
Dua hari telah berlalu semenjak insiden drama penamparan. Mira benar-benar menjaga jarak dengan Barno, tapi bukan berarti gadis itu tidak datang berkunjung ke rumahnya. Mira tetap datang dan bahkan menginap di rumah Barno.
Sama halnya pagi ini. Mira, Anggi dan juga Barno sedang sarapan. Namun, tidak ada percakapan yang terjadi antara Mira dan Barno. Suasana di antara mereka berdua, benar-benar seperti aura perang dingin. Sesekali lirikan tajam menyeramkan terpancar dari sudut mata Mira. Begitu juga dengan Barno yang masih saja memasang wajah dingin dengan guratan sangat dalam di keningnya.
"Huff. Lebih enak ternyata sarapan di kuburan daripada di rumah sendiri." Anggi memutar bola matanya sambil menyuap nasi ke dalam mulut.
"Namanya juga makan sama mayat hidup," celoteh Mira santai.
Menghela napas pelan, Barno meneguk minumannya setelah menyelesaikan suapan terakhirnya. "Orggh … ahhh! Kenyang juga. Mayat hidup ini mau tidur lagi. Kalian beresin meja nanti!"
Menggeleng kepala, hanya itu yang bisa dilakukan Anggi melihat tingkah Mira dan Ayahnya. Ia pun beranjak masuk kedalam kamar meninggalkan Mira sendirian.
"Sial. Kenapa jadi begini, sih? Apa harus aku lagi yang lebih duluan mengalah. Ahh, Paman. Apa sih susahnya minta maaf kepadaku."
Mira menunduk dan memegangi kepalanya sendiri. Pusing dan bingung harus berbuat apa menghadapi sikap Barno. Menunggu, tapi entah sampai kapan. Ingin lebih dulu mengalah, malu sama sabun colek yang lebih dahulu membersihkan noda membandel.
Dalam keadaan bimbang dengan kepala tertunduk, ketika Mira terus menimbang, meresapi dan ingin memutuskan sesuatu. Dibalik sebuah pintu kamar, sepasang mata memperhatikan Mira dengan sebuah senyum kecil.
Setelah merapikan meja makan dari piring kotor, Mira kemudian menuju kamar Anggi, lalu bediri di depan pintu.
"Gi. Tungguin aku ya, kita sama-sama berangkat." Tidak menunggu sahutan dari Anggi, Mira langsung pergi pulang untuk mengganti pakaian.
Mira membuka pintu rumah, dan melihat Tiara sedang santai duduk menonton sebuah acara televisi di ruang tengah.
"Pagi anak gadis ibu," sapa Tiara dengan ekspresi bahagia.
"Pagi juga. Ibu nggak kerja?" tanya Mira.
__ADS_1
"Mir, Nanti malam ibu berangkat keluar kota. Minggu malam Ibu baru pulang. Kamu jaga rumah, ya. Jangan ribut sama Ayahnya Anggi, jangan buat dia kewalahan menjaga kamu, lebih penurut lah sedikit. Bagaimanapun, dia itu sangat menyayangi kamu sebagai putrinya."
"Iya," jawabnya malas, lalu masuk kedalam kamar.
**
**
**
**
**
Pukul 10:13 WIB
Barno:
"Apa dia masih marah juga?"
Anggi:
"aku nggak tau. Lebih baik. Ayah saja yang menyelidikinya, jangan bertanya samaku. Aku sudah sangat pusing dengan ujian, jangan tambah lagi dengan urusan kalian berdua. Kalian itu sudah bukan anak kecil, yang satu sudah punya uban, yang satu sudah bisa punya anak. Selesaikan sendiri masalah kalian."
Anggi yang terus berjalan menyusuri koridor kampus sambil menelepon. Tanpa disadarinya melewati Jo yang berdiri menunggu dan memperhatikan dirinya. Anggi terus berjalan dengan langkah panjang, sampai akhirnya ia berbelok ke arah kanan dan menghilang.
Sudah lama Jo menunggu Anggi, karena ada sesuatu yang ingin disampaikannya. Namun, melihat sikap Anggi yang tidak seperti biasanya, Jo pun mengurungkan niatnya, dan hanya bisa menatap punggung gadis itu hingga menghilang dari pandangannya.
__ADS_1
"Aku ingin ngobrol, tapi malah bingung mau ngapain. Huff, beginilah menatapku jika berhadapan dengan perempuan. Lebih aku pergi ke perpustakaan saja.!"
Baru beberapa langkah, Jo langsung tersentak ketika menyadari Mira berdiri tidak jauh dari tempatnya, dan menatap ke arahnya dengan tatapan mengerikan.
"Beruntung aku menemukanmu di sini senior," ucap Mira sopan, tapi raut wajahnya tidak ada sopan-sopannya.
Melihat gelagat Mira, Jo hanya bisa menggaruk belakang kepalanya. "Ada apa?"
Mira meraih tangan Jo, lalu meletakkan sebuah buku dengan kasar di atas telapak tangan pemuda itu. "Aku tau kau nulis novel di Platform, dan aku juga tau kalau novelmu itu mangkrak beberapa bulan ini. Semoga buku ini bisa memberikan inspirasi buat melanjutkan novelmu itu."
Walau sedikit kaget, dan tidak menyangka jika Mira mengetahui pekerjaan sampingannya itu. Jo membuka buku tersebut, dan melihat beberapa plot yang sudah ditulis tangan oleh Mira.
"Tolong habiskan waktumu dengan Anggi. Aku tidak ingin ada kata tidak dari mulutmu." Mira mendekati Jo, sehingga mereka begitu sangat dekat. Dengan raut wajah sangar, Mira kemudian berkata, "Apa kau dengar?"
"Tidak sia-sia aku menatapnya selama ini, sampai aku bisa menemukan kelemahannya yang begitu somplak. Dasar Jo. Badan aja yang besar, tapi kalau sudah berurusan dengan cewek langsung lemah." batin Mira tertawa senang.
"Ngomong-ngomong. Anggi pergi ke arah mana tadi?" tanya Mira lag, dan dijawab oleh Jo menunjuk ke arah perginya Anggi.
"Terima kasih!" bentak Mira dan pergi meninggalkan Jo begitu saja.
..
..
..
..
__ADS_1