I Love You Paman

I Love You Paman
BAB 37


__ADS_3

πŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺ


Setelah satu menit Tiara meninggalkan ruang, Barno yang masih dalam keadaan polos dibagian bawahnya, Mendengar suara pintu rumahnya di buka oleh seseorang, ia mengira kalau Tiara kembali lagi karena kemungkinan wanita itu telah melupakan sesuatu.Β 


Dengan malas ia beranjak menemui orang tersebut. Akan tetapi, Barno kemudian sadar ketika berada di dekat pintu, ada beberapa kemunginan lagi orang yang akan datang ke rumahnya di jam begini, kalau bukan Anggi, pasti Mira. Akan tetapi, sudah terlambat bagi Barno menyadari semuanya, karena Mira sudah membuka pintu dan berdiri di hadapannya dengan mata melotot.


Tentu saja Mira melotot. Semua itu terjadi karena Barno muncul di hadapan tanpa mengenakan pakaian selembar pakaian di bawahnya. Membuat mercun pria itu terlihat jelas.


Otak mes-**-um Mira pun langsung bekerja cepat. Ia mengambil ponsel dari dalam tasnya, berniat untuk memotret momen langka tersebut. Akan tetapi, ia kalah cepat, sebelum sempat memotret, Barno telah berhasil merampas ponselnya.


"Hmmm … terlambat!" ujar Barno sinis.

__ADS_1


"Tidak buruk juga gerakanmu, Paman," balas Mira dengan sinis juga.


"Diam di situ!" perintah Tono, lalu ia pergi ke kamarnya untuk memakai pakaian. Setelah itu ia muncul lagi dan mengembalikanΒ  ponsel milik Mira. "Masuklah!" Barno kemudian duduk di sofa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Mira masih berdiri di sana, dan masih bingung dengan apa yang akan dilakukan selanjutnya. Memutuskan untuk berjalan ke rak buku kecil dan berpura-pura mencari buku, sembari memikirkan kalimat yang tepat untuk permintaan maafnya. Ia terus berdiri di depan rak buku dan memperhatikan Barno lewat lirikan.Β 


Ketika Barno melihatnya dan mata mereka beradu, gadis itu langsung melihat ke langit-langit rumah sambil bersiul, dan meletakkan tangannya di dalam satu buku.


"Gaya rambut kau bagus juga," puji Barno mencoba mencairkan suasana yang kaku. "Kemarilah, duduk di sini." Menepuk dudukan sofa di sampingnya, memberi tanda kepada Mira.


Perlahan Mira berjalan mendekat, dan sengaja duduk sangat rapat dengan Pamannya itu, hingga bahu mereka dempet. Namun, gadis itu masih berlagak cuek dengan memalingkan wajahnya. Dalam hati, Barno hanya bisa tertawa melihat tingkah Mira yang menurutnya, seperti seorang anak kecil yang telah ketahuan berbuat nakal oleh orang tuanya.

__ADS_1


"Jika dilihat-lihat, dia sangat cantik dan dewasa. Ehh, tapi. Kenapa dia memakai pakaian sekolah SMA? Apa ini maksudnya. Apa dia mau mengingatkan lengan kami sewaktu dia sekolah dulu. Gadis kecil yang selalu bermanja denganku. Hmmmm," batin Barno.


"Aish…. Apa yang baru saja aku pikirkan," gumam Baro, dan suaranya terdengar oleh Mira.


"Ada apa Paman?" tanya Mira dan memutar tubuhnya semakin mepet ke Barno, sehingga kedua pasyudyara kenyalnya menempel di lengan kekar pria itu.


"Hei, geser dikit, kenapa kamu menempel seperti itu," geram Barno karena merasa risih dengan situasi tersebut.


Merasa kalau dirinya dimarahi, Mira berpura-pura sedih dengan memasang wajah menahan tangis. Ia juga membuat gerakan dengan meletakkan kedua lengan di atas wajahnya. Sangat persis seperti anak kecil yang sedang menangis karena tidak diberi jajan oleh bapaknya.


Tentu saja Baro tidak bisa tertipu dengan muslihat kecil Mira. "Hentikan. Aku tidak pernah melihatmu menangis seperti itu," ucap Barno mendengus.

__ADS_1


πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡


__ADS_2