di bawah hujan yang semakin deras. Kakiku terasa berat untuk melangkah.
Sialan. Apa aku harus mengalah kepada mereka? Apa aku harus diam untuk mereka? Atau aku harus tetap seperti kemarin, tidak peduli siapa lawan dan siapa kawan, apa aku harus menerjang untuk obsesi ini.
Rasa dingin di tubuhku karena terlalu lama berdiri di bawah hujan, membuatku tersadar. Aku berjalan gontai menuju rumah, sambil berteriak dalam hati. Ibu, aku akan berjuang sebelum mendengarkan penjelasan dari mulut paman sendiri.
Aku pun langsung menuju rumah Paman, ingin melihat, apa yang akan dilakukannyaΒ jika melihat kondisiku seperti ini, apa dia akan khawatir atau tidak. Ketika aku membuka pintu, Paman sudah berdiri tepat di hadapanku, aku tidak tau kenapa ia bisa tepat berdiri di hadapanku ketika pintu terbuka.Β Kupalingkan wajah ketika mata kami beradu, walaupun sebenarnya mata ini sangat ingin melihat wajahnya.
"Tunggu di sini!" ujar Paman, ia pun pergi dan kemudian kembali dengan membawa handuk dan mulai mengeringkan tubuhku.
Kejadian ini mengingatkan tentang beberapa bulan yang lalu, saat itu aku pulang lebih awal dari kampus. Setelah selesai mandi, aku lupa membawa handuk, dengan terpaksa aku pun keluar dengan rambut basah dan juga menggunakan pakaian bekas.Β
Ketika Paman melihat seperti itu, ia pun menyuruhku untuk menunggu di dapur, agar semua lantai tidak basah. Saat itu ia juga mengeringkan rambutku yang basah. Aku mengira Paman akan mengambil inisiatif untuk menggerayangi tubuhku, tapi itu tidak terjadi.
Hari ini aku tidak akan berbicara buruk pada Paman, tapi aku sangat berharap, ia akan memaksa untuk menyerahkan akal sehatku padanya, jika itu terjadi, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.
Mungkin aku sudah gila dengan obsesi ini. Terserahlah, sejak kecil sampai sekarang, dia yang selalu mengisi kekosongan kasih sayang dalam hidupku, dia yang selama ini bersabar dari setiap kenakalanku, dia yang selama ini berusaha keras agar aku bisa tersenyum dan tertawa setiap hari.
Tuhan, apa aku salah jika mengabaikan adab dan norma yang ada untuk mendapatkannya. Jika memang salah, kenapa aku harus diberikan hati untuk merasa? Kenapa tidak dimatikan saja perasaan ini? Atau kenapa dia dihadirkan dalam keterpurukan kasih sayang yang selama ini ku alami.
Aku melanggar semua adab dan norma yang ada hanya untuk hidup damai dan bahagia, bukan untuk sejengkal perut atau materi.
__ADS_1
ππππππππβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈ