
💪💪💪💪💪💪💪
"Kamu begitu haus, sampai tidak menyisakan untukku," ujar Baro, lalu kembali ke dapur untuk mengambil sebotol lagi. Lalu ia kembali dan duduk di samping Mira.
"Maaf, Paman, aku kehausan tadi, sampai lupa menyisakan untuk Paman," ujar Mira sambil tersenyum tipis.
"Tidak apa-apa." Barno membuka penutup botol air tersebut, lalu meneguk tanpa mulutnya menyentuh bibir botol.
Ide jahil Mira seketika itu juga muncul ketika melihat pamannya sedang minum. Karena jarak antara mulut Paman dan bibir botol ada jarak. Ia pun langsung menjulurkan lidahnya, sehingga air mineral itu, duluan jatuh menimpa lidah Mira sebelum masuk kedalam mulut Barno Alhasil membuat Pamannya itu tersedak.
"Uhuk … uhuk…. Apa-apaan sih Mira!" seru Barno kesal.
Melihat Barno tersedak, Mira bukannya merasa bersalah, ia malah tertawa terbahak-bahak hingga perutnya terasa sakit. Ia juga tertawa hingga terbaring di atas paha Barno. Namun, hal bodoh terjadi ketika Mira tertawa dengan kepala menggeleng ke kanan dan kekiri, tanpa sengaja matanya bertabrakan dengan batang besar Barno yang masih tegang.
"Auww…. Sakit," jerit Mira ketika matanya kecolok batang Barno yang masih tegak di dalam celana, dan ia pun langsung duduk sambil mengucek matanya yang sakit.
"Kamu tidak apa-apa Mira?" tanya Barno meringis, karena merasa sakit di bagian bagian bawahnya.
"Tidak apa-apa Paman," jawab Mira, lalu ia memukul pelan batang Barno berulang kali, dan kemudian meremasnya sambil membentak. "Ini semua salahnya, dasar benda tidak berguna. Lain yang diinginkan lain pula yang di colok."
__ADS_1
"Hei, apa yang kamu lakukan, itu sakit, tau! Singkirkan tanganmu." Barno langsung menangkap lengan Mira, untuk menyelamatkan adik kecilnya dari siksaan.
Akan tetapi, karena yang dipegang Barno adalah lengan dan tidak menyingkirkannya dari atas sela kedua pahanya, membuat pergelangan tangan Mira masih bisa bergerak dengan bebas, dan langsung masuk kedalam celana kolo****rnya. Mira berhasil menggenggam batang Barno dan mengeluarkan dari sarangnya.
"Paman…. Paman…!" seru Mira senang seperti anak kecil dengan suara men***de-sah. Ia perlahan mendekati wajah Barno, semakin lama semakin mendekat. Tangan Mira yang sudah menggenggam bagian bawah sana, mulai beraksi dengan mengurut secara perlahan.Â
"Shhhh…. Huffff! Mira, ini sudah hampir sore, sampai sekarang kita belum makan. Aku sangat lapar!" Barno berusaha mengelak dengan kata-kata, bukan dengan sebuah perbuatan.
BRUK!
Mira tidak menghiraukan ocehan Pamannya itu, dan ia langsung mendorong tubuh Barno hingga ambruk. Secepat yang ia mampu langsung mencium bibir Barno. Tangannya juga mulai aktif mengurut benda yang begitu besar, hangat dan kenyal di bawah sana.
****
****
Hari sudah mulai senja, Anggi baru saja pulang setelah jalan-jalan bersama Jo di sebuah Mall terbesar. Baru saja ia hendak masuk ke dalam rumah, Jo menelepon. Suara percakapannya, telah membuat dua orang di dalam apartemen menjadi panik.
"Aahhhh.... Sial! Itu suara Anggi," gumam Barno bersamaan dengan cairan kentalnya yang menyembur ke wajah Mira, bahan mengenai bibit manis gadis ituÂ
__ADS_1
"Pueehhhh." Mira melepehkan cairan yang yang menempel di bibirnya.
"Bersihkan rambutmu, itu terlihat acak-acakan, dan kamu juga terlihat seperti hantu." Barno dengan cepat merangkak menuju kamarnya. "Bajumu juga, rapikan segera."
"Iya, benar. Kamu nggak usah bawa apa-apa…. Ok. Sampai jumpa besok." Terdengar lagi suara Anggi yang sudah membuka pintu rumah.
Saat Anggi sudah mulai melangkah masuk, Mira sudah duduk di sofa seperti patung dalam keremangan, dan mengatur napas agar normal kembali. Lain halnya dengan Barno, ketika Anggi sudah masuk, ia langsung tiarap di belakang sofa, tidak sempat masuk kedalam kamar.
"Apa tidak ada orang disini? Ayah kemana, ya," gumam Anggi ketika melihat rumah dalam keadaan redup tanpa cahaya lampu, ia pun membuka sepatu. Lalu…. "Astaga!"Â
Anggi kaget melihat Mira ketika ia sudah menyalakan lampu.
"Kamu kenapa sih duduk sepeti mayat hidup gitu. Aku kaget, tau!" bentak Anggi
Kebingungan melanda Mira, ia tidak tau harus berbuat apa ketika menyadari, kalau Barno bersembunyi di belakang sofa. Apalagi saat Anggi sudah duduk di sampingnya, dan bertanya tentang keberadaan ayahnya. Mira pun semakin bingung.
Tidak ada cara lain lagi, Mira langsung merangkul leher Anggi agar tidak celingukan kesana-kemari. Bahkan Mira menekan leher gadis itu kebawah hingga menunduk. Lalu ia memberi kode kepada Barno untuk segera pindah dari persembunyian.
🤧🤧🤧🤧🤧🤧🤧
__ADS_1