Ibu Pengganti Untuk Zahra

Ibu Pengganti Untuk Zahra
11


__ADS_3

"Mama apa sih, emang nggak ada kerjaan juga." kata Rama.


"Coba aja nanti Mama tanya sama Papa, palingan kamu bolos kerja." Mama Rita masih tak percaya.


"Serah Mama deh kalau nggak percaya," Rama terlihat sebal sedangkan Laras hanya terkekeh memandangi ibu dan anak yang saling mengoda itu.


"Yaya sama Ante Ayas dulu ya, om mau ganti baju dulu." Kata Rama memberikan Zahra pada Laras.


"Oke Om."


Setelah Rama naik keatas, Rita juga beranjak dari duduknya.


"Mama juga mau siapin makan siang, yukk kita ke meja makan aja, udah mateng paling makan siangnya." kata Rita.


"Ya udah Ma," Laras ikut berajak mengendong Zahra menuju meja makan.


Tak berapa lama semua sudah berkumpul dimeja makan.


"Lo kok Yaya nggak mamam?" tanya Rama melihat Zahra yang tidak mau saat Laras akan menyuapinya.


"Yaya kenyang Om ganteng." jawab Zahra.


"Abis makan donat ya jadi nggak mau makan nasi." kata Rita.


"Iya Mah, mungkin udah kenyang makan donat tadi." Laras ikut menimpali.


Sungguh adem rasanya hati Rama melihat gadis pujaann nya yang begitu telaten dan sabar mengurus anak. Andai saja mereka menikah dan mempunyai Anak pasti rasanya akan seperti ini, bahagia.


"Malah melamun sih, katanya laper?" tanya Mama melihat Rama hanya diam menatap Laras dan Zahra secara bergantian.


"Mamah apaan sih." kesal Rama karena Mama membuyarkan lamunan Rama.


Mereka pun segera menikmati makan siang buatan asisten rumah tangga dirumah Rama karena Rita sang Mama sedari tadi sibuk membuat donat jadi tak sempat memasak.


Selesai makan siang, Rama, mama, Laras dan Zahra kembali keruang keluarga.

__ADS_1


Mama asik mengobrol dengan Laras, Sedangkan Rama asik mengajak Zahra main puzzle.


"Yeee, udah jadi punya Yaya." kata Zahra senang karena berhasil memasang puzzlenya.


"Wah, Yaya pinter yaa, sini Om cium dulu." kata Rama mencium pipi Zahra gemas.


Laras yang melihat keakraban Zahra dan Rama tak menyangka jika seorang Rama yang biasanya Dingin dan Cuek bisa seakrab itu dengan Zahra yang notaben nya anak kecil.


"Gimana Ram? seneng kan kalau ada anak kecil dirumah?" tanya Mama tiba tiba.


"Apa sih Ma, nggak usah mulai deh." kata Rama yang sudah paham dengan arah pembicaraan sang Mama.


"Mama juga pengen kali segera punya cucu biar kalau dirumah ada temen nya nggak sepi." kata Rita.


"Ya udah suruh adek nikah dulu sana." kata Rama.


"Heh jangan sembarangan kamu, adek kamu masih kuliah, harusnya kamu itu yang buruan nikah." kata Mama.


"Nanti lah Mah, nunggu ada yang mau dulu sama Rama," kata Rama sambil melirik kearah Laras sedangkan Laras malah terlihat kikuk merasa nggak nyaman.


"Duh kenapa pada natap Mama gitu, kan mama jadi takut." goda Mama lagi yang membuat Laras dan Rama membuang muka bersamaan.


"Mama nggak usah bercanda deh, nggak lucu tau." kata Rama kesal.


"Yaya, Oma mau ngasih makan ikan, Yaya ikut nggak?" ajak Rita pada Zahra, tak mengubris ucapan Rama yang tengah kesal padanya.


"Mauuu Omaa." Zahra langsung berteriak girang dan mengangkat tangan nya meminta gendong Rita, segera Rita mengapai tubuh Zahra meninggalkan Rama dan Laras yang masih duduk.


"Sorry ya Ras, kalau kamu ngerasa nggak nyaman sama omongannya Mama." kata Rama merasa tak enak.


Laras sendiri juga bingung harus menanggapi bagaimana tentang keluarga Rama yang akhir akhir ini seperti menyindirnya agar segera menikah dengan Rama.


"Nggak masalah juga sih Ram.." kata Laras sedikit ragu. "Apa kamu nggak ada rencana buat nurutin keluarga kamu?" tanya Laras.


"Kamu udah mau sama aku?" Rama malah balik bertanya.

__ADS_1


"Haaa?"


"Kalau kamu udah mau, ayo kita nikah, tapi kalau kamu masih nggak mau ya aku bakal nunggu sampai kamu mau." kata Rama membuat Laras benar benar terkejut.


"Ram aku.-"


"Aku nggak maksa kamu buat segera nikah sama aku Ras, aku memang nggak bisa nikah sama wanita lain selain kamu, apa kamu masih meragukan perasaan aku buat kamu selama ini?" tanya Rama.


"Eng-enggak gitu maksud aku, Tapi kamu tau kan keluarga kamu udah pada pengen kamu nikah." kata Laras.


"Keluarga aku pengen nya aku nikah sama kamu dan aku pun juga gitu, mau berapa tahun lagi pun aku bakal tetep nungguin kamu, sama kayak waktu pertama aku nembak kamu dulu, aku bakalan tetep nunggu dan berusaha sampai kamu mau sama aku, entah berapa lama lagi aku nggak peduli, jadi jangan maksa aku buat nikah sama wanita lain karena aku nggak akan mau." jelas Rama.


"Tunggu sampai mbak Naya bangun,'' jawab Laras seketika membuat Rama menatap Laras tajam mencari kebenaran dari ucapan Laras.


"Maksud kamu?" tanya Rama meminta penjelasan.


"Tunggu sampai mbak Naya bangun dan kita nikah, kamu tau kan aku masih harus jadi ibu sementara buat Yaya, aku masih belum bisa ninggalin Yaya, aku mohon kamu ngerti." kata Laras pada Rama.


Raut wajah Rama terlihat bahagia, setelah sekian lama menunggu akhirnya Ia sudah mendapatkan jawaban meskipun masih harus menunggu Naya sadar tapi setidaknya Ia memiliki kepastian dari harapan yang Ia tunggu selama ini.


"Makasih Ras, makasih kamu mau ngasih aku kesempatan, aku janji akan selalu bahagiakan kamu." kata Rama langsung memeluk tubuh Laras.


Laras ikut bahagia saat melihat Rama bahagia, mau bagaimana pun selama ini hanya Rama yang selalu ada untuknya disaat Laras senang ataupun sedih kini tiba saatnya Laras memberikan jawaban untuk Rama.


Lagipula setelah Naya sadar semua perjanjian dengan Dion hilang jadi waktunya untuk Naya melupakan Dion dan mencari kebahagiaan untuknya sendiri. dan Rama juga tak mengetahui perjanjian itu, Laras juga tak berniat memberitahu Rama perihal pernikahan sementara itu.


"Ciee... baru juga ditinggal sebentar udah peluk pelukan aja nih." kata Rita yang baru saja masuk membuat Laras dan Rama terkejut dan merasa tak enak.


"Kenapa kalian diem? pasti ada sesuatu deh." goda Mamah Rita.


"Mamah apa sih, aku masih marah ya sama Mama." kata Rama kesal karena Mama mengodanya terus.


"Ups, oke deh mama keluar lagi aja, lagian Zahra nggak mau diajak masuk, kalian terusin lagi deh pelukan nya, mama nggak akan ganggu." kekeh Rita langsung berlari keluar sebelum Rama semakin kesal.


Kini Rama dan Laras terlihat saling kikkuk karena ketauan telah berpelukan didepan mama Rita apalagi Laras yang wajahnya memerah malu saat Mama Rita menggodanya tadi membuat Rama semakin merasa bersalah.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2