
®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®
POV MIRA
**"*********
Anggi sudah terlelap. Sedangkan aku masih terjaga dengan pikiran terombang-ambing. Setelah berdamai dengan Paman, beberapa kejadian panas kami lewati bersama selama satu beberapa hari ini. Ciuman, jiylathan, bahkan remasan demi remasan telah kami lakukan.
Tentu saja aku sangat senang, karena Paman meladeni setiap mauku, tapi aku selalu merasa tidak puas, apalagi ketika Paman selalu bertahan jika aku ingin melanjutkan permainan ke jenjang yang lebih panas, membuatku menjadi galau kuadrat.
Jika seperti ini terus, aku bisa menjadi gila, apalagi level kami sudah mulai naik, bukan lagi level paling bawah ketika tubuh kami bersentuhan. Bahkan bukan itu saja, tanganku juga sudah merasakan betapa hangatnya milik Paman.
"Skenario ini sudah lama aku lakukan. mungkin, aku bisa membuat semua terjadi malam ini, tidak perlu ragu lagi, bahkan jika harus menjual jiwaku pada Paman. Itu tidaklah buruk demi mengurungnya ke dalam pelukanku"
Aku memutuskan untuk keluar dari kamar menuju kamar Paman untuk menyelinap masuk. Malam ini, aku akan merenggut pertahan Paman yang telah di jaganya begitu lama. Apapun yang terjadi, tidak peduli jika nanti dia terbangun, aku akan tetap menurunkan celananya.
__ADS_1
Tapi….
"Sial! Dia mengunci kamarnya."
Aku benar-benar kesal, Paman tidak pernah sekalipun mengunci kamarnya, tapi sekarang, tumben-tumbennya dia melakukan itu.
"Paman. Buka pintunya Paman. Jangan main-main denganku, aku bisa ciuman sepanjang malam, cepat buka pintunya!" hardikku dengan suara tertahan, takut kalau suaraku dikeraskan akan membuat Anggi terbangun
Kembali aku memanggil dengan suara pelan. Lalu terdengar dari dalam kamarnya suara grasak-grusuk, dan aku yakin itu menandakan kalau Paman masih belum tidur. Sepertinya dia memang mau menghindar dariku.
Aku memungut memory card tersebut. Tersenyum setelah menebak kalau isi memory card tersebut, salah koleksi 80k3p Paman. Aku yakin, setelah aku menghapus koleksinya tersebut, pasti dia akan mencari tempat penyimpanan lain.
"Cih, lihat saja, bagaimanapun paman menyembunyikan koleksi tabu itu, pasti akan ketahuan juga sama aku."
Kembali ke kamar Anggi untuk menyimpan memory card yang aku temukan, setelah itu kembali menuju kamar Paman. Lama aku diam memandangi pintu kamar yang terkunci, perlahan aku mengetuk dan memanggil Paman. Hampir 15 menit tak kunjung juga ada sahutan dari dalam. Aku pun memutuskan kembali ke kamar Anggi dengan perasaan kesal.
__ADS_1
.
.
®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®
.
POV 3
"""""""
Siang hari yang begitu cerah, hari ini Anggi dan Mira tidak ada mata kuliah. Tapi cuaca cerah tidak secerah di dalam rumah. Suasananya sudah seperti wahana hantu, tidak ada yang tau kenapa hari ini Mira begitu pendiam. Bahkan ketika Barno menawarkan sup ikan, Mira masih saja diam, walau dia tetap memakan sup tersebut.
Barno hanya bisa menebak sikap Mira tersebut pasti karena kejadian tadi malam. Namun otaknya membantah, karena tadi pagi suasana hati Mira masih terlihat biasa-biasa saja, bahkan mereka masih sempat berinteraksi layaknya tidak terjadi apa-apa.
__ADS_1
Terus menebak-menebak dan tidak mendapatkan petunjuk, Barno pun cuek saja dengan sikap Mira tersebut. Berbeda dengan Anggi yang merasa ada keanehan sikap di antara dua manusia yang berada disekitarnya itu, ia berpikir kalau ayahnya dan Mira telah kembali bertengkar.